Hai, sesama manusia harus menghargai bukan ? Boleh aku minta vote dan komennya ? Cukup tekan bintang nya kak. Selamat membaca !
Typo itu manusiawi
----------------------
Kini Jeno dan Mark duduk disofa tamu rumah Jeno, Mark masih heran dengan sahabatnya ini. Dia terlalu nekat. Berkacalah Mark Lee !
"Nikmat Jen ?" Jeno memutar bola matanya malas, "Haruskah aku menjawab ya ?" jawabnya, dan jawaban itu direspon dengan tawa kencang dari lelaki didepannya itu. Hingga air mata nya keluar sedikit, itu sungguh lucu. Pikir Mark.
"Kkhem, sebentar Jeno. Ada yang ingin kukatakan kepadamu." katanya mulai serius
"Apa ?"
"Oh ntahlah, setelah ini kau akan terkejut atau tidak. Jadi kau ingin tau ?"
"Katakan Mark !"
Mark memasang senyumnya, senyum miring tentunya. Namun dibalik senyum itu, menyiratkan kewaspadaan untuk Jeno.
"Dia datang lagi, Jeno."
•
•
•
•
Disinilah Haechan dan Jaemin, dikamar milik Jeno. Haechan menatap Jaemin dengan pandangan yang oh entahlah sedikit sulit untuk dijelaskan. Dan itu membuat Jaemin ketakutan, ia takut sahabatnya itu marah atau kecewa. Namun, beberapa detik kemudian. Haechan mengembangkan senyumnya dan bertepuk-tepuk tangan di depan Jaemin.
"Kau melakukannya, Nana !" ucapnya sumringah, "Maksud Echan ?"
"Ih ! Ingat perkataanku disekolah kemarin ?" Jaemin menganggukkan kepalanya, "Itu yang Echan maksud Nana ! Yeay ! Nana sudah menjadi anak baik !"
"Hng ?"
"Ish, Nana ! Yang Echan maksud menjadi anak baik itu melakukan perintah daddy ! Seperti yang dilakukan Nana dengan papa tadi."
"Jadi, Nana sudah menjadi anak baik ?" Haechan menganggukkan kepalanya semangat disertai dengan senyuman manisnya itu.
"Benarkah ? Berarti Nana bisa minta uang jajan lebih dari papa ? Seperti Echan yang diberi uang jajan lebih oleh daddy ?"
"Iya !" Jaemin yang sebelumnya murung pun menatap Haechan dengan riang dan senyum manisnya menampakkan gigi kelincinya itu. Lalu setelahnya, Jaemin menubrukkan tubuhnya ke Haechan, bermaksud untuk memeluknya.
Tok tok tok
Pintu itu terbuka, menampilkan 2 orang yang memandang Jaemin dan Haechan yang sedang berpelukan itu dengan senyuman teduhnya.
"Nana."
"Papa, daddy !" Jeno dan Mark mendekat, mendudukkan pantatnya disisi ranjang kamar Jeno, Jeno mengelus-elus rambut Jaemin dengan sayang.
"Kita ke makam mama, sayang." Senyum Jaemin perlahan menghilang, Haechan yang menyadari itupun mengusap sayang punggung Jaemin dan memberi nya senyuman. "Kita kesana berdua ya ? Echan juga ingin mengunjungi mama !" Sedetik kemudian, senyum itu terbit lagi dan Jaemin serta Haechan bangkit dari duduknya
"Echan dan Nana akan bersiap-siap dulu papa."
"Baiklah, daddy dan papa akan menunggu dimobil. Jangan terlalu lama bersiap nya ya ?"
"Oke !" keduanya menjawab kompak, lalu pergi untuk bersiap-siap.
•
•
•
•
Dimobil ini, terdapat 4 orang. 2 orang didepan sedang membicarakan hal penting tentang perusahaan, 2 orang dibelakang membicarakan hal yang tidak terlalu penting. Kalau kata anak jaman sekarang, random.
"Echan, kenapa mie goreng itu direbus ? Padahalkan jelas-jelas namanya goreng. Harusnya digoreng kan ya."
"Uhum ! Echan juga bingung. Echan pernah tanya ke ibu guru. Tapi ibu guru hanya tersenyum. (Tertekan)."
"Uhm. Iya ya, papa dan daddy kira-kira tau tidak ya ?"
"Entah, mungkin papa dan daddy hanya akan tersenyum seperti ibu guru itu."
Nah itu lah percakapan yang tidak terlalu penting kedua remaja polos itu, mari kita lihat percakapan 2 orang dewasa yang duduk didepan itu
"Kau yakin bisa menjaga Jaemin ?" tanya Mark pada Jeno, namun matanya masih fokus dengan jalan, "Ya. Dia anakku, Mark. Tak ada seorangpun yang bisa mengambil anakku."
"Kau benar." Mark menepuk-nepuk bahu Jeno, "Tenanglah, ada aku disini yang akan ikut menjaga Jaemin."
"Hm."
30 menit berlalu, mereka telah sampai ditempat pemakaman. Haechan dan Jaemin berjalan beriringan lebih dulu, Jeno dan Mark mengikuti kedua anaknya itu.
Jaemin berjongkok melihat makam ibunya itu diikuti dengan Jeno, dan Haechan berjongkok untuk melihat makam ibunya sendiri diikuti dengan Mark
"Ma, Nana rindu mama. Nana sedih karena ditinggal mama, tapi. Papa masih bisa menjaga Nana kok ! Papa sayang Nana, seperti mama sayang Nana, dan Nana pun begitu. Ma, ingin dipeluk mama hiks-"
"Tak apa, menangislah sayang." Jaemin menggeleng, "Nana cengeng papa. Mama bilang, anak laki-laki itu harus kuat tidak boleh cengeng. Nana ingin seperti mama dan papa ! Mama dan papa adalah orang yang kuat ! N-na, nana sayang mama, pa. Hiks" Jeno yang tidak tega itu segera menarik Jaemin kedalam pelukannya, Haechan yang telah selesai berziarah itu menghampiri Jaemin dan ikut memeluknya, perlahan Jeno melepaskan pelukannya dari Jaemin dan bangkit dari tempatnya, membiarkan Haechan dan Jaemin untuk berpelukan. Haechan berusaha untuk menenangkan Jaemin yang sedang menangis, kedua orang dewasa itu menatap Jaemin sendu
"Dia terlalu lemah Jeno." ucap Mark lirih, "Tidak, Jaemin hanya menangis merindukan ibunya. Dia tidak lemah." Mark menghela nafasnya panjang, ia ikut sedih.
Tidak jauh dari makam itu, berdiri seorang lelaki yang menggunakan pakaian serba hitam dengan bunga ditangannya. Lelaki itu terpaku sejenak, merasakan hatinya yang nyeri. Matanya perlahan mengeluarkan air bening, lalu menengadahkan kepalanya ke atas, menatap langit cerah siang itu.
"Putraku, telah dewasa. Yeji, kau berhasil merawatnya. Terimakasih, dan sekarang giliranku untuk menjaganya." Monolognya
--------
Dabel ap ni men ! Coba tebak siapa orang yang barusan monolog sendiri itu ?
Jangan lupa vote yaaa ! Gimana kalau... Em, 50 vote double up lagi ? Mau ga nie ?
--------
To be continue
----------
©jessichaxd
----------
KAMU SEDANG MEMBACA
Dangerously | Nomin
FanficTerperangkap dalam genggaman sang ayah menjadi takdir yang mengerikan bagi Jaemin. "Your life is in my control. Because you're my obsession." - - - - warn!bxb nomin area on going gimme voment ! Story by ©jessichaxd
