Suasana masih sepi saat kami tiba di Padang Panguripan. Hanya ada beberapa anggota Serikat Air yang tengah menyiapkan tenda dan perlengkapan berkemah. Mereka memilih lokasi yang tepat. Tak jauh dari hamparan rumput yang luas ini terdapat sebuah danau di sebelah timur dan air terjun yang berada di sebelah selatan. Kemudian di sebelah selatan air terjun terdapat sebuah puncak bukit yang tampak bercahaya.
Padang Panguripan terletak sekitar tujuh kilometer di sebelah timur portal utama. Tempat yang dikeramatkan ini tidak dapat dikunjungi dengan portal. Jalan kaki adalah satu-satunya cara menuju tempat ini. Konon katanya tempat ini tak menerima orang dengan hati yang kotor. Daerah padang sebelah barat dapat digunakan sebagai lokasi wisata. Danau yang memisahkan sisi barat dan timur menjadi garis batas bagi pengunjung dari luar Padang Panguripan.
"Senang melihat Anda di sini, Tuan Serikat Petir," sapa seorang gadis cantik yang selesai menata dekorasi bersama rekan-rekannya. Aku tersenyum untuk membalas sapaan hangatnya. "Nona Serikat Air menunggu Anda. Mari saya antarkan Anda untuk menemui Nona Serikat Air," ucap gadis itu.
Aku menitipkan ransel kecilku kepada Rena lantas segera mengikuti gadis itu menuju sebuah tenda yang terlihat berbeda dari puluhan tenda lainnya. "Silakan, Tuan." Ia mempersilakanku masuk ke dalam tenda tersebut. Aku mengangguk dan tersenyum lantas segera bergabung dengan orang di dalam tenda itu.
"Senang melihatmu di sini, Rema." Tak lain tak bukan, orang itu adalah pemimpin Serikat Petir yang duduk dengan gagah di emas yang disediakan. Segera aku membungkuk hormat kepada beliau. Pria yang seumur dengan ayahku, Raja Aaron. Di sampingnya adalah para pemimpin serikat-serikat lainnya termasuk Nona Serikat Air yang merupakan pemimpin serikatnya.
Paman Ron–begitu kami memanggilnya–memintaku untuk duduk di sampingnya. Tentu saja aku tak bisa menolaknya. Beliau menanyaiku tentang perburuan-perburuan sebelumnya dan perkembangan kemampuanku. Jawaban yang kuberikan sepertinya membuat beliau merasa puas karena beliau terus melayangkan senyum kepadaku.
Beberapa saat setelah matahari benar-benar terbenam, semua petinggi serikat dan perwakilan tim telah berkumpul. "Terima kasih atas kehadiran saudara-saudara sekalian. Saya, Airina Aquela, selaku pemimpin Serikat Air merasa sangat senang atas kesediaan saudara dan rekan-rekan saudara untuk hadir di tempat ini. Setelah melalui perjalanan yang panjang sejak jaman kakek-nenek bahkan buyut kita terdahulu, akhirnya kita telah menyelesaikan 85 lantai pada siang tadi. Kegiatan untuk besok dan lusa yang akan kita habiskan di tempat ini tercantum dalam lembaran yang ada di dalam kolong meja saudara sekalian. Setelah ini, dipersilakan kepada setiap perwakilan untuk menuju tenda yang telah kami sediakan dan bagi pemimpin serikat saya harap untuk tetap di sini karena ada suatu hal yang harus dibicarakan." Setelah Nona Serikat Air menyajikan kalimat singkat itu, tirai yang menutup tenda pun terbuka. Aku baru saja beranjak dari tempat dudukku ketika Paman Ron memanggilku dan menarikku untuk duduk kembali.
Pada akhirnya, aku mendengarkan obrolan panjang para pemimpin serikat. Pembicaraan mengenai perburuan-perburuan selanjutnya dan sebuah rencana yang tak kupercaya. Orang-orang ini benar-benar di luar dugaanku. Menjadi bagian dari salah satu serikat besar di tanah ini saja sudah membuatku begitu senang. Bahkan posisi yang diberikan Paman Ron sudah sangat berat untuk dipikul oleh pundakku. Lantas masih saja ada kejutan untukku dan timku?
"Perolehan arta Serikat Petir mencapai sepertiga bagian dari total perolehan arta semua serikat. Adapun Tim Lima Serikat Petir menyumbangkan setengah bagian dari total perolehan Serikat Petir. Karena hal tersebut, kami memberikan kesempatan pertama dan terakhir bagi anggota Tim Lima Serikat Petir kebebasan untuk mengunjungi Banyu Panguripan dan Bukit Acitya selama tujuh hari dan dapat diambil penuh atau hanya beberapa hari. Perizinan telah kami urus sesuai dengan permintaan Tuan Ron selaku pemimpin Serikat Petir." Perempuan muda dari Serikat Air itu kembali duduk setelah membacakan kertas di tangannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Moonlight (END)
FantasyAku terlalu percaya diri hingga melupakan hal-hal penting di dunia ini. Ikatan dan kepercayaan adalah salah satu kunci hidup yang bermakna. Dahulu aku melakukannya, kini mereka berbalik arah. Inikah yang kalian sebut sebagai karma? Ini perjalananku...