💠 28 💠

2.8K 148 3
                                        

Seorang aktris papan atas dan seorang aktor terkenal sedang berjalan menyusuri jalanan, satu jam yang lalu mereka sudah sampai ke negera mereka. Negara mana lagi kalau bukan negara Indonesia. Azhar dan Fita saling berfoto satu sama lain, menghabiskan waktu di bandara bersama-sama.

Mereka sengaja memakai kaca mata hitam dan jaket tebal. Tujuannya hanya satu, mereka takut ada wartawan dadakan yang menyerbu mereka. Walaupun kedatangan mereka secara mendadak dan tidak diketahui orang lain, tapi tetap saja mereka harus waspada bukan?

Fita menurunkan kaca mata hitamnya. “Sepertinya mobilku sudah sampai. Aku pergi duluan ya.”

Saat Fita melangkah, tiba-tiba Azhar menahannya. “Aku ikut denganmu ya. Kau tau kan, aku masih baru disini, mana mungkin aku langsung kenal daerah sini, dan juga aku harus mencari alamat kedua orang tuaku yang entah dimana mereka.”

Fita tampak menimang-nimang ucapan Azhar, melihat dari wajahnya yang konyol sudah membuat Fita gemas. “Owuhh begitu rupanya. Ya sudah, ikut aku aja ... Ayok!”

Azhar bersorak gembira. Ini hal yang langka untuk mereka, bisa berdekatan dengan Fita tidak cukup mudah untuknya. Boleh kalian ketahui, selama ini Azhar menyimpan perasaan kepada aktris tercantik itu. Namun ia belum berani mengungkapkan perasaannya karena takut Fita akan menolaknya secara mentah-mentah.

“Apa rumahmu masih jauh?” tanya Azhar memainkan handphonenya.

Fita menoleh ke arah rekan bisnisnya, sekaligus pasangannya di dunia sinetron. “Sebentar lagi kita akan sampai.”

Azhar menganggukkan kepalanya, lalu ia memperhatikan Fita yang tengah sibuk dengan laptopnya. Azhar diam-diam mengintip, lalu ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Selain seorang aktris terkenal, kamu juga seorang pengusaha hebat. Aku baru tahu kalau perusahaan Company Mixcel adalah milikmu. Setahuku perusahaan itu sudah mengembangkan bisnis dimana-mana.”

Fita tersenyum simpul. “Company Mixcel adalah belahan dari Mixcel Group. Aku sebagai anak angkatnya hanya menjalani usaha Ayah. Lagian saudara-saudara tiriku semuanya pengusaha sukses. Bahkan adik tiriku yang perempuan pun sudah sukses menjalani model.”

Azhar menatap Fita tersanjung. Jujur saja ini pertama kalinya Azhar dan Fita saling bercakap-cakap lama. Bahkan sedari di pesawat pun mereka mengobrol layaknya sahabat yang akrab. Azhar sangat-sangat berterimakasih atas momen mengejutkan ini.

“Fit, aku ingin menanyakan sesuatu sejak lama. Tapi aku takut, kamu akan----.”

“Tanyakan saja Azhar, pasti aku jawab, kok.” Potong Fita menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil.

Azhar menatap tajam ke arah sopir yang sedari tadi mencuri-curi pandang kepada Fita. Azhar menghela nafas panjang. “Apa kamu mempunyai pacar? Maksudku----.”

“Sepertinya kita sudah sampai. Pak! Berhenti di depan sana,” ucap Fita memotong ucapan Azhar.

Sedangkan laki-laki itu mengerucut bibirnya kesal. Tak lama kemudian akhirnya Fita sampai di kediaman Mixcel. Azhar tercengang melihat bangunan kokoh yang berada di hadapannya, sungguh indah dan megah. Fita tersenyum, lalu menarik tangan Azhar agar keluar bersamanya.

“Tolong bawa barang-barang saya, masuk,” ucap Fita yang di angguki beberapa pelayan yang menyambutnya.

Fita mengenggam tangan Azhar memasuki rumah megahnya. Semua para bodyguard serta pelayan yang berada di rumahnya memberikan hormat. Fita dan Azhar hanya bisa tersenyum simpul, lalu mereka berjalan ke ruang keluarga yang terlihat ramai akan keluarganya.

“BUNDA! AYAH!” teriak Fita langsung memeluk tubuh kedua orang tua angkatnya dengan erat.

Mereka semua yang berada di ruangan itu tercengang kaget. Jujur saja mereka tidak tahu Fita akan pulang ke Indonesia, Dira mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu menepuk-nepuk pipinya agar tersadar dari lamunannya.

