"Jika sudah lulus nanti, aku tidak mau bekerja sepertimu" Jimin tidak mau menjadi pembisnis seperti yang ayah dan juga kakaknnya lakukan.
"Kenapa?"
"Membosankan, hyung jarang ada di rumah, bahkan saat hari liburpun hyung masih bekerja.
Brothership
Y...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🎍🎍🎍Happy_Raeding🎍🎍🎍
Sayup-sayup Jimin mendengar pembicaraan Yoongi dengan seseorang di Telphon dari luar ruangan, namanya dan nama Taehyung masuk kedalam percakapan pria dewasa tersebut. Karena penasaran Jimin menjalankan kursi rodanya agar lebih dekat dengan pintu. Beberapa detik kemudian Matanya membulat mendengar setiap kata yang di ucapkan oleh Yoongi, dia menggelengkan kepalanya cepat, mencoba untuk tidak percaya dengan kalimat yang Yoongi katakan barusan. Apakah Yoongi hyung sejahat itu? Fikirnya. 2 menit sudah Jimin habiskan hanya untuk memikirkan bagaimana nasib Taehyung jika nanti bertemu Yoongi, atau bisa jadi Min Yoongi sendiri yang akan menyeret Taehyung beserta Kim Hyun Sung. Sampai suara pintu terbuka menyadarkannya dari lamunan dan segera bergerak mundur.
"Jimin? Sedang apa di sini"ucap Yoongi. Jimin hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban saat kursi rodanya di dorong oleh Yoongi mendekati ranjang. Dia melihat senyuman cerah di wajah Yoongi, sang kakak memang pintar berakting ketika sedang bersamanya. "Jangan melamun, bukankah hari ini kita pulang? Mana senyumnya!" Usapan lembut di kepalanya tidak membuat Jimin kembali pada mood yang baik, dia tetap diam terpaku memandang wajah Yoongi di depannya.
"Jimin?" Pertanyaan Yoongi menyadarkan dari lamunannya, jimin menatap lekat wajah sang kakak.
"Kau kenapa? Hyung perhatikan dari tadi kau melamun, ada sesuatu yang terjadi?" Lanjut Yoongi dan di balas gelengan lemah dari Jimin. Yoongi tersenyum lalu mendorong kursi roda Jimin ke parkir mobil, sedikit bingung memang melihat Jimin terus diam. tapi Yoongi tidak terlalu memikirkan hal itu, menurutnya mungkin Jimin masih lelah dan butuh istirahat. Dia membantu Jimin untuk masuk ke dalam mobil bagian depan, tak lupa mengusap rambut halus sang adik. . . .
"boleh aku bertemu Taehyung?" Pertanyaan Jimin hanya di balas lirikan sekilas oleh Yoongi, dia ingin memastikan jika Taehyung baik-baik saja, tidak terluka sedikitpun oleh Yoongi. "Aku hanya ingin tau keadaanya, perasaanku tidak nyaman." lanjut Jimin, dirinya gugup saat melihat raut wajah Yoongi yang berubah dingin. "Hyung....." bibirnya terbungkam ketika Yoongi menghentikan mobil secara tiba-tiba, membuat Jimin menahan nafasnya sebentar. "Harus sekarang? Kau menghkawatirkannya? yang harus di khawatirkan itu dirimu Jimin, bukan orang lain apalagi Taehyung!" Yoongi meninggikan volume suaranya saat berhadapan dengan Jimin membuat anak itu menggelengkan kepalanya cepat. "T-tidak,,, tidak sekarang" Jawab Jimin gugup sambil meremat seat belt dan langsung menoleh ke arah jendela mobil dengan tatapan sendu.
Yoongi kembali melanjutkan perjalannya dengan perasaan campur aduk, dia tahu Jimin pasti terkejut tadi. Tapi saat mendengar nama Taehyung di ucapkan. dirinya tidak bisa mengontrol emosi lagi, Yoongi tidak tahu apa yang harus di lakukan. Dari semenjak insiden penculikan Jimin dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga dan merawat sang adik dengan baik dan akan mebalas siapa saja yang berani menyakiti satu-satunya keluarga yang di miliki tersebut. Yoongi tidak perduli status orang orang yang menyakiti Jimin, dia juga tidak perduli alasan Taehyung yang berkata bahwa Kim Hyun Sung lah yang memaksanya untuk melukai Jimin dengan cara memasukan zat berbahaya kedalam makanan Jimin. Menurutnya itu sudah keterlaluan dan tidak memiliki hati nurani, apapun alasananya Taehyung tetap bersalah.
Sampai di depan rumah, Yoongi turun lebih dulu untuk menyiapkan kursi roda. Dia membuka pintu mobil tempat Jimin duduk dan membantu anak itu turun namun dengan cepat tangannya di tepis oleh sang adik. Tarikan nafas lelah keluar dari mulut Yoongi, melihat Jimin seperti ini dirinya harus lebih banyak bersabar. "Kenapa? Kita sudah sampai, kau tidak mau turun?" Tanya Yoongi sambil bertolak pinggang. "Jimin...." ucapan Yoongi terhenti ketika Jimin menghempaskan tangannya lagi dan memaksa untuk turun sendiri.
