"Hentikan!" Aku berteriak. Di saat yang sama, kesadaranku kembali sepenuhnya. Nam melihatku dengan tatapan seakan ingin menertawakanku. "Kau memimpikan sesuatu?" tanyanya sembari menyerahkan segelas air. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Pria tua di hadapanku ini malah tersenyum meremehkan. "Itu bukan mimpi," ujarnya. Air di mulutku nyaris muncrat ke mana-mana. "Lalu apa?" tanyaku dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Kau mengalami kilas balik. Tenang saja. Hal seperti itu biasa terjadi. Berapa kali kau mengalami hal serupa?" Aku memejamkan mata sebentar. Mengingat berapa kali fenomena seperti ini terjadi. "Kurasa delapan atau sembilan kali. Namun, akhir-akhir ini terasa lebih sering dan lebih nyata."
"Kau mengalami hal lain?" Nam melihatku dengan tatapan yang terasa berbeda. "Tidak ada," jawabku singkat.
"Aku berasumsi bahwa jiwamu sedang mengingat dirimu di masa sebelumnya. Ibumu merupakan keturunan Tanah Wijil. Kemampuan alami kaum ini adalah melahirkan kembali jiwa-jiwa yang telah pergi. Setiap nyawa yang ada di tanah ini akan terlahir kembali, tetapi tidak semuanya dapat mengingat siapa dirinya di masa lalu." Aku hanya terdiam. Otakku mencari kemungkinan-kemungkinan tentang siapa saja yang dapat terlahir sebagai diriku. "Kenapa kau harus berpikir? Jawabannya sudah ada!" Nam mengejutkanku dengan suara yang tinggi. "Biar bagaimanapun kau harus mencari tahu itu sendiri." Aku mengangguk kecil. Benar kata Nam. Aku harus berusaha sebaik mungkin.
"Kau ingin mendengar sedikit cerita lagi?" Aku mengangguk mantap. Kupasang indra pendengar milikku. "Kala itu, setelah sistem disabotase oleh Moyang II terjadi beberapa kekacauan. Beruntungnya Moyang I masih dapat menghentikan keributan yang terjadi di antara para ksatria. Sistem pembagian daerah diberlakukan. Pada awalnya kekuatan yang ada di Tanah Rembulan hanya satu, penggunaan senjata saja. Mereka yang tinggal saling membantu dan tak ada yang namanya pertempuran, hanya saling bantu saling tolong satu sama lain. Masa itu begitu damai. Hingga beberapa abad kemudian, beberapa kelompok mendapatkan ilmu baru yang disembunyikan oleh Moyang I dan Moyang II. Mereka memberontak dan menciptakan wilayah baru. Hasilnya dapat kau lihat di Lembah Kematian yang merupakan area paling kelam sebagai tempat pembuangan tawanan. Beberapa di antaranya bahkan dikubur hidup-hidup.
Pada akhirnya area Tanah Rembulan dibagi menjadi beberapa wilayah. Adapun wilayah kekuasaan Kerajaan Bulan adalah yang terluas dengan prajurit terkuatnya. Kelak ketika kalian atau orang lain dapat menaklukkan lantai 100, para ksatria yang ada dapat kembali ke tempat asal mereka. Orang-orang itu selalu terlahir kembali di Tanah Wijil atau sebagai keturunan dari Tanah Wijil. Ayahmu, Raja Aaron, mengetahui akan hal tersebut. Seperti cerita yang kau tahu, tentang Aaron muda yang berhasil menyatukan Tanah Rembulan di usianya yang masih belia. Adapun dirinya meminang Arthania dengan tujuan mendapatkan masa keemasan Tanah Rembulan dan mengembalikan mereka yang memang tak seharusnya tinggal di tanah ini. Kau dipilih menjadi putra mahkota karena Aaron tahu bahwa kau membawa darah leluhur dalam dirimu. Tak peduli seberapa hebatnya saudaramu yang lain, hanya dirimu yang akan dinobatkan menjadi penerus kerajaan. Kelak tanah-tanah mulia di sini akan terlahir kembali dengan jiwa-jiwa mulia."
Penjelasan panjang Nam diberikan dengan keadaan mata tertutup. Tangannya sesekali bergerak seakan meraba sesuatu di hadapannya. Ternyata ramalan itu jauh lebih panjang daripada apa yang biasa kami dengar. Aku tak dapat mencernanya sekaligus. Mungkin aku harus bertanya pada ibu atau entah siapa nantinya.
Tak terasa matahari telah terbenam ketika cerita Nam selesai. Aku bahkan tak lagi merasa sungkan. Seakan ada ikatan yang tiba-tiba mendekatkanku pada Nam. "Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Aku mengangguk. "Raja Aaron akhir-akhir ini terasa berbeda." Aku merasa ada gejolak dalam dada saat mengatakan hal itu. "Ibumu banyak bercerita tentang pria itu. Raja Aaron memang terasa berbeda beberapa tahun terakhir. Bujuklah dirinya, Nak. Rakyat membutuhkan uluran tangan dari orang-orang sepertimu." Nam menelan air ludahnya. "Satu lagi! Aku tak tahu pastinya, tetapi aku yakin kau akan menemukan jawabannya. Beberapa tahun lalu, kau dan saudara-saudaramu dipaksa untuk berlatih bela diri bukan? Pasti ada alasan di balik itu semua. Aku tak yakin, tetapi kau harus mencari tahu alasan dibaliknya." Aku mengangguk beberapa kali ketika mendengar semua kalimat yang diberikan oleh Nam.
"Kalau tak ada lagi, cepat kau kembali! Aku ingin melanjutkan sesi pemujaanku!" Suara Nam berubah menjadi lebih berat dengan nada gertakan dalam kalimatnya. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera membereskan segala hal di tempat ini dan kembali menuju tempat Raden Sura dengan segera. Tak lupa aku berpamitan kepada pak tua ini.
Aku melintasi hutan di Gunung Agnyana dalam kegelapan malam. Suasana mencekam dengan desir angin yang konon menyimpan jiwa-jiwa haus akan keadilan di pegunungan ini membuat tubuhku ingin meringkuk begitu saja di tempat ini. Tidak, tentu tak boleh demikian. Aku tak mampir ke pondok yang sebelumnya menjadi tempatku singgah. Tujuan utamaku adalah kediaman Raden Sura.
Ketika tengah malam dan aku mencapai halaman depan kediaman beliau, bukan sambutan hangat yang kudapatkan. "Tidak sopan! Kenapa kau bertamu saat tengah malam?" Dari sini aku paham bahwa masyarakat Tanah Wijil benar-benar menjunjung adab kesopanan. Terpaksa malam ini aku tidur di hamparan rumput yang menghijau ini. Langit sebagai atapku dan embus angin menjadi selimutku.
Air yang dingin menjadi sarapan pagiku. Tubuh ini basah kuyup di saat mentari mulai menampakkan cahaya lembutnya. "Mau sampai kapan kau di sana? Cepat masuk!" Aku bergegas memasuki kubus tumpul milik Raden Sura. Beliau memberiku sebuah handuk dan selimut serta memintaku untuk menjemur kain basah yang kukenakan.
"Ini, ambil!" Semangkuk cairan bening berisi beberapa benda hijau yang mengambang diberikan oleh Raden Sura untukku. Wadah hangat ini memberikan sensasi nyaman untuk tanganku. Cairan hangat yang masuk ke dalam kerongkonganku ini membuat tubuhku terasa begitu lega. Tak ada lagi rasa dingin. Rasanya memang tak seberapa, tetapi ini begitu nikmat untuk makhluk lapar sepertiku.
"Kau sudah menemukan semua yang kau cari?" Aku menggeleng saat mendengar pertanyaan itu. "Beberapa sudah, tetapi masih banyak yang belum terjawab. Saya merasa sedikit bingung, Raden. Nam memintaku mencari sendiri sisanya." Raden Sura mengangguk beberapa kali.
Beliau memberikan sebuah kotak perak dengan aksen alam yang begitu kental. Tidak. Bukan alam dengan pepohonan, tanah, rumput, dan lain sebagainya. Alam yang terlihat gersang. Seperti hamparan pasir luas yang memisahkan Tanah Wijil dan jajaran pegunungan. Di atasnya terdapat gambar naga dengan sayapnya yang begitu indah. "Berikan pada ibumu. Benda ini akan banyak membantunya."
Aku mengangguk mantap. Aku akan segera memberikan ini kepada ibu.
Ketukan pintu mengejutkan kami. "Biar saya yang membukanya," tawarku kepada Raden Sura. Aku bergegas membuka pintu dan melihat seorang gadis yang tak kusangka akan ke sini. "Gawat!"
"Safir?" Gadis itu bergegas masuk dan mencium tangan Raden Sura. "Mohon maaf saya mengganggu waktu Anda. Ada keadaan tak terduga yang terjadi tiba-tiba. Saya membutuhkan kakak untuk segera membantu saudara saya yang lain." Tunggu, apa ini tentang Saga? Aku tak mendapat pesan darinya sejak kemarin siang. "Jadi, saya harus membawa kakak segera. Bisakah Raden membantu kami mencapai Gunung Kharisma dengan sihir Anda? Setelahnya kami akan melakukan teleportasi secara langsung." Raden Sura juga bisa melakukan sihir? Aku cukup terkejut dengan ini.
"Katakan saja tujuanmu. Aku akan langsung membawa kalian ke tempat itu." Safir mengangguk mantap. Kupastikan barang-barangku telah masuk ke dalam ransel. "Lantai 79, bagian labirin." Mereka sudah sejauh itu? Cepat sekali.
"Aku hanya bisa mengirim kalian ke depan labirin karena aku belum pernah memasuki area dalam labirin." Raden Sura menggambar sebuah lingkaran besar dengan simbol bintang di tengahnya. Kami diminta melewati simbol yang bercahaya itu. Mulutnya berkomat-kamit seiring bertambahnya intensitas cahaya di ruangan ini. "Terima kasih." Aku mendengar Safir mengucapkan kata itu ketika sekitar kami berubah gelap. Sekian detik kemudian kami tiba di depan labirin gelap di lantai 79.
Aku meminta Safir menjelaskan detail mengenai labirin ini secara singkat dan apa yang sedang terjadi. "Saga hanya mengirimkan sinyal darurat ketika aku bertanya apa yang terjadi." Firasatku buruk ketika mendengar safir mengatakan hal itu. Tanpa pikir panjang aku segera memasuki area labirin.

KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Moonlight (END)
FantasíaAku terlalu percaya diri hingga melupakan hal-hal penting di dunia ini. Ikatan dan kepercayaan adalah salah satu kunci hidup yang bermakna. Dahulu aku melakukannya, kini mereka berbalik arah. Inikah yang kalian sebut sebagai karma? Ini perjalananku...