Sore ini, sepulang sekolah, Heeseung memutuskan untuk mengunjungi makam Soojin untuk mendoakannya dan dirinya membawa barang-barang favorit Soojin seperti earphone, buku diari, hoodie biru, dan jam tangannya yang berwarna putih.
Heeseung menangis terisak sambil meremas tas sekolahnya dengan kuat yang merupakan hadiah terakhir dari Soojin untuk ulang tahunnya yang ke 15. Dan ya, Heeseung tak pernah membeli tas baru setelah kembarannya tiada.
Pemuda itu tidak dapat menahan rasa rindunya yang berat akan kembarannya itu. Terkadang, Heeseung masih kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa Soojin telah tiada tepat dua tahun yang lalu.
Hatinya terasa sangat sakit hingga sekarang karena masih belum dapat diobati. Pikirannya masih dihantui bayangan Soojin hingga terkadang ia mengalami sesak napas.
Heeseung selalu mengaku bahwa dirinya telah merelakan kepergian Soojin, padahal ia berbohong. Heeseung masih tidak rela, benar-benar tidak rela. Pemuda bermarga Lee itu selalu menyesali perbuatannya dan selalu menyalahkan dirinya karena tak pernah bertanya tentang kehidupan sekolah Soojin, dan kisah pertemanannya.
"Soojin, aku disini sekarang. Aku bawa earphone yang sering kamu pakai, buku diari tempat kamu bercerita, hoodie yang rutin kamu pakai, dan jam tanganmu yang ga pernah kamu lepas."
"Aku... baik-baik aja, walau tidak sepenuhnya." Heeseung menyunggingkan senyuman tipisnya, kedua bola matanya pun mulai kembali berair.
"Maaf... maaf... maafin aku Soojin, maaf aku ga bisa lindungi kamu, maaf karena aku terkesan ga peduli, maaf..." Tangisannya makin jelas terdengar. Heeseung, pemuda yang kuat itu sedang tak kuat menahan kesedihannya.
"Soojin, sulit rasanya untuk bertahan hidup sekarang, terlebih lagi tanpa kamu. Terkadang aku mencari jalan keluar yang salah, tapi aku gamau berakhir sepertimu."
"Bahkan aku hampir kehilangan arah, nyaris."
"Dan... kamu tahu? Nilaiku makin menurun belakangan ini dan aku gagal masuk 12-1. Tapi... aku ga menyerah. Ini bukan waktu yang tepat untuk menyerah."
"Aku... saat ini... sedang berusaha menuntut keadilan untukmu. Tapi aku ga segila Haejun. Tenang saja, kau tak perlu khawatir."
Heeseung mengelus batu nisan bertuliskan nama kembarannya itu sambil melirih pelan, "Haejun menuntut pembalasan nyawa, aku tidak seperti itu... aku hanya ingin keadilan dari lembaga hukum saja, hanya itu."
"Dan.. ya, aku akan menyeret nama Winter, ibunya dan geng SMP-nya."
"Aku tidak berniat jahat, sama sekali tidak. Kamu bisa labelin aku sebagai orang jahat kalau aku bunuh mereka, tapi aku tidak." Pemuda bermarga Lee itu menggelengkan kepalanya. Dan air matanya pun tak kunjung berhenti membasahi pipinya.
"Tidak setiap perbuatan harus dibayar dengan nyawa, Haejun itu... gila. Benar-benar gila..."
"Aku khawatir padanya, aku takut dia menyakiti banyak orang tanpa sepengetahuanku
Kemudian, Heeseung menghapus air matanya sambil tersenyum lebar. Matanya pun masih menatap makam Soojin.
"Oh iya, apakah kamu tau? Haejun ada disini juga. Dia juga dekat denganmu, Soojin."
Setelahnya, Heeseung tersenyum penuh arti, "dia sangat, sangat dekat."
Tanpa disadarinya, terdapat seseorang yang merekam dirinya dari kejauhan. Setelah selesai merekam Heeseung, sang perekam tersenyum lega lalu ia menelpon seseorang.
"Halo? Gue di pemakaman nih buntutin Heeseung."
"Udah selesai kan? Cepat pulang, kita jaga rekaman itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
classmates
Fanfiction"We're classmates aren't we?" (( contains violence, rape, mental illness, & suicide. please be wise )) was #1 in 01l and 01liners (5/11/21)
