ZEINARA ANASTASYA RAQUEENCY

103 74 77
                                        

[TYPO BERTEBARAN]

Zeina membuka matanya perlahan dan melirik jam digital yang  terpasang didinding kamarnya. Jam enam lebih dua menit, itu yang tertera disana. Zeina hanya menatap jam digital berwarna hitam itu dengan tenang, sembari mengumpulkan jiwanya.

Hari ini dia sangat malas untuk bersiap kesekolah, yang ingin dia lakukan hanya tidur. Mengapa tidak? Awan diluar sana tampak mendung, udara dingin mulai berterbangan kemana-mana, seakan mendukungnya untuk tetap diranjang memakai selimut hangat dan kasur empuk yang terus menggodanya.

Tok tok tok

Suara ketukan dari arah pintu coklat terdengar nyaring hingga memberhentikan lamunan Zeina.

"Zein.. bangun.. hari ini upacara.." Ucap seorang wanita dari balik pintu.

"Upacara? Yess" Batinnya seraya mengguling-gulingkan tubuhnya diranjang berwarna biru tua miliknya.

Sungguh Zeina sangat bahagia hari ini. Mengapa tidak? Cuaca diluar sana menjukan tanda-tanda akan hujan deras beberapa menit lagi, dan otomatis upacara pasti ditiadakan. Itulah yang menjadi alasan Zeina bahagia pagi ini, namun disisi lain dia juga tak suka karena harus hujan-hujanan nantinya.

Zeina menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan. Okey, Zeina sekarang sudah menjadi dirinya lagi. Dia bangkit dari kasur queen sizenya dan merapihkannya. Entah lah dia sangat bersemangat detik ini. Selanjutnya gadis itu masuk kekamar mandi dan menyiapkan dirinya.

Tap tap tap

Zeina menuruni tangga coklat yang terbuat dari kayu dan mengahasilkan suara yang cukup nyaring. Zeina berhenti saat mencium aroma yang sangat dia kenal. Matanya terbuka dan suara langkah yang tadinya terdengar pelan kini terdengar seperti gemuruh dari arah tangga. Ternyata bukan hanya Zeina saja yang berlari, Celin, dan Arga juga tampak mengekorinya dari belakang. Suara riuh itu berhenti, mereka sudah sampai dilantai bawah, tebih tepatnya dapur.

"OMAYGATT!! NASI GORENG BUNDA!!" Teriak Celin setelah sampai di dapur dan langsung menempati salah satu kursi di meja makannya.

"YANG DIMASAK DENGAN PENUH CINTA!" Sambung Arga yang kini telah menempati kusi disebelah Celin.

"DAN DISAJIKAN DENGAN PENUH SAYANG!" Lanjut Zein dengan semangat dan langsung menempati kursinya yang berada di seberang Celin.

Celin Anansya Shamilla. Adik pertama Zeina yang juga adik kelasnya. Dia kelas 1 SMA sedangakan Zeina kelas 2. Memiliki wajah yang tak kalah cantik dari Zeina dan selalu menyaingi Zeina meski selalu di anggap angin yang lawat saja oleh Zeina.

Argantara Fahrazan Aldikta. Adik kedua Zeina yang memiliki rupa yang sangat ganteng pokoknya. Tak mau kalah, sudah menjadi sifatnya yang paling mencolok. Dia baru menduduki kelas 3 SMP. Yup, keluarga ini anak yang hanya selang setahun bedanya.

"HAHAHAHA" Tawa dua orang yang tengah memasak didapur dengan kencangnya, melihat tingkah ketiga orang yang sudah mengenakan seragam sekolahnya.

"Kalian kenapa sih?? Sapa pagi dulu kek" Ucap Dinar meletakan sebakul nasi goreng diatas meja makan berwarna hitam.

"Pagi semua" Sahut Zaina dengan nada malasnya.

Cekrekk cekrekk

Celin memoto nasi goreng yang baru saja mendarat di piring putihnya, begitupun dengan Arga. Tak mau kalah, Arga memosting sarapan paginya itu kemedsos. Dan membuat Celin geram tentunya, dia paling tak suka jika ada orang yang menjiplak mau itu kegiatannya, tingkahnya atau apapun itu.

"Copas!" Desis Celin pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, namun terdengar hingga satu ruangan itu.

"Bodo amat" Jawab Arga yang juga memainkan ponselnya. Zeina dan yang lain hanya membuang nafas panjang, mereka tau itu akan terjadi.

Duarrrr

Kilatan petir menyambar dan disusul oleh suara gunturan yang cukup besar. Seluruh orang yang ada diruangan sangat kaget, untuk tak ada yang mempunyai riwayat jantung. Lampu padam seketika membuat semua yang ada diruangan itu ketakutan.

"EMAKK!!" Teriak Celin sangat nyaring seraya menutup matanya dnegan kedua telapak tangannya hingga ponselnya terjatuh kelantai.

"ASTAGA!!" Teriak Dinar tak kalah nyaringnya dengan Celin seraya memelototkan matanya hingga matanya ingin keluar dari tempatnya.

"Innalillahi" Cetus Bi Ima dengan tenang sambil mengusap pelan dadanya.

"MANG TOTO ENTAR UTANGNYA ARGA BAYAR!!" Teriak Arga yang kini tengah berjongkok dikursinya sambil mengunyah nasi goreng yang tadi belum sempat dia masukan kedalam medsosnya, petir lebih dulu mengagetkannya hingga dia mengurungkan niatnya.

"Astagfirullah, heh apa-apaan sih kalian" Sahut Zeina mengarahkan senternya pada orang-orang yang ada disana.

"HAHAHAHAHAH" Dia tertawa lepas saat senternya berhenti pada Arga disebrangnya hingga tak terasa lampu menyala kembali.

"Ngik.. HAHAHA Ngik.." Celin pun ikut tertawa ngikngik melihat Arga.

"Bunda juga apaan sih teriak kayak abis kecopetan duit seratus juta aja" Ledek Zeina dilanjutkan dengan tawaan seluruh penghiuni rumah.

Hantu termasuk gak kak? Mungkin hehe

Dua puluh menit berlalu. Waktu sudah menunjukan pukul enam lebih empat puluh menit.

"Zeina pamit ya Bunda, Bi" Ucapnya sambil mencium punggung tangan kedua orang yang tengah menghabiskan sarapannya.

"Hati-hati ya" Ucap Dinar mencium puncak kepala Zeina.

Jujur Zeina tak suka itu, tapi apa yang enggak buat kesayangan.

"Heh gorila kesetanan cepet dikit napa, entar ujannya gede lagi!" Titah Zeina menatap kedua orang yang tengah memainkan ponselnya dengan tenang.

Mendengar ucapan Zeina, kedua orang itu pun tak terima.

"Karpet!" Sahut Arga dari tempatnya menatal kakaknya tajam.

"HEH!" Ucap Dinar memelototi ketiga anaknya yang membuat mereka kicep dan menurut saja.

"Ya abis mereka pada kayak teriak gorila kesetanan" Ujar Zeina tersenyum menahan tawa. "Bunda juga" lanjutnya sebelum kabur meninggalkan keempat orang yang masih ditempatnya.

"ZEINARA!!" Ucap Dinar yang ingin teriak sebenarnya, tapi karena dimulutnya ada nasi goreng yang dibuatnya tadi, dia jadi tak bisa berteriak, tapi jujur saja Dinar malu sekali saat itu.

****
TBC
.
.
.
VOTE
KOMEN
FOLLOW IG||@rvlnans_12
THANKS

CHANGE [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang