15 : we are all together

281 56 5
                                        

Kesepuluhan muda-mudi itu berlari kencang setelah keluar dari lift. Kemudian, Chenle mengetuk pintu nomor 305 dengan sekuat tenaga dibantu oleh Beomgyu dan Sungchan.

Seusai berhasil mendobrak pintu, mereka mendapati Hitomi yang sedang berusaha mengunci pintu balkon apartemennya dengan terburu-buru.

Melihat pemandangan itu, Sungchan langsung berlari kencang kemudian ia kembali berusaha merusak knop pintu balkon.

"WOY BUKA PINTU! LO MAU NGAPAIN?! BUKA PINTU WOY!" Sungchan berteriak saking paniknya, kemudian teman-temannya, Wonjin, Chenle, Beomgyu, dan Daehwi membantunya merusak knop pintu dengan palu yang dibawa Wonjin.

"Jin, lu ngapa bawa palu sidang anjir!" seru Sungchan yang sudah lelah dengan kebodohan Wonjin.

"Lu bilangnya ga jelas! Gua cuma punya palu sidang punya mak gua!" balas Wonjin yang ikut kesal.

Tiba-tiba Daehwi mengeluarkan sebuah palu besi berukuran besar dari kantung ajaibnya.

"Tadaa~ Daehwi bawa palu niech!" Pamer Daehwi sambil tersenyum bangga.

"Cepetan buka woy! Ngapa pake nyengir segala!" seru Beomgyu yang sudah tak sabar.

Hitomi menangis sesenggukan, napasnya tak teratur, tubuhnya bergetar hebat. Gadis itu menatap langit malam yang dipenuhi banyak bintang.

Ia kembali mengingat malam dimana ayahnya meninggalkan ibunya, serta malam dimana ia mengunjungi kantor polisi yang kemudian mendapat informasi bahwa sang ibu mengidap skizofrenia yang sudah parah, dan malam ini tadi Hitomi melihat ayahnya yang mencium kening Kaoru, ibunya Asahi. Dan ternyata, ayahnya adalah calon ayah baru Asahi.

Hati Hitomi sudah terlalu sakit, hingga sakitnya, Hitomi tak sanggup menahannya. Walaupun sudah terlalu sakit, tapi, bukankah ia harus menyudahi ini semua?

Chenle juga menangis, yang lainnya panik melihat aksi Hitomi.

"Hitomi, please... jangan lakuin ini, gue mohon sama lo..." Chenle terus menangis, bahkan tangisannya jauh lebih parah daripada tangisan Hitomi.




"HITOMI! STOP! LO GA SENDIRIAN! JANGAN TERLALU SEDIH! ADA KITA DISINI!" Somi berteriak lantang.



"Tenang, Hitomi. Kamu pasti bahagia setelah ini. Air matamu ga akan basahin pipi kamu lagi, kesedihan kamu bakal hilang selamanya. Dan semuanya akan baik-baik saja," ucapnya bermonolog.


Hitomi, ayo berani, sakitnya hanya sebentar, setelah itu kamu akan berbahagia selamanya.


Para gadis menangis memohon kepada Hitomi agar gadis itu tidak melompat dari balkon. Ryujin berusaha memanggil polisi, Choerry pun juga samanya, ia berusaha memanggil kakaknya yang berprofesi sebagai polisi.

Disisi lain, para pemuda masih berurusan dengan pintu balkon yang dikunci Hitomi sambil berteriak meminta tolong, terutama Sungchan, dan Daehwi. Keduanya tak lelah berteriak.

Kecuali Winter.

Gadis itu hanya mematung melihat keadaan disekitarnya. Hatinya tak tergerak untuk membantu teman-temannya. Rasanya seperti sulit baginya untuk bergerak membantu kawan-kawannya.

Perlahan, sebuah senyuman terbit di bibir gadis bermarga Kim itu. Entah apa arti dari senyumannya itu. Yang pasti, itu tak berarti baik.




Kenapa kalian ga biarin dia aja? Bukannya lebih baik kalau dia mati? tanya Winter dalam hatinya.

Hitomi Honda, matilah, jangan bertahan, ayo nyerah, lanjutnya sambil menyeringai tajam.




classmatesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang