°𝓱𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓻𝓮𝓪𝓭𝓲𝓷𝓰°
Pagi ini Kana sudah berada dirumah tante Denisa. Dirinya disibukkan dengan telur yang gosong.
Kana dibuat bingung sendiri, dia tidak tahu cara membalik telur nya sehingga bagian bawahnya gosong.
"Masih bisa dimakan keknya, gapapa lah ya." Monolog Kana.
Kemudia dia memindahkan telur di piring dan segera memakannya. Jangan sampai Raga tau, bisa diejek habis-habisan Kana.
"Uhuk!"
"Uhuk!"
"Uhuk, uhuk!"
Akibat makan terlalu cepat Kana tersedak. Tapi dirinya masih sempat memikirkan ejekan Raga. Tidak boleh sampai Raga mengejeknya. Itulah yang dipikir Kana saat ini.
Merasa sudah baikan Kana melanjutkan sarapan, oh iya. Dia belum berdoa ternyata. Pantesan gak lancar makanya.
Akhirnya dia selesai sarapan, dan tepat saat itu Raga juga baru keluar dari kamar.
Kana melihat Raga dengan menahan tawa. Tapi lama kelamaan sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Sepatu lo salah pasangan njir. Woy lah ngakak. Hahaha...."
Kana tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa Raga tidak sefokus itu. Sementara Raga jadi malu sendiri. Dia berlari ke kamar untuk membenarkannya.
"Bengek njir." Ucapnya memegang perut, masih belum berhenti menertawakan Raga.
"Kana diem lo bangkee!" Terdengar dari dalam Raga berteriak. Sepertinya dia terganggu tawaan Kana.
"Serah gue dong."
Selang beberapa menit, seseorang mengetuk pintu rumah. Kana segera keluar mengecek siapa yang datang.
"Ohh Jevi." Sapa Kana setelah sampai didepan.
"Hai kak, Raga ada?" Ujar Jevi dengan ramah, tak lupa senyum nya yang manis menurut Kana.
"Ada kok, masuk dulu gih!" Ajak Kana pada Jevi lalu mereka masuk ke rumah.
"Mau berangkat sama Raga ya?"
Tanya Kana, dia memang suka sok akrab sama semua orang. Tapi anehnya Kana tidak memiliki teman dekat. Baginya semua sama, hanya teman.
"Eh nggak kok, cuma mau kasih undangan pengambilan rapor." Tutur Jevi seraya memberikan lembar undangan.
"Ohhh yaudah tunggu dulu."
"Iya kak."
Jevi melihat kondisi rumah Raga, banyak foto yang terpajang didinding. Sangat rapih dan bersih. Jevi mungkin akan nyaman tinggal disini.
"Kak, enak ya."
"Hah?" Kana menganga bingung. Apa yang enak.
"Bisa kenal sama Raga. Dia peduli banget sama lo kak. Raga selalu khawatir sama lo, yakan." Jevi mengatakan hal tersebut. Kana terdiam, dia jadi makin bingung arah pembicaraan mereka. Emang keliahatan banget ya kalau Raga sebegitunya sama Kana.
"Eh apaan sih biasa aja. Lo juga kali, dia juga peduli sama lo." Kana menyanggah pernyataan Jevi, dia tak pernah memikirkan kalau Jevi akan berkata demikian.
"KANA NGGAK KETEMU SEPATU NYA. LO SEMBUNYIIN KAN!" Raga berteriak kencang.
Kana pergi menemui Raga, sebelum itu dia berkata pada Jevi.
"Gue ke Raga dulu ya Jev, lo tunggu bentar."
"Eh gue juga mau berangkat kak, gue pamit ya." Jevi pamit dan pergi keluar rumah Raga.
Kana langsung masuk ke kamar Raga dan mencarikan bocah itu sepatunya. Tak lama mencari Kana langsung bisa menemukan sepatu Raga. "Nohhh liat!" Dia memberikan sepatu tersebut di depan wajah Raga.
