💠 23 💠

2.4K 150 10
                                        

Sesuai yang dijanjikan kemaren, sekarang Arvan dan Sandra sedang berjalan-jalan menyusuri pantai. Awalnya mereka akan pergi ke Gramedia mengantar Sandra membeli buku, namun sepertinya Sandra kurang bersamangat untuk memilih-milih buku kesuksesannya. Jadi Arvan berinisiatif untuk membawa Sandra ke pantai.

“Habis pulang dari sini, kamu mau cuci darah?” tanya Sandra menatap Arvan sendu. Lalu pandangannya ia buang ke arah pantai yang indah.

Arvan tersenyum tipis menanggapinya. “Iya, dan kamu, pasti akan temenin aku 'kan?”

Sandra mengangguk. Kemudian ia menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. “Sampai kapan kamu kayak gini Van? Jujur aja aku udah capek denger kamu ngeluh dengan umur kamu. Dan aku mohon, untuk sekarang ini, kamu jangan membicarakan tentang usia.”

Arvan meringis mendengarnya. Memang kalau Sandra sudah menanyakan itu, pasti Arvan akan melanjutkan ucapannya. Entah itu menitipkan Sandra kepada adiknya, atau menutup usianya yang sebentar lagi akan hilang.

“Memang itu kenyataannya. Maaf, kalau semisalnya aku nggak ada disisi kamu lagi, kamu harus janji. Kamu akan selalu bersama Arvin, karena hanya dia yang aku percayai saat ini.”

Sandra terdiam sejenak. Bagaimana bisa ia bersama Arvin, kalau lelaki itu saja mencintai orang lain. Sandra menghela nafas panjang, mungkin ia harus latihan untuk menerima kenyataan.

“Kenapa aku harus dititipin sama Arvin, kenapa aku nggak----.”

“Karena hanya Arvin yang aku percayai, aku ingin kamu mendapatkan pasangan yang baik.” ucap Arvan mendekap tubuh Sandra erat.

Tapi Arvin tidak sebaik apa yang kamu pikirkan, batin Sandra.

******

Arvin mengintip dibalik pintu, memperhatikan Fita yang sedang membuat sesuatu sendirian. Kedua orangtuanya sedang tidak ada di rumah, sedangkan Arlina dan Alvin pergi ke sekolah untuk kegiatan Pramuka, kalau Arvan dan Sandra tidak mungkin kalian bertanya, sebab mereka sedang berduaan kemanapun dan dimanapun.

Dan sekarang tinggalah Fita dengan Arvin di rumah besarnya. Masakan Fita tercium sangat menggiurkan di hidung Arvin, apalagi kalau memakannya, baru menciumnya saja sudah bikin Arvin terlena.

Fita seperti kesusahan saat memasak, bayangkan saja satu tangannya ia membolak-balikkan gorengan, sedangkan satu tangannya ia gunakan untuk memotong dan mengambil bahan-bahan yang lainnya.

“Awwhgh!” teriak Fita saat tangannya tidak sengaja terkupas hingga mengeluarkan darah segar dari jari telunjuknya.

Karena kaget, refleks Arvin mendekat ke arah Fita. Melihat darah yang berceceran di lantai, pandangan Arvin tertuju pada jari telunjuk Fita. Dengan cepat Arvin melumat jari telunjuk tersebut, menghisap darah itu agar tidak keluar lagi. Terlihat jelas dibibir Arvin ada bercak darah milik Fita.

“Makanya hati-hati kalau masak. Masih sakit nggak?” tanya Arvin khawatir.

Fita menahan tawanya agar tidak pecah. Tangannya terulur untuk mengusap darah yang berada di sudut bibir Arvin. “Nggak, kok. Udah nggak sakit, thanks ya.”

Setelah itu Fita melanjutkan memasaknya. Arvin yang melihat itupun rasanya tidak tega, tanpa diminta oleh Fita, sekarang Arvin sudah memegangi spatula, guna membantu Fita memasak.

“Eh, lo duduk aja. Biar gue aja yang masak,” ucap Fita melarang Arvin agar menghentikan aktivitasnya.

Arvin menggeleng-gelengkan kepalanya. “Gue bantuin. Lagian gue lihat, tangan lo yang satunya masih sakit. Nggak bisa masak bener.”

ARVIN [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang