Malam ini, tepat pada pukul 7 malam, Chenle sedang sibuk belajar untuk mempersiapkan ujian dan tryout di waktu mendatang. Chenle memang rajin, bahkan ia termasuk golongan siswa ambisius. Ia kerap bergabung dengan komunitas siswa ambis yang tersebar di sosial media. Ia juga sering bergabung sesi study with us, live streaming materi fisika dan kimia, serta mengikuti kelas tambahan ekonomi.
Kalau ditanya alasan dia belajar begitu giat, Chenle hanya akan menjawab, "semua ini hanya untuk uang." Menurutnya, belajar itu termasuk salah satu jaminan agar ia dapat menjadi orang sukses di masa depan. Bahkan, Chenle ingin menyaingi kesuksesan ayah kandungnya sendiri yang sudah diatas rata-rata.
Dan sekarang, Chenle tengah belajar 6 mata pelajaran sekaligus, yaitu matematika, fisika, biologi, kimia, Bahasa Inggris, dan ekonomi. Baginya, keenam mata pelajaran itu adalah favoritnya. MIPA + Bahasa Inggris + ekonomi adalah ilmu yang menyenangkan bagi seorang Zhong Chenle. Kalau saya sendiri sih tidak. Karena saya memiliki alergi MIPA yang sangat sulit dihilangkan.
Tiba-tiba, ketukan dari luar pintu kamarnya menyita perhatian pemuda bermarga Zhong itu.
"This is Chenle Zhong, Xunxi please open the door," perintah Chenle.
Sedetik kemudian, pintu kamarnya pun terbuka secara otomatis.
"Tuan muda Zhong, maaf mengganggu waktu Anda. Saya menemukan kotak ini di lobby utama." Mr. Ten, kepala asisten rumah tangga keluarga Chenle menaruh kotak berukuran sedang itu di nakas dekat ranjang.
"Haduh, jangan-jangan itu dari kurir ya? Kenapa sih mama hobi banget checkout tiap jam, heran." Keluh Chenle, kemudian ia meraih kotak tersebut ke pangkuannya.
Sebelum membuka kotak itu, Chenle merasa ada yang aneh. Ia merasakan ada sesuatu yang bergerak dari dalam kotak itu. Setelahnya, Chenle melirik ke arah Mr. Ten, dan pria itu melemparkan tatapan tajam kepada Chenle. Otomatis, Chenle merasa bingung.
Apa arti dari tatapan kepala asistennya itu?
Bagi Chenle, arti dari tatapan Mr. Ten seakan-akan memaksa Chenle untuk segera membuka kotak tersebut.
Tak lama kemudian, Chenle pun melemparkan kotak tersebut dengan sekuat tenaga hingga delapan ekor ular kobra melata keluar dari kotak itu.
"PANGGIL MR. KUN SEKARANG JUGA!" bentak Chenle penuh amarah. Walaupun Mr. Ten tersentak kaget, pria asal Thailand itu hanya mematung dan tak bergerak sedikitpun.
"MR. TEN! PANGGIL MR. KUN SEKARANG!" ulang Chenle.
"S-saya... saya tidak tahu dimana lokasi-"
"SAYA GAMAU TAU! PANGGIL SEKARANG JUGA, SIALAN!" Setelah dimaki oleh anak bosnya, Mr. Ten menggeram kesal. Pria itu pun langsung berjalan keluar meninggalkan kamar sang tuan muda.
Chenle makin kesal dibuatnya. Ini kali pertama Chenle memaki orang rumah, biasanya Mr. Ten tidak bersikap seperti itu.
Aneh, ada yang aneh, pikir Chenle.
"Xunxi, call Mr. Kun right now!"
Chenle sangat ketakutan, kedelapan ular mematikan itu bergerak dengan cepat kesana dan kemari. Untungnya, kamar Chenle berukuran sangat luas, sehingga ia memiliki beberapa spot kecil untuk bersembunyi.
KAMU SEDANG MEMBACA
classmates
Fanfiction"We're classmates aren't we?" (( contains violence, rape, mental illness, & suicide. please be wise )) was #1 in 01l and 01liners (5/11/21)
