H9

3.2K 481 15
                                    

*9*

Jeno tidak tahu harus menanggapi apa saat Jaemin mengatakan ia tidak ingin melihat kembali. Jeno hanya bisa berasumsi jika sebelum ini pemuda manis di sebelahnya ini pernah mengalami hal yang kurang menyenangkan.

"Jaemin"

"Jeno-ya, kajja, kita jalan-jalan, lihat-lihat apa yang bagus, oh ne aku mau es krim tiba-tiba. Mau menemaniku?" tanya Jaemin, Jeno hanya bisa menghela nafas pelan dan mengangguk.

"Kajja kita beli es krim lalu kita jalan-jalan sekitar sini sebelum nanti cari makan malam." Jaemin mengangguk setuju. Keduanya pun pergi dari tempat mereka sekarang dan mulai berjalan mencari penjual es krim.

Jeno tidak akan memaksa Jaemin untuk bercerita, dia akan biarkan pemuda manis itu bercerita sendiri tanpa ia minta.

"Ne, apa yang terjadi pada Jongin hyung?" tanya Jeno memecah keheningan di antara mereka.

"Entah, tapi keadaannya begitu buruk, aku tebak pasti dapat penyiksaan, karena aku melihat ada luka di kepalanya, bahkan Jongin hyung nampak begitu kurus dan kuyu, tidak semanis saat kita bertemu dengannya terakhir dulu. Pasti dia sudah melewati hal yang buruk selama dua minggu ini." jawab Jaemin.

"Masalah dengan orang tuanya pasti." ujar Jeno.

"Kelihatannya begitu, setelah ini Jongin hyung dan Sehun hyung harus bahagia." ujar Jaemin.

"Kau pun" sahut Jeno, mendengar itu Jaemin menoleh, menatap pemuda tampan yang lebih tinggi darinya itu.

"Aku sih bahagia" ujar Jaemin, Jeno balas menatap Jaemin dan tersenyum kecil.

"Tapi tidak hari ini, kajja, kita cari es krim kan? Lihat di sana ada penjual es krim." jemari Jeno menarik lengan si pemuda manis agar mengikutinya. Jaemin sendiri terdiam, cukup terkejut saat tahu Jeno melihat kesedihannya.

***

Saat si adik sedang pergi bersama Jeno mencari es krim dan makan malam, si kakak sedang menemani namja yang sampai sekarang masih sangat ia cintai.

Sehun menggenggam jemari Jongin yang terbebas dari infus. Dia cium punggung tangan itu lembut. Sehun benar-benar tidak habis pikir Tuan Kim bisa melakukan kekerasan pada anaknya sendiri hanya gara-gara harta.

"Cepat bangun sayang dan kita mulai semua dari awal." lirih Sehun.

Sehun hanya bisa memanjatkan doa untuk kesayangannya, agar segera bangun dan kembali bersamanya, mereka bisa mengulang semua kisah manis mereka dari awal kembali. Tanpa ada yang meninggalkan atau ditinggalkan.

"S-Seh-hun..." Sehun mendongak saat mendengar namanya diucapkan begitu lirih. Dia menatap Jongin yang masih memejamkan matanya.

"Aku di sini sayang" bisik Sehun. Dengan perlahan Sehun mengusap surai Jongin.

DDRRTTT

Sehun segera meraih ponselnya, dan nomor Jeno yang tertera di layar. Dia segera mengangkat telpon dari salah satu pegawainya di cafe.

"Halo? Hyung?"

"Jeno-ya, ada apa? Tidak biasanya kau menelponku?"

"Hyung, Jaemin tadi ke rs bawa mobil tidak?"

"Tidak bawa, dia ke sini naik taksi, hyung yang bawa mobil, ada apa?"

"Anaknya tidur, dari tadi terus merengek minta pulang, tapi aku tidak bawa kendaraan, mau pesan taksi tapi baru ingat kalau aku tidak punya kunci rumah kediaman hyung." 

"Tidur? Baiklah, bawa ke rumah sakit, nanti pakai mobil hyung untuk pulang ke rumah hyung."

"Baiklah, aku ke sana hyung."

[HUNKAI-NOMIN] HAPPINESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang