Ryujin Shin namanya. Gadis berambut sebahu dan tomboi itu melempar handphonenya ke ranjang. Ia mengacak rambutnya dengan kasar dan berdecak kesal lantaran motor balapnya disita oleh pihak kepolisian karena ia berpartisipasi dalam balap liar di distrik Yongsan bersama Hyunjin Hwang, teman dekatnya. Gadis itu baru saja pulang dari kantor polisi setelah dijemput papanya. Untungnya, mama dan kakaknya tidak mengetahui kejadian ini. Jika mereka tahu, maka tamatlah riwayat Ryujin.
"Hyunjin bangsat!" makinya penuh emosi.
"Ryu?" Tiba-tiba papanya memanggil dari balik pintu kamar.
Ryujin bergegas membuka pintunya, "iya, pa?"
Papanya menyunggingkan senyuman yang tulus, "tentang hari ini, cukup kamu dan papa saja yang tahu. Mama dan kakak tidak perlu tahu, oke? Kamu tahu mereka, kan? Jadi, papa mau kamu tutup mulut soal perkaramu."
Ryujin menganggukkan kepalanya, lalu ia memeluk papanya dengan erat. Ia memejamkan kedua maniknya dan menghembuskan napas lega. Lega rasanya mengetahui bahwa papanya tidak memarahinya atas masalah yang telah dibuatnya.
Awalnya, Ryujin berpikir bahwa papanya akan mengusirnya dari rumah seperti ancaman mamanya. Nyatanya, papa justru meminta Ryujin untuk tetap diam dan bertingkah normal seakan-akan tiada satu masalah pun yang terjadi.
"Kamu sudah 18 tahun, nak. Papa yakin kamu bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Ya, kan?"
Ryujin tak sanggup menjawabnya karena ia tahu bahwa terkadang dirinya senang memilih yang buruk daripada yang baik. Maklum, Ryujin memang sedikit spesial.
"Papa sudah menghubungi polisi dan besok kamu bisa ambil motormu sepulang sekolah. Dan papa berpesan, jangan lakukan hal yang cuma bisa merugikan kamu. Kalau bisa, jangan ikut-ikutan balap liar lagi. Papa khawatir sesuatu yang tidak papa inginkan menimpa kamu."
Ryujin menatap kedua mata papanya dengan dalam, "papa... gak marah sama Ryu?"
Ia menggelengkan kepalanya, "tidak, papa cuma kaget... kok bisa Ryu ikut-ikutan balap liar begitu. Lagi pula, kenapa papa harus marah? Ini kan juga salah papa karena papa jarang perhatiin kamu."
Ryujin menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya. "Pa, ini udah jelas banget salah Ryu, bukan salah papa. Ryu janji, Ryu ga akan ikutan balap liar lagi. Ryu janji ga akan bikin papa kaget, kecewa dan marah. Ryu janji."
Sungguh, Ryujin merasa sangat bersalah kepada papanya. Rasanya sepeti ia telah melakukan dosa besar dan Tuhan enggan memaafkaannya. Bagaimana bisa ia mengecewakan satu-satunya orang yang paling menyayanginya?
Papa mengelus surai hitam pekat Ryujin, "sekarang kamu istirahat dan siapkan keperluan sekolahmu. Papa harus telepon klien dulu."
Ryujin mengangguk mantap lalu ia segera menutup pintu kamarnya. Langkah kakinya berjalan menuju meja belajarnya, ia akan merapikan buku-buku dan alat tulis untuk ke sekolah besok.
Ya, besok adalah hari pertama Ryujin masuk sekolah sebagai murid kelas 12 setelah libur semester selama satu bulan. Walaupun besok ia akan masuk, tetapi Ryujin masih belum mengetahui kelas dan teman-teman barunya.
Ryujin merebahkan badannya ke ranjang. Ia menatap kosong langit-langit kamarnya. Kemudian, kedua maniknya sibuk menjelajahi tiap sudut di kamarnya. Entah apa yang membuatnya sedih sehingga ia meneteskan air mata.
Line!
Tiba-tiba, notifikasi line muncul di handphone miliknya. Segera Ryujin memutar balik tubuhnya menjadi tengkurap. Matanya mulai sibuk membaca pesan baru dari line.
Minjeong created group ' LuarBinasah🤩😘 '
KAMU SEDANG MEMBACA
classmates
Fanfic"We're classmates aren't we?" (( contains violence, rape, mental illness, & suicide. please be wise )) was #1 in 01l and 01liners (5/11/21)
