Maaf baru up, padahal ku kemarin bilangnya up malem kemarin 😭. Ketiduran semalem ueue, trus ga sempet nulis karena nugas. Maaf banget 🙏🏻.
Aku ingetin sekali lagi ya, yang minor tolong menjauh dulu. Selamat membaca !! Awas klo ga vote, tak hih kamu.
Pake earphone/headsetnya! ------------------
Jeno dan Mark masih setia menyeret kedua anak mereka ke dalam satu kamar yang sama.
Kedua dominan itu membanting tubuh kedua submissive ke atas ranjang, Mark lebih dahulu mengukung Haechan, kedua tangannya dicekal diatas kepala. Jaemin yang melihat itu jelas membuat matanya semakin berkaca-kaca, begitupun dengan Haechan. Mereka sama-sama ketakutan.
"Daddy m-mau apa ?" lirih Haechan, Mark menatap Haechan intens, tangan kirinya ia gunakan untuk mengelus pipi gembul milik Haechan, terlihat mata Mark sudah terkabut nafsu. Dengan gerakan cepat, Mark meraup rakus bibir sexy Haechan itu, Haechan mencoba untuk memberontak. Jaemin yang melihat itu memekik takut, dirinya bangun dari posisinya ia ingin menolong Haechan. Belum sempat Jaemin beranjak, Jeno mendorong Jaemin keras keatas ranjang, tangan kirinya ia gunakan untuk mencekal tangan Jaemin diatas kepala, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk melepas sabuk pada celana milik Jeno.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kedua dominan itu benar-benar sudah ditutupi nafsu, tidak perduli dengan keadaan kedua anak mereka.
Mata Jaemin tersirat akan ketakutan begitupun dengan Haechan, kedua laki-laki mungil itu sudah menangis, air mata terus mengalir dari kedua mata indah mereka.
Mark melepas tautan pada bibir Haechan, dirinya menegakkan badan sejenak lalu menggendong Haechan, membawanya menuju ke kamar mandi kamar kosong itu.
Nomin side.
Jaemin menatap kepergian Haechan dan Mark yang menuju ke kamar mandi dengan tatapan sendu, dirinya mengabaikan Jeno. Jeno yang melihat itu geram, ia mencengkram dagu Jaemin untuk menatapnya kembali. Sungguh, Jaemin benar-benar ketakutan, ia tak berhenti menangis.
Setelah Jeno melepaskan sabuknya, ia meletakkan sabuk itu disamping Jaemin. Tangannya kini ia gunakan untuk mengelus-elus penis mungil milik Jaemin, "Papa ngh hentikan hiks. Maaf, maaf." pintanya, melihat Jaemin yang menangis nafsu Jeno semakin memuncak. Ia melepaskan cengkraman tangan kirinya pada tangan Jaemin, menegakkan badannya. Dan melepas kancingnya perlahan, hingga terpampang jelas abs milik Jeno.