17. Mark Lee 🔞

5.5K 263 60
                                        

Hari telah berlalu, kini waktunya Jaemin memutuskan sebuah pilihan, malam itu mereka menangis dalam diam. Di satu sisi, mereka sedih akan terlukanya Jaehyun, disisi yang lain, mereka terpuruk akan pilihan. Doa yang jadi kunci utama, mereka hanya berharap semoga pilihan mereka tak salah.

Pagi ini, mereka berkumpul di ruangan Jaehyun sekedar untuk melihat apakah dirinya telah sadar atau belum.

"Bagaimana keadaan suamiku, dok?"

"Keadaan suamimu sudah jauh lebih baik dari yang semalam, kini kita hanya tinggal menunggu dirinya sadar."

"Syukurlah." Helaan nafas kelegaan terdengar dari ketiganya, mereka memandang satu sama lain. "Nyonya, maaf aku dan Jaemin harus pergi sekarang."

"Kalian yakin ?"

"Tentu."

Taeyong mengelus pipi keduanya dengan sayang tak lupa untuk mengecup kedua kening mereka

"Baiklah, hati-hati. Jika ada apa-apa, tolong kabari aku." Dua anak adam itu mengangguk mengerti, mereka mengambil barang-barang yang sekiranya penting lalu pergi dari rumah sakit itu menuju ke tempat yang semalam dijanjikan

Taeyong yang melihat pintu ditutup pun kini tersenyum, berharap mereka baik-baik saja

"Nyonya, kau tenanglah. Semua akan segera berakhir." Ucap dokter itu, "Hhah, anak itu. Memukul ayahnya terlalu keras, awas saja nanti, ku pastikan dirinya menerima hajaranku."

kedua orang yang kini berada di ruangan itu terkekeh, dengan perlahan Taeyong mengelus luka suaminya, ringisan pelan keluar dari bibir cantik miliknya.

"Aku harus pergi, tugasku belum selesai nyonya."

"Baiklah, pergilah. Sebelum itu, aku mengucapkan terimakasih padamu–













Hwang Hyunjin."

-

"Sampai kapan kita harus seperti ini ?"

"Sampai semua selesai."

"Aku lelah berpura-pura, kak."

"Tenanglah sayang, sebentar lagi. Bersabarlah, sebentar lagi maka semua akan selesai. Mengerti ?"

"Mengerti kak."

-

Haechan dan Jaemin baru tiba ditempat yang dijanjikan, tempat yang sangat sepi bahkan bisa dibilang tempatnya terpencil. Gudang. Ntah lah, ini seperti gudang yang sudah tak diurus bertahun-tahun, pikir keduanya.

"Sudah datang ternyata."

Keduanya menoleh kebelakang, sedikit terkejut dengan kedatangan Jeno bersama seseorang yang wajahnya tertutup kain

"Papa ?"

Jeno tersenyum penuh kemenangan, berhasil, batinnya

"Papa tidak suka basa-basi, Haechan. Kemari kan Jaemin, maka aku akan melepaskan Daddy mu." Haechan mengepalkan tangannya marah, "Aku tak percaya dia Daddy ku, sebelum papa membuka kainnya."

sang lawan terkekeh, seolah beruang di depannya itu tak ada apa-apanya hanya dengan seekor Samoyed, oh ayolah bahkan dunia pun tau, Jeno mungkin saja lebih kuat dari Haechan

"Baiklah-baiklah." Pria itu menarik kain yang menutupi wajah orang itu dengan pelan, lalu menjatuhkannya ke aspal yang panas, tak lupa menodongkan sebuah pistol tepat ke arah belakang kepala Mark, "Jaemin, kemari!"

'echan, tolong.'

Dengan hati-hati, Jaemin pergi melangkah ke arah Jeno, dan Jeno menarik tangan anaknya kasar bersamaan dengan dirinya yang menodongkan pistolnya kini ke kepala Jaemin,

"Bawa pergi ayahmu sekarang, jangan pernah laporkan hal ini ke polisi. Lupakan seolah hal ini tak pernah terjadi."

Haechan dengan segala keberaniannya berlari menuju sang ayah lalu membawanya pergi dari sana, matanya menatap Jaemin sebentar seolah berkata maaf dan berharap bahwa Jaemin akan baik-baik saja

Semua belum berakhir

"Ayo, aku ingin bersenang-senang denganmu." Bisiknya sensual di telinga Jaemin, membuat anaknya merasa risih

Blam

"LEE JENO! Sialan, kau membuatku terkejut." Tanpa memperdulikan bentakan wanita itu, Jeno terus berjalan membopong Jaemin yang ada di bahunya menuju kamarnya, "Oh, sudah mendapatkan mainannya ternyata, baiklah aku harus pergi dari sini sebelum si sialan itu memperkosa anaknya."

-

Bruk

Jeno melempar Jaemin ke ranjang besar miliknya lalu menimpanya, dibawahnya Jaemin meringis kesakitan, matanya memerah menandakan dia akan menangis. Jeno mengusap matanya perlahan seolah memperingatinya untuk tidak menangis, sorot matanya begitu tajam membuat putranya tunduk lebih rendah kepadanya, seperti seorang Alpha dan Omega yang akan mempersiapkan perkawinan mereka.

"Tubuhmu sangat cantik, begitupun dengan wajahmu, ah setiap aku membayangkan dirimu, adikku seolah minta dipuaskan, dirinya terangsang." Jeno membawa tangan Jaemin ke arah penisnya, "Bisa kau rasakan dibalik celanaku itu, terdapat sesuatu yang menonjol?" Putranya mengangguk, "Dia merindukan rumahnya yang hangat sayang. Jadi, biarkan dirinya masuk ke dalam rumahnya."

"Lakukan seperti yang biasanya kau lakukan." bisiknya,

Jaemin mengangkat tangannya, dan menaruhnya di tengkuk milik Jeno, kepalanya ia majukan, bibirnya tepat berhadapan dengan telinga sang dominan,

"Dengan senang hati, suamiku."

-

nsfw konten secret chapnya yang kemarin ada di trakteer, link di bio ku yang bawah, jangan sungkan karena ada surprise di dalamnya 😎🙏

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

nsfw konten secret chapnya yang kemarin ada di trakteer, link di bio ku yang bawah, jangan sungkan karena ada surprise di dalamnya 😎🙏.

Pencet link –> karya –> nanti trakteer cendol 👍

wml ak baru nyoba di trakteer, good luck 👍

Dangerously | Nomin Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang