19 : are they following me?

197 36 0
                                        

Suasana duka masih menyelimuti kediaman Hitomi Honda. Gadis itu masih menangis terisak sembari memeluk foto wanita yang telah mengandungnya selama 9 bulan. Tak disangka bahwa ibunya telah meninggalkannya disaat ia membutuhkannya.

Hitomi merasa sangat terpuruk. Kedua bahunya terasa begitu berat dan dadanya terasa sesak. Bagaimana bisa Hitomi melanjutkan hidupnya jika penyemangat satu-satunya telah meninggalkan dunia?

Bagaimana dengan adiknya? Apa reaksi adiknya setelah mendengar kabar buruk ini? Membayangkannya saja sudah membuat Hitomi makin tenggelam dalam kesedihannya.

Hitomi tidak pernah siap menghadapi musibah ini. Dimulai dari ayahnya yang gemar mabuk, menyakiti ibunya, menghamili ibunda dari sahabatnya sendiri—Asahi dan sekarang membunuh ibunya.

Sungguh, Hitomi merasa sangat lemah sekarang. Bahkan ia tak mampu berterima kasih kepada teman-teman sekelasnya dan tetangganya yang telah mendatangi upacara pemakaman dan menemaninya di rumah duka.

Yang bisa gadis Jepang itu lakukan hanya menangis. Hanya itu.

"Gue jadi ikut nyesek ngeliat dia nangis terus," komentar Somi.

"Iya. Ini pertama kalinya gue nangis gara-gara orang lain." Tambah Wonjin sambil mengapus air matanya.

Chenle tersenyum hangat ketika melihat Minju, Choerry, Somi, dan Ryujin berusaha menghibur Hitomi walaupun tak berhasil.

"Hitomi, hari ini nangis sepuasnya aja, gapapa kok. Habis itu kita ketawa-ketiwi lagi, ya? Lo tuh udah kaya rainbow in the dark kalo lagi ketawa. Makanya besok kita ketawa bareng lagi ya?" celoteh Ryujin.

Asahi yang mulanya hanya bertopang dagu mengamati pergerakan awan diam-diam melirik Ryujin dan Hitomi. Pemuda bermarga Hamada itu hanya menatap lurus tanpa ekspresi.

Sejujurnya, Asahi enggan menghadiri acara pemakaman tadi akibat rasa malunya dan rasa bersalahnya. Namun, akibat paksaan dan tonjokan dari Ryujin akhirnya ia menyerah.

Tak berselang lama, teman-teman sekelasnya dan tetangganya meninggalkan rumahnya. Kini Hitomi kembali sendirian. Tak ada yang menemaninya. Ia sendiri juga menolak tawaran Chenle yang ingin menemaninya. Gadis itu sedang butuh waktu sendiri.

Matanya kembali meneteskan air mata. Hitomi tak sanggup menahan kesedihannya. Walaupun ia selalu berusaha untuk kuat, ia selalu gagal.

"I-ibu... ibu jangan tinggalin a-aku... sendirian... aku ga bisa, bu..." Mulutnya bergetar ketika gadis itu terisak kembali.

Beberapa menit kemudian, hujan deras pun mengguyur kota Seoul. Disaat itu juga tangisannya makin menjadi.

"Ayah jahat...  a-ayah pembunuh, ayah ja... hat..."

Kemudian, gadis itu berlari pelan ke kamarnya untuk mengobrak-abrik album masa kecilnya.




Sreeet sreeet




Hitomi merobek semua foto masa kecilnya bersama ayahnya sembari menangis. Kesedihan yang mendalam dan amarah yang sudah tak dapat dibendung. Itulah yang Hitomi rasakan saat ini. Perasaannya pun menyatu menjadi satu.




"AYAH JAHAT! AYAH PEMBUNUH! AYAH HARUS MATI! AYAH HARUS MENDERITAAA!" teriaknya histeris.




•••






"BEOMGYUUUU! BANGUN KAMU DASAR ANAK KEBO!"

Ya, itulah bunyi alarm Beomgyu Choi setiap hari. Tiada sehari tanpa omelan mamanya. Karena Beomgyu sendiri gemar mencari masalah di rumah.

"Maaaa ini Sabtu tauuuu," balas Beomgyu lemas sambil memeluk dua gulingnya.


"KAMU ADA BIMBEL HARI INIIII!"


Mendengar kata 'bimbel' langsung membuat Beomgyu melompat dari ranjangnya. Ia berlari terbirit-birit ke kamar mandi sambil membawa handuknya.

Hanya dalam 2 menit, Beomgyu keluar dari kamar mandi dan segera memakai bajunya.

Tak lama kemudian ia bergegas meninggalkan rumah tanpa berpamitan ke kedua orang tuanya. Bahkan Beomgyu tak sempat mengucapkan maaf setelah menyenggol mamanya hingga tersungkur ke kebun rumah.




"ANAK KURANG AJAR! AWAS KAMU BEOMGYUUU!"



Beomgyu berlari menuju halte. Pemuda itu mengejar bus bertujuan Namsan Park. Ia tak pergi ke bimbelnya, justru ia beralih pergi menemui Asahi dan Choerry di Namsan Park.

Tujuh menit kemudian, bus bertujuan Namsan Park tiba. Beomgyu langsung masuk menabrak penumpang lain hingga membuat orang lain menatapnya sinis.

"Pak, pak, cepetan dong jalannya! Ini saya udah telat nih!" protes Beomgyu kepada sang sopir.

"Enak aja kamu! Tunggu penumpang lain lah! Emang kamu yang punya bus ini, hah?!" sambar sang sopir tak mau kalah.

Beomgyu tak merespon. Ia hanya tersenyum miris.

Tiba-tiba handphone Beomgyu bergetar karena Choerry menelponnya. Oh iya, fyi ini handphone baru Beomgyu, karena yang lama sudah tidak dapat diperbaiki :)



"Halo? Lo dimana anjer, lama banget."

"Lagi di bus nih, mohon sabar ya sis."




Tiit!





Beomgyu langsung memutus sepihak telepon Choerry. Ia bertopang dagu sambil melihat pemandangan halte karena busnya masih belum jalan.

Ketika busnya mulai berjalan, disaat itu juga kedua manik Beomgyu terfokus pada Jeongin dan Sumin yang tiba-tiba berdiri berdampingan, menatapnya tajam dari halte bus.

Beomgyu hampir terkena serangan jantung namun dia berusaha rileks. Banyak pertanyaan terbesit dalam hatinya;
Apakah Sumin dan Jeongin membuntutinya?
Dari mana mereka datang?
Mengapa mereka menatap Beomgyu seperti itu?

Tangan Beomgyu mulai bergetar pelan, ia juga mulai keringat dingin.

Tenang Beomgyu, tenang. Lo udah ngelakuin hal baik, batinnya dalam hati.

classmatesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang