[TYPO BERTEBARAN]
"Abangg bangunn!!" Teriak Chika dengan sangat nyaring, sesekali dia memukul tubuh abangnya itu dengan guling.
"Bentar lagi, akhh!" Desir Vino kesal seraya menaikan selimutnya sampai atas kepalanya. Udara hari ini sangat dingin, itu karena Chika menaikan suhu AC di kamar abangnya menjadi full. Ya, full ditambah dengan udara dari luar, Chika sengaja membuka jendela kamar Vino agar terdengar suara berisik karena diluar hujan. Tapi itu tak berdampak sama sekali untuk Vino. Dia masih tenang dengan tidurnya.
"Dasar kebo!" Ledeknya tapi tetap saja Vino tak merespon Chika sama sekali.
Chika Ivory Lavendra. Adik perempuan Vino satu-satunya yang sangat perhatian pada Vino, begitupun sebalinya. Masih menduduki kelas 1 SMA lebih tepatnya teman sekelas Celin. Yup, berbeda satu tahun, lagi hehe.
"Abang ihh, nanti telatt!!" Teriak Chika yang mulai mengeluarkan air mata.
"Abangg! Hiks..." Isaknya mulai terdengar.
Mendengar itu pun Vino segera bangun dari kasurnya yang sudah sangat berantakan dan menghampiri Chika yang sedang tersedu di lantai sambil melipat kakinya dan menenggelamkan wajah dalam lipatan tangannya.
"Ehhh jangan nagis, Chikaa heh" Ujar Vino yang baru saja bangun dari kasurnya didepan Chika seraya memegang tangan adiknya.
"Ishhh!" Ucapnya melepas paksa genggaman tangan abangannya dan langsung pergi meninggalkan Vino, dengan air matanya yang terus mengalir.
Vino hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia berjalan menuju ranjangnya yang sudah berantakan dipenuhi dengan benda-benda yang tak seharusnya disitu. Chika akan melakukan apapun untuk membangunkan abangnya itu, dia tak ingin dicap menjadi murid tak disiplin disekolahnya. Jika saja dia bisa menyetir kendaraan sendiri, dia mungkin tak perlu membangunkan kebo tidur itu.
"Gayung, hadir pak, Sapu, hadir pak, pulpen, hadir, bantal sofa, hadir, gunting, dateng, buku, disini pak" Ucap Vino berhenti mengabsen benda-benda diatas kasurnya, karena harus mengambil sebuah buku yang berada diujung kasur lebih tepatnya pojok kasur.
"Penghapus papan tulis, lah kemana dia?" Tanya mencari benda itu, sesekali dia menempelkan kepalanya pada lantai. Dan sampailah dia pada pandangar terakhirnya, dua buah kaki berkulit putih yang sudah tak asing dimata Vino. Sontak dia langsung bangkit dan menatap wanita paruh baya didepannya.
"Ngapain kamu!?"Tanya wanita itu melotot seraya memegang sebuah penghapus papan tulis yang sedang dicari oleh Vino.
"C-Cari kunci" Ucap Vino berbohong dan mengalihkan pandangannya seolah sedang mencari sesuatu.
"Kamu apain adek kamu? Hah?!" Tanyanya dengan nada yang mulai membesar dan membuat Vino terbungkam ditempatnya.
"Gak diapa-apain" Jawab Vino dengam tatapan dinginnya.
"Boong tu!" Sahut Chika yang ternyata ada didepan pintu, yang mendapatkan tatapan tajam Vino.
"Kenapa dia nangis?" Tanyanya lagi dengan suara yang merendah.
"Tau, Tanya dianya aja lah Vino mau mandi, bye!" Vino menunjukan kissbyenya dan langsung lari kearah kamar mandi yang sudah tersedia dikamarnya.
"Heh!! Jaw-" Ucapan wanita itu terpotong.
"Mau ikut mandi?" Tanya Vino yang baru saja ingin membuka pintu kamar mandi.
"Ihhh kamu ya!" Teriak wanita itu seraya melempar benda-benda yang ada diatas kasur lebih tepatnya benda-benda yang sedang diparihkan oleh Vino tadi. Untungnya Vino sudah lebih dulu menutup pintu kamar mandinya.
Repotnyaa~
"Ehh Vino sarapan dulu!!" Titah Ghina saat melihat Vino yang langsung mencium punggung tangannya tiba-tiba. Ghina, wanita yang tadi datang kekamar Vino dn membuat keributan tak berpaedah dikamar Vino.
"Gak usah, entar aja dikantin takut macet, entar ada yang nagis lagi" Ucapnya memakai tasnya asal tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Untung Chika tak mendengarnya karena dia memakai earphone ditelinganya.
"Heh! Kunti ayok cepet, entar telat" Titahnya dengan volume yang membesar pada Chika yang sedang memakan rotinya.
"Oh, bentar!" Jawabnya memakai tasnya asal dan mengampiri Ghina untuk berpamitan.
"Mah, Chika pamit ya" Ujarnya seraya mencium punggung tangan Ghina.
"Eh Chika, itu rotinya bawa aja tanggung tinggal sedikit mubazir" Ucapnya menunjuk sepotong roti dipiring Chika tadi.
"Okeeyy" Ujarnya dan langsung mengambil roti dipiringnya tadi.
"Cepet dikit napa! Telat nanti!!" Teriak Vino yang sudah keluar rumah lebih dulu.
"Ck, sabar bentar kek!" Desirnya kesal dengan sepotong roti ditangannya.
"Yaudah sana berangkat gih" Ujar Ghina yang dibalas anggukan dan detik selanjutnya Chika berlari menyusul abangnya.
Ghina hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anak-anaknya.
****
TBC
.
.
.
VOTE
KOMEN
FOLLOW IG||@rvlnans_12
THANKS
KAMU SEDANG MEMBACA
CHANGE [ON GOING]
Novela Juvenil[FOLLOW SEBELUM BACA!] (REVISI ABIS TAMAT! KALIMATNYA MASI BELEPOTAN MAKLUMIN YAA-^-) . "Gue ga butuh penghianat kayak lo!" - Zeinara Anastasya Raqueency. _______________________________________________________________________ ZEINARA ANASTASYA RAQU...
![CHANGE [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/265753388-64-k344032.jpg)