Rasanya Chenle ingin memaki psikolog yang sudah membuat Hitomi menangis sejadi-jadinya. Bahkan Chenle tak berhenti melompat-lompat dan meninju lengan para pengawalnya hingga ditegur Mr. Kun agar tetap tenang.
Sedari tadi, Chenle menguping pembicaraan Hitomi dengan psikolog agar ia tahu apa yang mereka bicarakan.
Tak lama kemudian, Hitomi keluar dengan senyuman manis khasnya.
"Hitomi?! Lo—kamu... gapapa kan?" tanya Chenle khawatir.
Hitomi mengangguk tenang, "gapapa kok, tadi psikiaternya kasih aku obat penenang."
"Lah? Kok jadi psikiater? Bukannya psikolog?" tanya Chenle heran.
"Iya, tapi ada psikiater juga di dalem ruangan tadi."
"Oooh, yaudah. Yang penting kamu senyum sekarang. Btw, kamu mau makan es krim ga? Deket sini ada kedai favorit gue—aku, maksudnya."
Mendengar kata 'es krim' membuat Hitomi langsung mengangguk antusias, gadis itu pun langsung menarik lengan Chenle dan menuntun pemuda kaya raya itu keluar dari gedung.
Pada awalnya, Chenle sempat terkejut namun ia menyukainya. Ia merasa bahagia melihat tangan Hitomi yang menggenggam erat tangannya. Karena hal seperti ini langka terjadi padanya.
"E-eh, ini masih lampu hijau!" Seru Chenle mengingatkan Hitomi.
"Oh iya ya, maaf ya? Kayanya aku berlebihan..." lirih Hitomi pelan.
Chenle mengacak puncak rambut Hitomi sembari terkekeh kuda, "gapapa, santai aja. Tunggu sebentar lagi, abis ini kita serbu kedai es krim-nya."
Sambil menunggu lampu merah, Hitomi mengamati lingkungan di sekitarnya. Bahkan di pagi hari pun, kota Seoul sudah dipenuhi banyak kendaraan.
Tiba-tiba saja, dari ekor matanya, Hitomi tak sengaja melihat seorang wanita berpakaian seperti pasien dengan rambut acak-acakan yang sedang berjalan di zebra cross seperti orang yang kebingungan.
Setiap wanita itu melangkah, suara klakson kendaraan ramai mengiringinya lantaran ia mengacaukan keadaan lalu lintas.
"Woy orang gila! Minggir dong lo!"
"Panggil polisi cepet! Ada orang gila nyasar!"
Wajah wanita itu pun nampak familiar, sehingga membuat Hitomi menyipitkan matanya agar ia dapat melihat wajah wanita itu dengan lebih jelas.
Sedetik kemudian, kedua netra Hitomi membulat sempurna, mulutnya pun terbuka perlahan setelah gadis itu mengetahui siapa wanita yang tengah mengacaukan keadaan lalu lintas.
Hitomi pun mulai berlari meninggalkan Chenle menuju wanita itu sembari berteriak keras,
"IBU! IBU!"
Sayangnya, wanita yang dipanggil ibu itu tak mendengar seruan Hitomi. Dan tiba-tiba sebuah truk dengan kecepatan tinggi menerjang tubuh wanita itu hingga terpental sejauh 8 meter.
BRAK!
"IBUUUUUUU!"
Hitomi mempercepat langkahnya, dan disaat yang bersamaan Chenle beserta pengawalnya menyusul Hitomi.
"Panggil ambulans sekarang juga!" perintah Chenle kepada pengawalnya.
"Siap, tuan!"
"Brengsek! Malah kabur lagi!" desis Chenle ketika ia melihat bahwa si pembawa truk kabur.
Saat itu juga, mereka berdua dikerubungi oleh banyak orang.
Sedangkan Hitomi hanya menangisi sang ibunda yang terkapar lemah dengan darah segar di seluruh tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
classmates
Fanfiction"We're classmates aren't we?" (( contains violence, rape, mental illness, & suicide. please be wise )) was #1 in 01l and 01liners (5/11/21)
