sepuluh

7 3 0
                                        


°𝓱𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓻𝓮𝓪𝓭𝓲𝓷𝓰°


Pagi ini di lapangan sekolah, Barren dan teman-temannya sedang bermain futsal. Melihat betapa mahirnya Barren membawa bola, Kana menganga takjub.

Disisi lain pikirannya kacau, bagaimana dia akan memberikan botol ini nanti.
Hhhh, ini semua karena Miola. Dia memaksa Kana untuk memberi air pada Barren yang entah apa tujuannya.

Bahkan sampai sekarang Miola belum mau memberitahunya tentang alasan balas dendam ke Barren.

Sekarang tangan Kana mulai berkeringat dingin. Padahal yang main bola bukan dia, kenapa dia berkeringat.

"Anjirlah kaga kelar-kelar. Mereka main bola apa bikin batik sih." Keluh Kana sambil melihat jam tangan. Bel masuk akan berbunyi lima belas menit lagi.

Setelah menunggu sedikit lama akhirnya Barren dan teman-temannya selesai bermain. Buru-buru Kana menghampiri Barren dan memberikan air minum yang sedari tadi dipegangnya.

"Nih" Ucap Kana sambil menyerahkan air minum ke Barren.

Tak berniat menolak, Barren mengambil air tersebut. Dia langsung memiumnya, karena sekarang benar-benar kehausan.

"Itu air dari Miola."

Ucapan Kana membuat Barren menyemburkan airnya. Bahkan dia sampai terbatuk-batuk.

"Siapa?"

"Dari Miola, emang kenapa sih kok kaya kaget gitu?" Tanya Kana yang memang sangat penasaran.

Tanpa mengucapkan apapun Barren pergi meninggalkan Kana. Dia juga mengembalikan air minum tersebut pada Kana.

Melihat reaksi Barren yang aneh, Kana mengernyitkan dahi merasa ada yang tidak beres. Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka.

"Kenapa makin kepo sih" Monolog Kana, Kemudian dia mengambil ponsel. Mengirimkan pesan pada Darren, dia harus segera mencari tahu.

Darren kek tai

Dar, ntar sore jembatan ya
Harus mau

Baru akan dikembalikan ke saku, ponsel Kana berdering. Darren fast respon banget ya. Dia melihat balasan chat Darren.

Darren kek tai

Lu manggil dar kek apa gitu
Darling?

Serah lu babi

Baby?

Bodoamat tai

Ngapain?

Hah?
Yang jelas

KENAPA SORE JEMBATAN?

NANTI JUGA TAU
YG PENTING DATENG!

Oke

Pesan terakhir hanya dibaca oleh Kana. Malas memperpanjang, yang ada jadi masalah nanti.

"Udah gua iya in babi, ngapain masih dicall. Modus ya lo."

"Eh" Kana kaget suara yang berasal dari ponselnya. Dia mengangkat tangan melihat layar ponselnya.

Anjir kepencet.

Duhh malu banget, ga sadar jujur.

Kana menggigit kukunya, bingung sendiri. Padahal kan bisa langsung dimatiin. Keknya dia lagi kena serangan panik.

Our BluesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang