Hidup adalah pilihan. Aku pernah membaca kalimat itu dari sebuah buku dan kurasa pernyataan itu memang benar. Selama ini, kita sering kali dihadapkan pada pilihan-pilihan, baik dalam skala kecil hingga skala besar. Seperti memilih baju yang akan dipakai dalam event-event tertentu, memilih lebih baik membeli barang A atau barang B, atau memilih dimana kita akan menanam saham tanpa harus takut mengalami kerugian.
Aku pun juga sedang dihadapkan pada pilihan.
Yah, bisa dibilang cukup berat, jika kau mengerti benar situasinya.
Aku menatap kertas soal dihadapanku dengan mata terbuka lebar mencoba mencermati setiap kata.
Diperkirakan pendukung Kebudayaan Pacitan adalah Pithecanthropus erectus. Kesimpulan tersebut didasarkan pada….
Aku membacanya sekali lagi. Aku ingat aku membaca bagian ini semalam di buku. Tapi kenapa aku tidak mengingat apa jawaban yang harus kujawab? Aku melirik jam dinding—waktuku tidak banyak lagi. Masih ada empat soal yang belum kujawab dan aku sudah menghabiskan waktu terlalu banyak untuk soal ini.
Seharusnya aku tidak perlu berusaha terlalu keras, toh aku juga mengambil program IPA. Jadi wajar kan kalau aku remedial? Belum lagi, guru sejarah kami terkenal dengan soalnya yang susah terjawab. Aku membaca soal itu untuk yang terakhir kali sebelum akhirnya membulatkan jawaban A di lembar jawabanku.
Sekarang, tinggal tiga soal lagi.
»»»»»»»»»»
“Bentar, Ne. Satu soal lagi. Nomor tiga puluh dua jawaban lo apa?”
“Lo masih aja sih Kei bahas-bahas sejarah. Yang paling penting itu belajar kimia dulu!” balas Anne dengan ekspresi terganggu di wajahnya, namun tetap membuka lagi kertas soal miliknya, “B.”
“Kok gue A?” tanyaku padanya. Bukannya aku merasa jawabanku benar, justru aku sendiri kurang yakin. Dan aku perlu memastikan jawaban yang benar-benar benar.
Anne hanya menegendikkan bahunya.
Aku memandangnya dengan tatapan datar, “ih lo mah gitu.”
“Gue pun gak tau darimana bisa ngejawab B, Kei.” Anne menjelaskan. Ia membolak balik buku kimia ditangannya dengan tatapan tak bersemangat. Tak lama ia menutup bukunya dan menghela nafas.
“Ne?” panggilku saat melihat perubahan sikapnya. Terkadang, mood Anne dapat berubah begitu cepat dalam beberapa detik saja. Entah karena apa. Penyebabnya bisa bermacam-macam.
“Kayaknya gue remedial lagi deh..” lirihnya pasrah.
Aku menendang kakinya pelan, “hush! Lo kok pesimis duluan sih, Ne? Bisa kok, bisa.”
Anne tidak bereaksi apa-apa. Hanya menggeleng kepalanya. “Gue gak ngerti sama sekali. Mungkin ada satu dua yang gue inget. Tapi selebihnya? Gue gak yakin,” katanya sedih.
Aku menghela nafas, lalu meraih handphone di saku bajuku untuk melihat jam.
masih 20 menit sebelum ulangan kedua dimulai.
Aku membuka buku kimiaku, dan mengambil sebuah pensil. “Mungkin gue bisa bantu lo, Ne.”
»»»»»»»»»»
Suara bel membuat aku dan Anne sontak melihat satu sama lain.
“Jadi lo ngerti gak?” tanyaku cepat.
Anne mengangguk lalu tersenyum, “lumayan lah, daripada tadi gua nge-blank. Makasih ya, Kei.”
Aku mengemasi barang-barangku lalu beranjak dari kursi, yang juga diiikuti oleh Anne. Kami berjalan berdampingan sebelum berpisah di depan tangga. Aku menyemangati Anne untuk yang terakhir sebelum berlari kecil ke arah kelasku, tak ingin para pengawas masuk mendahuluiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Highschool Marriage
Fiksi RemajaAku menyayangi mama dan tidak pernah membantah,tapi menikah? yang benar saja! Mama pasti sedang bercanda, kan? Walaupun aku pernah berkata ingin nikah muda, bukan berarti Ia harus menikahkanku di umur 16 tahun! terlebih lagi dengan kakak kelasku sen...