“Jangan bilang ini mimpi. Ayah! Ini beneran Fita kan?” tanya Dira masih tidak percaya.

Galuh yang berada di sebelahnya pun menganggukkan kepalanya kaku. “Ini beneran Fita, Bund.”

“AAAAA SAYANG! BUNDA KANGEN BANGET!” teriak Dira memeluk tubuh Fita erat.

Fita pun memeluk tubuh Dira tak kalah erat. Fita sampai menangis karena kelewat rindu dengan Bunda angkatnya itu. Begitupun dengan Galuh yang menangis karena terharu akan kedatangan anak angkatnya secara tiba-tiba seperti itu.

Bersamaan dengan Fita yang melepaskan pelukannya, Arvin dan Sandra keluar dari kamarnya. Mereka sama-sama terkejut dengan kedatangan Fita. Arvin mengepal tangannya saat menyadari Fita tidak datang sendirian. Sandra dengan Arvin berjalan mendekati mereka.

“Fit ... Sejak kapan kamu disini?” tanya Arvin kaku.

Fita tersenyum simpul. “Baru dateng, maaf kak, tahun lalu aku nggak bisa pulang untuk menghadiri pernikahan kalian. Dan emmm kayaknya aku ngelewatin waktu banyak.“

Arvin tersenyum kecut. “Nggak papa, nggak masalah juga.”

Tatapan Fita jatuh kepada Sandra yang tengah mengelus-elus perutnya. “Wah Sandra, kamu lagi hamil, gila! Besar banget perutnya. Berapa bulan nih?"

Mendengar teriakan Fita yang heboh membuat Dira tertawa renyah. Dira menepuk pundak Fita sambil tersenyum. “Sudah menginjak delapan bulan. Mungkin dia akan lahir sebulan lagi.”

Fita tersenyum sumringah, ia memegangi perut Sandra lalu tertawa pelan. “Astaga aku nggak nyangka banget bisa lihat Sandra hamil kayak gini.”

Sandra tersenyum pedih. “Kamu sih nggak pernah pulang, jadi lupa kan sama keluarga. Emmm ngomong-ngomong siapa yang dibelakang kamu?”

Fita menoleh ke belakang dan terlihatlah Azhar yang tersenyum lebar ke arah mereka. Fita menepuk jidatnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ahh iya, aku lupa sama dia. Azhar, sini!”

Azhar yang merasa dirinya dipanggil pun segera mendekat. Azhar mengulurkan tangannya bersalaman dengan Dira dan Galuh. “Kenalin Om, Tan. Aku Azhar, temen Fita sekaligus aktor yang sekarang berakting menjadi kekasih Fita.”

Fita tersenyum malu-malu kala melihat wajah kedua orang tuanya yang cengo seperti itu. Dira membulatkan matanya lebar-lebar. “What! Demi apa!”

“KAMU AZHAR! AKTOR ... AKTOR CAKEP ITU!” Heboh Dira memegangi kedua pipi Azhar.

Fita cekikikan melihat wajah Dira yang syok dan senang, serta terkejut dengan waktu yang bersamaan. Sedangkan Galuh dan Arvin mendengus sebal, wajah Azhar sudah tidak diragukan lagi, selain mapan, pintar, dan tampan. Azhar juga seorang lelaki handal dalam memikat seorang wanita.

Terlihat dari beberapa film yang pernah dia filmkan, serta beberapa majalah yang tersebar dimana-mana, sudah pasti kalau Azhar tipikal cowok yang disenangi banyak orang, salah satunya Dira sendiri.

“Ihhh Bunda, jangan terlalu deket-deket sama Azhar napa. Aku kan juga mau deket-deket sama Bunda, di pegang-pegang pipinya gitu juga.”

Galuh tertawa melihat Fita yang seperti itu. “Ya udah sini sama Ayah aja.”

Arvin yang melihat itupun hanya bisa mendengus sebal. Tangannya kini terkepal kuat, namun tangan Sandra mengelus-elus tangannya membuat Arvin membuang wajahnya ke arah lain.

“Kamu jangan cemburu sama mereka, kamu harus sadar. Aku lebih cemburu lihat tatapan kamu ke Fita. Itu membuat hatiku terasa tersayat.”

Arvin tertegun sejenak. Ia menepis tangan Sandra kasar, sambil mengucapkan. “Jangan bertingkah bodoh di depan mereka, Sandra.”

Sandra tersenyum kecut, kemudian berbisik. “Nyatanya, kamu sendiri yang bertingkah bodoh di hadapan mereka.”

=================================

Bersambung ...

ARVIN [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang