Song: Tak mau jadi Temanmu- by ECLAT
Happy enjoy guys
______________________________
Sekolah hari ini begitu membosankan. Tau gak kenapa? karena mapel hari ini pelajaran yang paling tidak ku sukai. Ada tiga mapel yaitu, Fisika, matematika dan bahasa Inggris. Aku bukanlah anak ambis ataupun pintar dalam ke-tiga mapel tersebut. Bahkan mapel lainnya nilaiku tidak jauh-jauh dari angka 8 tidak pernah tuh aku dapat di atas delapan. Apalagi tadi saat pelajaran bahasa Inggris, guru menyuruh maju dan bercerita menggunakan bahasa Inggris. Rasanya aku mau bolos saja, karena aku paling susah kalau udah ngomong menggunakan Inggris. Kalau untuk memahami pertanyaan dalam bahasa Inggris atau menjawab soal, mungkin aku bisa. Tapi kalau di suruh maju, fiks! Aku bodohnya. Gak bodoh amat si cuma kurang jago aja.
Aku melirik ke arah Rizal yang duduk di bangku paling belakang. Dia sedang menelungkup kan wajahnya di dalam lipatan tangan. Aku yakin dia sedang tidur. Kebiasaannya memang seperti itu kalau pindah tempat duduk paling belakang. Sejujurnya aku iri dengan Rizal, karena dia jago sekali berbahasa Inggris. Jangankan Inggris, bahasa Arab, Jerman, Spanyol, dan lainnya aku tidak tahu lagi, pokoknya dia itu pintar berbahasa. Maklumlah mungkin karena dia sering bolak-balik keluar negeri. Beda sama aku yang mainnya sekitaran Jakarta doang. Tapi aku heran, Rizal yang pemalas di kelas selalu mendapat nilai bagus terus setiap ada ujian atau ulangan dadakan. Kepintarannya itu di atas rata-rata, hebat juga dia gak belajar tapi bisa dapat ranking 1 di kelas. Bahkan sampai mendapatkan peringkat 1 seangkatan. Saking hebatnya. Aku cukup kagum dengan bakatnya. Mungkin dia les privat atau les khusus lainnya. Karena selama aku dekat dengannya aku tidak pernah tahu dia ikut les apa engga.
Tidak lama Rizal mengubah posisi kepalanya dan membuka matanya. Mata kami saling bertemu, dan Rizal sama sekali tidak berkutik ketika aku menatapnya tajam. Tiba-tiba saja aku ingin muntah saat Rizal mengedipkan sebelah matanya. Huekkk!
Nyesel liatin dia.
Akupun kembali ke posisi awal dan memilih membaca buku paket, siapa tahu otakku bisa sama seperti Rizal. Bukan sama ngeres-nya maksudku sama pintarnya. Oh iya, saat ini kelas ku sedang jamkos, guru bahasa Inggris mendadak ada urusan, jadi kami hanya belajar satu jam dan satu jam lagi kosong. Tidak kosong sebenarnya karena guru itu menyuruh kelasku untuk mempelajari terlebih dahulu materi yang ada di LKS maupun buku paket.
"Kantin yuk,"
Kepalaku mendongak menatap malas lelaki yang sudah bertopang dagu di depanku. Padahal belum beberapa menit yang lalu aku melihatnya sedang bermalas-malasan di belakang. Sekarang sudah berpindah di hadapan ku. Apa dia setan? Cepat sekali berpindahnya.
"Kantin yukkk!"
Rizal terus mengulang kata itu karena aku yang tak kunjung membalasnya. Apa matanya tidak lihat kalau aku sedang tidak mau di ganggu. Ah! Dia tidak cukup peka.
"Mager,"
"Gue gendong,"
"Gak makasih."
"Kenapa lo selalu nolak tiap gue ngajak?"
Aku memutar malas bola mataku, haruskah aku menjawabnya? Apa dia tidak sadar kalau sering kali mengganggu ku.
"Kenapa? Itu kan hak gue buat nolak."
Aku melihatnya yang sudah berpindah lagi duduk di sampingku.
"Kalau misalkan di samping lo ini bang Edwin, apa Lo masih mau nolak?"
Apa sih maksudnya? Jelas-jelas dia dan bang Edwin berbeda. Mungkin kalau bang Edwin yang sering ganggu waktu ku, aku bisa saja bersikap santai dan tidak kesal. Karena aku menggunakan perasaan bukan logika. Kalau aku menggunakan logika terhadap bang Edwin mungkin sama saja dengan apa yang aku lakukan pada Rizal. Entah kenapa aku tidak bisa membenci bang Edwin karena telah membuatku jatuh cinta. Sesakit apapun aku saat melihatnya bersama kak Merry, aku tidak bisa untuk membencinya. Apa ini efek terlalu lama memedam perasaan?
KAMU SEDANG MEMBACA
ARETTA
Ficção Adolescentemencintai dia yang sedang mencintai orang lain sungguh menyedihkan -Retta __________________