"Ck, tadi gue cari disana kaga ketemu." Elak Raga tak mau disalahkan.
"Dih, em tadi Jevi kesini kasih undangan."
"Hah kok nggak bilang sih, mana sekarang." Ujar Raga heboh sendiri.
"Salah siapa kaga keluar."
"Harusnya panggil gue lah."
"Yaudah sih dia juga udah balik."
"Hm yaudah lah biarin."
🖌🖌🖌
Sampai disekolah Kana meletakkan tas nya. Hari ini adalah pengambilan rapor. Sebentar lagi Kana akan naik ke kelas 11.
Dirinya sudah tak sabar, sebenarnya Kana memang menantikan naik kelas. Ia ingin menjadi kakak kelas agar bisa bertindak sesukanya tanpa ragu. Yaa walaupun masih ada kakak kelas lagi tapi dia bisa merasa sedikit bebas.
Pengambilan rapor dilakukan oleh orang tua, jadi murid diperbolehkan masuk atau tidak masuk. Namun untuk Kana, dia harus mengambil rapor nya sendiri. Karena hari ini tante Denisa yang biasa menjadi wali nya ada urusan mendadak jadilah Kana mengambil sendiri. Meskipun harus sangat memohon pada wali kelasnya.
Tapi Kana tidak ingin bersama orang tua murid, dia memilih menunggu sampai selesai lalu menemui wali kelas nya.
Kana berjalan-jalan sebentar, dia terlalu bosan jika harus menunggu sampai selesai. Menghitung berapa siswa yang masuk hari ini, sepertinya kebanyakan siswa disini sangat bersemangat jika sekolah. Dilihat dari ramainya koridor saat ini.
Kana menghentikan langkah nya. Dia melihat kearah kantor guru. Pikiran Kana sudah menerka-nerka.
Tidak, Kana berharap dia salah melihat. Semoga itu orang lain. Bukannya tidak mau bertemu, Kana takut sesuatu buruk terjadi padanya lagi. Dia tidak mau mengulang semuanya.
Kenapa sekarang Kana kepo, untuk memastikannya ia mencoba menghubungi nomor orang itu.
"Halo?"
Beneran dia?
Terlihat dari kejauhan orang itu juga mengangkat panggilan seseorang.
Kana terkejut, tak sengaja ia menjatuhkan ponselnya. Tersadar ponselnya jatuh dia segera mengambil, lalu memutuskan sambungan.
Dia, Miola. Teman sekelas Kana sewaktu SMP. Banyak hal-hal buruk yang terjadi pada Kana dahulu. Ia melalui itu berkat kelakuan teman-teman Miola.
Pernah suatu hari Kana dijebak oleh mereka. Hal itu tak terjadi hanya sekali. Entah apa tujuannya, tapi hal itu cukup membuat Kana menderita. Dia dituduh mencuri, merundung adik kelas, membawa rokok dan lain sebagainya. Bahkan Kana hampir dikeluarkan dari sekolah.
Kana menggelengkan kepala mengingat hal buruk itu lagi. Dia harus melupakan nya, kali ini dia tidak boleh terjebak lagi. Dia akan berusaha.
"Kana." Panggilan dari Bu Sastra membuat Kana sedikit terkejut.
"Eh iya Bu, ada apa?"
"Ayo ikut saya!" Kemudian Bu Sastra berjalan menuju kantor guru. Kana mengikuti dari belakang. Semoga tidak bertemu Miola nanti.
Sampai dikantor guru, Kana menundukkan kepala. Karena Miola masih disana, dia tidak mau Miola melihat keberadaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Blues
Ficção AdolescenteDia memejamkan mata, membiarkan semilir angin menerpa wajahnya. Untuk sesaat Kana merasa sejuk, hatinya menjadi tenang. Namun, tangan Kana menghangat akibat genggaman seseorang. Belum sempat membuka mata dirinya sudah ditarik jatuh oleh orang itu. ...