"Aku bisa sendiri..." Dengan gerakan cepat Yoongi langsung menahan tubuh Jimin saat anak itu hampir terjatuh, Jimin memang tidak lumpuh namun kodisi tubuhnya sekarang jauh sekali dari kata baik. Harus ada orang yang menemani saat anak itu berjalan karena memang seluruh tubuhnya lemas termasuk kedua kaki Jimin.
"Jangan seperti itu, biar hyung bantu ya" tawaran Yoongi di tolak mentah-mentah oleh Jimin, remaja itu melepaskan tangan Yoongi yang kini berada di lengannya.
"Tidak perlu"
Yoongi berdecak kesal saat Jimin hampir terjatuh untuk kedua kalinya.
"Kau kenapa? Marah padaku? Hanya kerena pembicaraan kita di perjalanan tadi kau marah? Aku seperti itu karena tidak mau terjadi sesuatu padamu, tapi kau justru mengkhawatirkan orang yang sudah membuatmu celaka" setelah berucap demikian dengan suara tinggi Yoongi memejamkam mata sejenak untuk menetralkan emosinya, dia melihat Jimin menunduk sembari terisak.
"Duduk!" Yoongi mendorong kursi roda jimin masuk ke dalam rumah dan langsung membawa adiknya ke kamar lantai dasar miliknya.
. . Pandangan Jimin mengikuti gerak kaki Yoongi menuju pintu, dia melihat punggung tegap tersebut. Ada rasa takut melihat wajah Yoongi tadi saat di mobil yang menurutnya menyeramkan. dia juga takut jika nasib Taehyung akan sama dengan pamannya. Jimin menarik nafas pelan dan menghembuskannya kembali lalu memberanikan diri untuk berbicara. "Apakah aku pembawa masalah?" Ucapan Jimin membuat langkah Yoongi yang awalnya akan keluar dari kamarpun harus terhenti, dia berbalik menatap Jimin bingung Dan berdiri di samping ranjang miliknya yang kini di tempati Jimin tersebut. "... mengapa orang yang dekat denganku harus mendapat masalah?" Yoongi masih menunggu kelanjutan dari kata-kata yang keluar dari bibir Jimin. "...kumohon jangan lakukan apapun pada Taehyung, dia tidak bersalah. Taehyung melakukan itu hanya di paksa oleh Ayahnya, dan hyung juga sudah berjanji tidak akan marah padanya" tangan Yoongi terkepal kuat melihat Jimin menangis demi orang yang sudah melukainya. Anak itu terisak dalam tangisnya, namun tetap melanjutkan ucapannya. "...jangan lagi...." Jimin menarik nafas sebelum melanjutkan kalimatnya. "... aku tidak mau hyung melakukan hal sama pada Taehyung seperti yang hyung lakukan pada Jin Ho samchon" Ucap Jimin dengan nafas yang memburu. "Apa maksudmu?" Yoongi sudah mulai geram mengahadapi sikap Jimin yang terlalu membela Taehyung. "Aku tau semuanya, aku tau hyung yang telah membunuh samchon, aku...." nafas Jimin tercekat tidak sanggup melanjutkan kata kata. "Aku melakukan itu semua karenamu, kau fikir aku akan diam saja saat pria tua itu hampir saja membuatmu mati? Aku tidak bisa, kau lihat sekarang! Tubuhmu tidak sekuat dulu lagi karena mereka, kau tidak bisa bergerak bebas itu juga karena mereka. kau masih menyuruhku untuk diam dan tidak melakukan apapun?" Ucap Yoongi penuh penekanan.
"Hyung tidak perlu jadi pembunuh hanya karenaku"
Yoongi mengusap wajahnya kasar, dia tidak bisa berlama lama disini, jadi Yoongi lebih memilih pergi dari kamar tersebut dari pada harus marah dan membentak Jimin lagi, namun lagi-lagi langkahnya harus terhenti saat teriakan Jimin masuk kedalam telinganya namun Yoongi tidak menoleh dia tetap pada posisinya. "AKU TIDAK MAU MEMILIKI HYUNG SEORANG PEMBUNUH!" Yoongi mendengar dengar jelas nafas jimin yang memburu membuatnya memejamkan mata sejenak berharap Jimin berhenti membela Taehyung yang akan membuat kondisi tubuh anak itu semakin buruk. "... aku tidak pernah punya teman sebelumnya karena keangkuhanmu. Hanya Taehyung yang mau berteman denganku, apakah sekarang hyung akan menyingkirkan Taehyung juga?" Ucapan Jimin barusan tidak di gubris oleh Yoongi, dia melanjutkan langkahnya keluar kamar meninggalkan Jimin sendirian dengan keadaan yang masih terisak. . . . . Tbc. 🤍🤍🤍