💠 32 💠

3.6K 148 27
                                        

Satu minggu yang lalu, Sandra dinyatakan meninggal oleh dokter yang menanganinya. Hidup Arvin pun kini berbeda. Perusahaannya semakin menurun karena Arvin banyak pikiran. Apalagi sekarang Arvin tengah membesarkan anak pertamanya.

Valdesta Fatnon Mixcel. Anak dari Sandra dan Arvin. Yang sekarang tengah digendong oleh Fita. Sejak kejadian satu minggu yang lalu, Fita selalu mengurusi bayi Arvin dan Sandra, itu juga karena keinginan Sandra saat kehilangan nyawanya.

FLASBACK ON.

Dokter yang tengah menangani pasien itu berlarian ke sana kemari. Arvin mengacak rambutnya frustasi, entah kenapa rasanya sulit untuk melihat kejadian yang kini terjadi.

“Tuan, kita harus segera menjalankan operasi. Nyawa Nyonya Sandra tidak akan lama lagi.”

“Apa maksud Dokter? Istri saya tidak akan kenapa-napa. Cepat lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya!” bentak Arvin menahan isak tangisnya yang akan keluar.

“Vin ... A-aku nggak kuat ... Selamatkan anakku ... Urus dia .... Sa------.”

Titttt .....

Mesin EKG berbunyi nyaring, sontak saja semua keluarganya langsung berlarian masuk ke ruangan Sandra. Mereka kaget bukan main, apalagi saat Dokter sudah menggeleng-gelengkan kepalanya membuat semua orang yang berada di sana tidak percaya.

“Maaf Tuan .... Nyonya Sandra sudah tiada,” lirih Dokter tersebut menundukkan kepalanya.

Arvin melebarkan matanya. Ia langsung memeluk tubuh istrinya erat. Menangis sejadi-jadinya disana. “NGGAK! KAMU JANGAN TINGGALIN AKU SAND! AKU JANJI AKAN MENCINTAI KAMU! AKU AKAN BELAJAR MENYAYANGI KAMU! MAAFKAN AKU SAND!”

Dokter itu mengecek denyut nadi Sandra yang sudah tidak terasa. Lalu mengecek perut Sandra yang buncit itu. “B-bayi nya masih hidup!”

Arvin mendongakkan kepalanya. “Kenapa kalian diam saja! Cepat keluarkan anak saya dari perut-----.”

“Tenang Tuan, akan kami lakukan. Kau tunggu saja diluar. Maaf,” ucap Dokter tersebut mendorong Arvin agar tetap keluar.

Arvin berjalan keluar dengan langkah kaki gontai. Dira langsung memeluk Arvin erat. “Kamu yang sabar Vin, kamu jangan seperti ini, Sandra ingin kamu menjadi Ayah untuk anak kalian dengan baik. Jangan seperti ini.”

Arvin termenung di hadapan Dira. Menatap lorong yang berada di hadapannya dengan tatapan kosong. Tak lama kemudian keluarga Sandra pun datang, mereka tak henti-hentinya menyalahkan Arvin karena tidak bisa melindungi istrinya.

Tiga hari kemudian, perusahaan Arvin goyah karena bosnya yang terus saja membatalkan meeting dengan rekan-rekan kerjanya. Untuk sementara waktu Fita yang memegang perusahaan Arvin. Sedangkan laki-laki itu hanya diam dan tidak menyahuti siapapun yang memanggilnya.

Hingga keesokan harinya Arvin tidak sengaja melihat buku diary Sandra. Namun anehnya, buku itu terdapat di kamar Fita. Dengan diam-diam Arvin mengambil buku tersebut dan membawanya ke meja kerja.

Dear diary.

Aku nggak nyangka, hidup aku akan seperti ini, sejak kecil hingga dewasa aku mencintai satu laki-laki. Dia adalah Arvan, lelaki dingin, cuek, dan pemarah. Aku sayang banget sama dia.

Suatu hari nanti aku dan Arvan akan melaksanakan pesta. Hanya pesta kecil-kecilan. Ya itu mensive kita yang ke-16 pacaran. Aku sangat senang ... Namun tanpa aku sangka. Malam itu kami mengalami kecelakaan.

Entah satu tahun atau setengah tahun. Kita sama-sama tidak ketemu. Semua orang bilang Arvan sudah mati. Namun nyatanya tidak sama sekali. Dulu aku tidak mengerti kenapa Arvan yang kini berbeda.

ARVIN [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang