Tubuhku refleks melompat kesamping saat mendengar suara Ivan dibelakangku. Biar aku perjelas, dia ada tepat di belakangku dan aku tidak suka terlalu dekat dengan seseorang.Keningnya berkerut saat melihat reaksiku.
"Lagi liat-liat," aku menjawab pertanyaannya tadi dengan santai, seolah tidak terjadi apapun sebelumnya.
"Liat apaan?"
"Tuh,"
Aku menunjuk dinding penuh piagam dan foto di hadapanku. Matanya mengikuti arah telunjukku dan melihat dinding itu tanpa ekspresi di wajahnya.
"Oh"
Oh doang?
Tubuhnya berbalik lalu mulai melangkah menuju tangga turun. Tiba-tiba aku merasa panik. Tidak, bukannya aku takut sendirian ataupun takut tersesat. Aku hanya merasa aneh jika harus mengelilingi rumah orang lain tanpa ditemani pemiliknya. Seperti...melakukan sesuatu yang tidak seharusnya?
"Mau kemana?" tanyaku dengan suara yang cukup nyaring agar dia mendengarku.
"Turun," jawab Ivan tanpa menoleh. Berhenti berjalan pun tidak. Laki-laki macam apa sih?
Aku bergegas berjalan di belakangnya. Saat kami sampai di bawah, dia bukannya berjalan ke arah ruang keluarga dimana mama dan tante Dian asik mengobrol—aku bisa mendengar suara mereka—tapi malah beralih ke arah lain yang aku tidak tahu mengarah kemana. kurasa ia belum menunjukkan tempat ini sebelumnya.
Beberapa saat kemudian aku tahu ini hanya akan menuju ke satu tempat,
Halaman belakang.
Seperti yang sudah kubilang tadi, rumah tante Dian memang luas seperti lapangan bola. Halaman belakangnya luas dan siapa sangka disini ada lapangan basket? meskipun hanya lapangan kecil tapi ini membuatku iri. Ivan berjalan ke lapangan dengan bola basket ditangannya.
Tunggu dulu, sejak kapan dia membawa itu?!
Ivan melempar bola dan langsung masuk ke ring. three point. Aku tidak tahu kalau dia sehebat itu. Seperti asik dengan dunianya dia mulai mendribble beberapa kali sebelum memutuskan untuk kembali melempar bola. Tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku hanya duduk di kursi taman sambil memperhatikan Ivan dan sesekali membalas chat di handphoneku.
"Lo ngapain disini?" Aku mengangkat wajahku dan langsung bertatapan dengan Ivan yang berdiri di pinggir lapangan.
"Lo gak inget apa yang nyokap lo bilang?" jawabku dengan nada sedatar mungkin. Oke, dia mulai menjengkelkan dan aku harus mengendalikan emosiku.
"Gue kira kita udah selesai,"
What the..
fudge?!
Sebelum sempat membalas ucapannya, Ivan sudah berbicara lagi, "Kalau lo pikir cuma karena perjodohan ini lo bisa deket sama gue, lo salah."
Harus kuakui Ivan mempunyai wajah yang tampan, tapi jika karena wajahnya dia pikir dia bisa seenaknya berarti dia salah.
ini official, gue gak suka sama Ivan.
»»»»»»»»»»
Aku menatap layar handphoneku dengan kesal sambil sesekali melirik ke arah mama. Seriously? ini sudah lebih dari 4 jam sejak kami datang dan mama masih sibuk mengobrol dengan tante Dian. Jangan tanya aku apa yang mereka bicarakan—aku terlalu sibuk dengan duniaku—karena aku juga tidak tahu.
Aku menghela nafas. Harus tunggu berapa lama lagi sampai ini selesai sih?
"Jadi menurut kalian gimana?"
Hening sesaat.
"Kei? Van?"
Mendengar namaku disebut aku refleks mengangkat wajahku dari layar. Apa ini?
Lagi?
Ya Tuhan, Aku bahkan tidak mendengarkan!
Mau tak mau aku memandang Ivan yang duduk tidak jauh dariku, meminta penjelasan apa yang sedang terjadi. Ivan terlihat sama bodohnya denganku.
Tidak tidak. Ralat. aku tidak bodoh dan aku tidak mau disamakan dengan manusia sombong sepertinya.
Karena tidak ada yang berbicara akhirnya mama memutuskan untuk mengulangi penjelasannya
"Jadi tadi mama dan tante Dian sudah membicarakan hal ini matang-matang. Lagi pula ini juga untuk kebaikan kalian kedepannya."
"Umm.. tentang?" aku bertanya dengan hati-hati. Kebaikan kalian katanya? kalian siapa??
"Kami memutuskan untuk memindahkan salah satu dari kalian, jadi kalian bisa satu sekolah," jawab tante Dian dengan tenang.
Speechless. Aku bahkan tidak dapat bereaksi apapun.
SHIT.
SHIT.
SH-
"Apa?!" suara Ivan memecah keheningan yang terjadi.
"Ivan kamu tahu kan, bunda mau ini semua berjalan baik,"
Apa yang mereka bicarakan??
"Tapi bun, Ivan gak pernah setuju dengan hal ini," Ivan membalas dengan dingin.
"Van-"
"Kei saja yang pindah ke sekolah Ivan, Di" mama mencoba menengahi perdebatan mereka berdua.
HAH
"Ma, kei gak akan pindah kemanapun." Aku melirik mama dengan tajam sambil memberi penekanan pada kata-kataku. Langsung memutuskan tanpa persetujuanku terlebih dahulu sangatlah tidak sopan.
"Lagipula, buat apa pakai acara pindah sekolah gini sih ma?" aku mendecak kesal. Aku tidak bisa menahan kekesalanku saat ini.
Mama terlihat ragu untuk menjelaskan, menatapku dengan rasa bersalah.
Oh tidak...
Ini tidak mungkin seperti apa yang ada di pikiranku kan?
Ya Tuhan, jangan bilang kalau-
"Perjodohan ini tetap dilanjutkan"
***
Pertama-tama gue minta maaf sama update yg lama ini. Beberapa minggu terakhir gue lagi sibuk bangeet.
iyasih part ini juga masih belum panjang. huhu maafin gue. part ini stuck, meskipun gue tahu alurnya tapi ngerangkai kata-katanya butuh waktu yang lama. gue harap part ini gak ngecewain kaliaan.
dan terimakasih juga buat semua yang sudah vote dan comment kemariiin. Gue apresiasi sekali:') you guys rock! I laaff ya
Ivan banyak muncul disini tapi dia menjengkelkaan. jadi gimana menurut kaliaan?
dan kenapa gue nulis fudge bukannya malah fuck. itu gue ga typo dan ga perlu capek-capek nyari arti fudge(?) karena itu ga penting. jadi orang barat suka melesetin kata2 yg kasar gitu, kyk kita kata anjg jadi anjr nah iya ngerti kan ya? (?)
jangan bosen buat vote dan comment yaa! aku tunggu ;)
xx dai
KAMU SEDANG MEMBACA
Highschool Marriage
Teen FictionAku menyayangi mama dan tidak pernah membantah,tapi menikah? yang benar saja! Mama pasti sedang bercanda, kan? Walaupun aku pernah berkata ingin nikah muda, bukan berarti Ia harus menikahkanku di umur 16 tahun! terlebih lagi dengan kakak kelasku sen...
