BAB 17

5.6K 501 226
                                        

Carlos tertegun menatap sosok di hadapannya. Felicia. Perempuan yang tengah membungkuk di depan anak kecil tersebut, pelan-pelan menegakkan tubuh. Tatapannya turut terkunci pada Carlos.

Carlos mengambil beberapa langkah lebih dekat, memutus jarak di antara mereka. Secara bergantian, pandangannya tertuju pada Felicia, juga Jessica—anak kecil itu.

"Mommy...?" tanyanya bingung.

Felicia meneguk ludah. "A-aku bisa menjelaskan semuanya...."

🌸🌸🌸

Carlos dan Felicia duduk berhadapan pada sudut sebuah kafe. Dua cangkir kopi mengepulkan asap di atas meja, menguarkan aroma yang memanjakan penciuman. Kedua orang itu saling membisu untuk waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Felicia terdengar bersuara.

"Namanya Jessica. Dia ... anakku."

Pengakuan Felicia membuat pupil Carlos membesar. Lantas, pandangannya tertuju pada anak berambut emas tersebut—yang terlihat asyik melahap cokelat di tangannya.

"A-anak...?" tanya lelaki itu, memastikan.

Felicia menunduk. Ia menghela napas panjang. Setelah mengambil jeda beberapa saat, perempuan itu kembali berbicara. "Aku pernah menikah. Lima tahun yang lalu."

Seumur hidup, Carlos tidak pernah merasa seterkejut ini. Ia bahkan tidak mampu berkata-kata. Hanya membiarkan Felicia melanjutkan ucapannya.

"Aku melakukan kesalahan, karena menikahi pria yang tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Selain melakukan kekerasan fisik, dia suka berselingkuh. Dan itu secara terang-terangan ... di depan mataku. Dia bahkan pernah nyaris membunuhku dan Jessica. Karena alasan itu, sejak resmi bercerai darinya ... aku memutuskan pergi sejauh mungkin. Agar dia tidak bisa menyakiti Jessica."

Felicia tidak mampu menahan air matanya. Kini, bahu perempuan itu berguncang-guncang. Segala kenangan pahit kembali melintas dalam ingatan. Mengingat wajah sosok yang pernah dicintainya, selalu mampu memanggil luka. Padahal, sudah berbagai cara Felicia lakukan untuk berusaha menguburnya.

"Aku tidak berupaya menyembunyikan kebenaran ini darimu. Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Dan sekarang, setelah kau mengetahui semua ... aku tidak akan memaksamu untuk menetap. Kau memiliki kebebasan. Untuk memilihku, atau justru meninggalkanku."

🌸🌸🌸

"Berhenti menatapku seperti itu, Eric!" Jill berkata sebal pada Eric yang berjalan di sampingnya. Sejak pertemuan mereka beberapa menit lalu, Eric tak henti mencuri-curi pandang pada Jill. Sesekali, sambil menjilat es krimnya, lelaki itu mengukir senyum.

"Sudah lama sekali aku tidak melihatmu berdandan seperti ini," kata Eric. "Rasanya seperti de javu."

Jill mendecih. "Jangan coba-coba merayuku."

Dengan manik cokelatnya, Eric menyusuri tubuh Jill dari kepala hingga kaki. Lalu tersenyum lagi.

"Eric!" Jill mulai jengah. "Kau mau aku menempelkan es krim ini ke wajahmu?"

Tawa Eric berderai keras, lalu tenggelam oleh sahut-sahutan klakson. Dengan lengan yang bebas, dia menggenggam tangan Jill. Gadis itu tidak menghindar. Dibiarkannnya jemari kokoh Eric mengisi sela-sela jarinya. Mengirimkan kehangatan pada kulitnya yang dingin.

"Jill."

"Hm?"

"Aku suka kau yang seperti ini."

"Cih."

"Kau ingat, saat-saat kita berkencan dulu?"

"Hey, itu sudah lama sekali! Kita bahkan masih begitu kecil!" Jill tidak mampu menahan tawa, mengingat betapa konyol dirinya dan Eric dahulu. Di masa kecil, mereka pernah bermain peran sebagai pengantin. Lalu mengumumkan kepada teman-teman sepermainan—bahkan setiap orang yang lewat—bahwa mereka sedang berkencan. Jill ingat, setelah itu, ibu mengejar mereka dengan sandal.

My Beautiful RoseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang