“Aku terlalu mengenal tubuhmu, Luffy”
Aku masih tak percaya bahwa Luffy ada dihadapanku sekarang. Dengan wajah lelah karena sepertinya dia menggejar flight tercepat untuk duduk di depanku sekarang. Entahlah apa yang salah dengannya saat ini.
“Kenapa bisa kamu di sini?” tanyaku yang masih berusaha mengendalikan detak jantung. Nggak normal-normal gara-gara Luffy nggak berhenti mandangin mata aku.
Luffy menghela napas dan mulai memainkan anak rambutku, “Karena ponsel kamu mati dan jelas aku datang karena capture-an yang kamu kirim.”
Aduh Fy, kenapa dada kamu seperti manggil-manggil aku buat besandar di sana, sih? Fokus,Ka!
“Ada yang salah?” tanyaku dengan memasang muka polos.
Luffy mendesah dan menyadarkan tubuhnya di kursi, “Cinta itu rumit, Ka.”
Aku mengernyitkan dahi tanda tak mengerti. “Serumit kenapa kita harus LDR dan kenapa aku bela-belain datang ke sini cuma karena aku nggak bisa ngehubungin kamu,” lanjutnya.
Daripada menanggapi perkataanya aku lebih memlilih menyandarkan tubuhku di kursi tepat di sebelahnya. Tubuhku yang hanya sebatas bahunya membuatku harus menahan diri untuk tidak bersandar di bahunya. Kenapa jadi nggak fokus gini, sih?! C’mon Malka!
“Dan kamu yang paling menderita atas cinta yang kita miliki.”
Aku mengganguk tanda setuju, “Hidupku nggak pernah baik-baik saja ataupun membaik setelah kita putus, Fy.”
“Apa aku terlihat baik-baik saja, Ka?” Luffy menggengam tanganku dan menarikku ke dadanya. Huh, dari tadi kek.
Aku yang langsung memposisikan tubuhkan dengan nyaman di dadanya. “Ya, kamu terlihat sangat baik –baik saja di mataku.”
“Baguslah,” katanya sambil terkekeh.
Aku memilih untuk menjadi pendengar malam ini. Karena biasanya Luffy selalu menjadi sang pencerita pada pertemuan pertama kami jika kami tak bertemu untuk jangka waktu yang lama.
“Kamu harusnya tau bahwa untuk terlihat baik-baik saja itu sulit.”
“Sulit kenapa?” tanyaku.
“Sulit karena nggak ada kamu, Ka.”
GOMBAL!
“Kan ada Vania,”cetusku dengan nada sinis.
“Nggak usah bawa Vania dulu bisa, nggak?” terdengar nada tak suka dalam nada bicaranya.
Ya ya ya mana ada cowok yang mau bahas pacarnya di depan selingkuhannya. Duh, ya aku ini dari pacar sampai jadi selingkuhan.
“Bullshit Ka kalau ternyata putus baik-baik itu malah lebih baik, nyatanya aku malah makin tersiksa. Kita putus baik-baik dengan alasan LDR tapi masih cinta satu sama lain bikin makin susah ngelepas kamu.”
Aku menegakkan kepalaku untuk melihat wajahnya lebih jelas. Sebegitu berat ya jadi anak Teknik sampai bikin cowok kesayangan aku ini punya lingkaran hitam gede banget? Meskipun aura cakepnya nggak berkurang sama sekali.
Aku menyetuh bawah matanya, “Udah berapa hari kamu nggak tidur?”
“Semingguan ini tugas banyak banget. Aku tidur tapi paling cuma sejam kalau nggak aku curi-curi tidur bentar. Aku kelihatan kacau banget, ya?”
“Banget!”
“Tapi, masih ganteng kan?” Huh, narsisnya mulai keluar.
“Ya ya ya ya ya ya ya ya,” Jawabku dengan malas.
“Aku baru tau kalau rindu itu menyiksa saat kita udah nggak berhubungan. Bahkan saat aku udah dengan Vania rindu itu masih sangat menyiksa,”
“Setidaknya kamu punya Vania, sedangkan aku sendirian susah move on,” terangku sambil menunduk.
“Vania adalah salah satu cara untuk aku terlihat baik-baik saja, Ka. Atau bisa dibilang cara untuk meyakinkan diri aku sendiri bahwa aku baik-baik saja,” paparnya sambil mengelus puncak kepalaku.
“Maksudnya?” tanyaku dengan menegakkan badanku untuk melihat Luffy lebih jelas.
“Maksudnya, aku ingin terlihat baik-baik saja di depan banyak orang terutama di depan kamu,” jelasnya dengan mimik serius.
“Jadi kamu mau terlihat baik-baik saja sedangkan aku terlihat sangat terpuruk gitu? Hebat kamu, Fy,” sulit dipercaya lelaki dihadapanku ini ternyata sengaja membuatku terlihat terpuruk.
“Bukan gitu maksudku,”
”Damn it, Fy!” Bravo, sekarang aku sudah siap buat menangis lagi.
Luffy terlihat gelisah menyadari bahwa perkataannya barusan salah, “Aku nggak pernah juga ngelarang kamu buat deket sama cowok lain.”
HAH?! Apa dia bilang?! Perasaan alasan dia datang adalah karena dia cemburu aku dekat dengan Rafa. Lucu!
Aku kemudian berdiri dan bersiap mengusirnya sebelum air mataku jatuh lagi, “Fy, ini udah malem aku lagi males berantem lebih baik kamu pulang.”
Luffy berdiri dan menatapku dengan raut wajah ambigu antara bersalah akan perkataannya atau egonya terluka karena aku mengusirnya. Entahlah, yang jelas aku ingin dia segera enyah dari pandanganku. “Aku pulang.”
Aku mengantarnya sampai depan pintu sampai tubuhnya berbalik dan memelukku, “Ka, aku nggak pernah bermaksud untuk membuat kamu terlihat terpuruk. Demi Tuhan!”
Luffy semakin mengeratkan pelukannya, “Dan alasan sebenarnya aku ke sini adalah aku tahu bahwa kamu marah sama aku. Aku tahu kamu bakalan nangis sampe mata kamu bengkak.”
Sial, ternyata mataku masih terlihat jelas bekas nangis.
“Vania... Dia memang pacar aku sekarang. Buat nemenin aku kuliah di sana. Kamu tadi tanya kenapa aku kelihatan capek banget kan? Karena aku berjuang untuk menyelesaikan kuliah aku secepat yang mungkin. Apalagi aku anak teknik yang kata orang lulusnya bisa lama banget. Aku nggak mau itu terjadi, Ka. I want to finish it ASAP and come back to you. Here. Kamu yang bakalan nemenin aku sampai aku tua,” kata Luffy panjang lebar.
Speechless.
Nahan nangis.
Terharu.
Too much, Fy.
Luffy melepaskan pelukannya dan menatap wajahku yang terharu ini, “Aku sayang kamu, Malka.”
Nih lanjutannya lumayan cepet dari pada yang sebelumnya. Ayo dong udah aku bikin cepet jangan lupa di komen. Aku kan juga mau tahu pendapat kalian tentang ceritanya ini. Btw, enjoy ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
His Promise
RomanceGimana rasanya jadi seseorang yang belum move on apalagi sang (mantan) pacar sudah punya yang baru? Apalagi sang (mantan) pacar menjanjikan sesuatu.
