O4 : we like to party

501 108 58
                                        

Sesampainya di rumah Chenle, mereka semua terpukau dengan kemewahan kediaman temannya itu. Bahkan Wonjin hampir pingsan saat ia mendapati
beberapa hiasan emas di setiap sudut ruang.

"Buset dah Le... ini rumah atau gudang emas? Banyak bener dah," timpal Wonjin.

"Buset dah... rumah lu sampe ada lift sama eskalator. Ini rumah apa emol?" timpal Wonjin lagi karena kagum melihat 2 lift dan 2 eskalator di rumah Chenle.

"Mall bukan emol, sayang," ujar Minjeong sambil mengedipkan sebelah matanya.

Setelahnya, Wonjin pun merasa Minjeong tertarik padanya.

Gini ya rasanya disukain cecan kaya Minjeong, batin Wonjin dalam hatinya.

Akhirnya, mereka tiba di kamar Chenle setelah 14 menit berkeliling rumah. Pemuda bermarga Zhong itu hanya tersenyum tipis melihat reaksi teman-temannya yang menurutnya berlebihan.


"WAW! EMEJINK!" seru Sungchan bahagia sambil berlari mengelilingi kamar Chenle yang begitu luas.


Ryujin bahkan terus mengelus bingkai foto Chenle kecil yang dibuat dari emas.

Tiba-tiba, Beomgyu mendekati Ryujin yang masih melihat-lihat foto yang dipajang diatas meja belajar Chenle, "Jin, nanti rumah masa depan kita—"



PLAAK!





"MIMPI LO KETINGGIAN!"





Setelahnya, Ryujin pun meninggalkan Beomgyu yang meringis kesakitan akibat tamparan Ryujin, dan menahan malu karena ditertawakan teman-temannya.

Tunggu— sejak kapan Choi Beomgyu memiliki rasa malu?











Sebenarnya, Chenle senang melihat teman-temannya yang terkesan dengan kamarnya. Setidaknya, mereka tahu bahwa Chenle berasal dari keluarga kaya raya, dan ia berharap Sungchan tak lagi meremehkannya.


Tok! Tok! Tok!



"Tuan muda, pesanan Anda telah tiba."

Chenle pun segera melangkah dan membuka pintu kamarnya. Rupanya, kelima bibinya membawakan pesanan Chenle, yakni pizza jumbo dan cola.

classmatesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang