"Jiminie Hyung jangan nakal. Itu 'kan, lobotnya Taehyungie. Jangan diambil, dong!" protesnya, tak terima lantaran Jimin--sang Kakak--merebut begitu saja robot yang sebelumnya tengah asik ia mainkan.
Bocah itu bahkan berteriak. Berusaha sebisa mungkin untuk tidak menangis di depan yang lebih tua, kendati bibir mungilnya sudah bergetar hebat. Pun, dengan kedua mata bulatnya yang kini mulai berkaca-kaca.
"Aku 'kan, hanya pinjam. Nanti juga dikembalikan. Jangan pelit, dong!" balas Jimin, ikut berteriak.
"Orang pelit kuburannya sempit, tahu!" lanjutnya menggebu-gebu.
"T-tapi 'kan, Taehyungie ndak mau pinjam-pinjam!"
"Tapi aku mau pinjam!"
"Jiminie Hyung kan punya lobot sendili!"
"Aku maunya yang ini!"
"Tapi kan itu punya Taehyungie!"
Tidak ada yang bersedia untuk mengalah. Kedua bocah berbeda usia itu terus saja berdebat, hingga isakan mulai terdengar dari salah satunya. Membuat sang Mama, yang sedari tadi hanya berperan sebagai penonton mulai bergerak maju guna menengahi pertengkaran dua bocah menggemaskan kesayangannya.
"Kenapa lagi, hm?" tanyanya, mengambil alih tubuh gempal si bungsu untuk kemudian dipeluknya.
"J-Jiminie H-hyung n-nakal, Mama! Lebut-lebut lobot Taehyungie, hiks," adunya, disertai isakan yang semakin membuat sang Kakak menjadi tersangka utama.
"Tidak, kok. Jimin 'kan, hanya pinjam. Taehyung saja yang pelit."
Tak terima disalahkan, si sulung pun dengan cepat menyangkal.
"Hyungie jangan bohong. Mama tadi liat sendiri, lho, Hyungie ambil mainan Adek tanpa ijin lebih dulu."
Jimin sudah tidak bisa menyangkal lagi, saat Park Sena--wanita cantik dari kedua balita ini--ikut bersuara.
Lagi pula, Sena sendiri hafal betul bagaimana perangai sulungnya. Jimin--bocah menggemaskan yang baru genap berusia lima tahun--memang hobi sekali menjahili Taehyung.
Hampir setiap hari Sena harus menghadapi tangisan si bungsu, dan parahnya, alasan dari semua itu tak lain adalah karena ulah si sulung. Ada saja tingkah jahil Jimin. Entah itu mengejek, mengambil jatah makanan atau camilan Adiknya, atau merebut mainan seperti yang baru saja ia lakukan, yang juga berakhir dengan tangisan dari Taehyung.
"Lain kali, kalau mau pinjam harus dengan cara baik-baik, ya, Hyung? Tidak boleh main ambil barang yang bukan milik Hyungie. Mengerti?"
Meskipun sering kali di hadapkan dengan segala tingkah jahil Jimin, pada akhirnya Sena juga tidak bisa memarahi putra sulungnya.
Bukan berarti Sena tidak bisa bersikap tegas, ia hanya mencoba mengerti bagaimana perasaan Jimin. Dari awal, wanita itu tahu jika sulungnya memang tidak begitu suka dengan kelahiran si bungsu.
Sena tidak marah, mengingat usia mereka yang hanya terpaut kurang lebih satu tahun--yang mungkin belum cukup bagi Jimin untuk rela membagi kasih sayang Mamanya--kendati itu dengan Adik kandungnya.
Semua itu terjadi di luar rencana Sena, sebenarnya. Tadinya, ia hanya ingin fokus mengurus si sulung, memberikannya Adik setelah tiga, atau mungkin empat tahun.
Salahkan saja suaminya yang selalu meminta jatah setiap malam, dan berakhir membuatnya kebobolan.
"Sekarang minta maaf sama Adek."
Jimin ingin protes, tapi tidak jadi karena tidak mau disuruh temenin Adiknya main seperti terakhir kali.
"Minta maaf," ujarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Oneshoot || Kth
Historia CortaKumpulan one shoot, two shoot, dengan cast BTS Taehyung di dalamnya.
