Membohongi Perasaan

106 1 0
                                        

Aku memang bukanlah perempuan sempurna. Aku hanya orang biasa di antara orang orang yang mempunyai kelebihan di bandingkan diriku. Tapi bukankah sama? semua orang pasti ingin di cintai bukan? semua orang pasti bahagia jika orang yang ia sayang menyayangi nya kembali?. tapi apakkah nasib ku akan sama dengan pikiranku bahwa aku akan mendapatkan cintanya? apakah aku harus tetap berjuang? tapi bukan kah aku yang selalu berjuang untuk mempertahankan semuanya? Mengapa aku tak pernah merasakan apa rasanya di perjuangkan? 

aku tak pernah menunjuk kan bahwa aku berharap lebih padanya karena aku tau aku hanyalah perempuan biasa diantara semua pengagum "perempuan" nya. Aku bukanlah perempuan yang ia inginkan aku hanyalah seorang sahabat yang mungkin di butuhkan atau bahkan tidak di butuhkan? Aku selalu harus terus menebak dengan semua keadaan. Aku harus selalu menerka nerka dengan apa yang akan terjadi. Jujur dia adalah salah satu lelaki yang sulit untuk di tebak apalagi ia mempunyai sifat ganda yang mungkin tak ada seorang pun tau selain aku.

Aku tak pernah merasakan rasanya kehilangan seperti ini. Aku tak pernah merasakan rasanya sakit hati seperih ini. Aku terus menanyakan apakah harus cinta ku ini berlabuh pada sahabat ku sendiri? Aku tak pernah menyangka bahwa dia adalah perlabuhan yang akan aku labuhi. 

-saat di sekolah- 

Tak sengaja aku berjumpa dengannya. Tatapan nya seperti orang yang tak mempunyai kesalahan atau dosa karena telah menelantarkan ku seperti ikan di biarkan di daratan. Aku tak tau apa yang harus ku katakan. Tatapan matanya membuat ku menghentikan langkahku. Ingin sekali aku berteriak di depan wajahnya, "KENAPA SIH LO NINGGALIN GW GAK ADA KABAR?! EMANG LO UDAH GAK MAU SAHABATAN SAMA GW LAGI?" 

Sungguh ia sangat amat aneh. Ia masih terlihat menganggap semuanya sama. Ia masih seperti menganggap jika keadaan kita berdua masih sama. Apa ia tak bisa merasakan bahwa hubungan kita seperti di ujung tanduk. Dimana jika salah satu kita tersandung dan menyerah kita akan jatuh dan tak akan pernah bisa bersama lagi?. Tatapannya masih sama. Tatapan yang tak bisa ku jelaskan dan tak ada satu orang pun mengerti akan tatapan kita berdua. Jujur, aku juga membalas tatapannya sama seperti biasa karena aku takut. Takut jika aku langsung bertindak terlalu berbeda ia akan merasa bahwa aku bergantung pada dirinya. Tatapan yang kurang lebih untuk "meledek" satu sama lain membuat kita tertawa untuk beberapa detik. Sungguh, senyumnya, tawanya tak berubah. Hiasan terindah di wajahnya masih bisa membuat ku tersenyum juga.

Entah apa yang membuat ku tertawa. Bukan karena tatapan anehnya tetapi aku merasakan bahwa aku bahagia jika ia bahagia. Aku senang bila ia senang...  

Aku melanjutkan untuk menuju ruang kelasku untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya . Selama pelajaran otak ku terus berlari kesana kesini. Terus berfikir apakah ia tak mempunyai perasaan? atau....? aku terus menanyakan hatiku yang tak karuan tapi tak satu pun pertanyaan itu bisa aku jawab. Tak satupun kebenaran terungkap. Semuanya terus menghantui pikiranku. Semuanya membebani otakku yang rasanya sebentar lagi akan pecah. Semua tentangnya membuat ku terlalu tertekan dan tak tau arah. 

Dan aku bertanya kepada diriku... 

"Akankah aku terus membohongi perasaan ku yang tak akan pernah bisa berbohong?" 

Love Between FriendshipCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang