Delapan - Another Awkward Moment

68.1K 3.9K 59
                                        

“KEI CEPET DONG, UDAH JAM BERAPA TELAT NIH,” suara mama menggema di seisi rumah. Buru-buru aku masukkan kaos kaki kedalam tasku agar bisa kupasang di mobil nanti. Setelah memasang sepatu dengan asal-asalan aku keluar dari kamar.

“KEI NYA UDAH SIAP KOK, INI UDAH TURUN,” teriakku sambil berlari kecil menuruni tangga. Segera saat aku sampai di tangga paling akhir, aku membetulkan sepatuku yang mulai tidak jelas bentuknya setelah dipakai berlari.

“LO?!” mataku membelalak kaget melihat laki-laaki menyebalkan dihadapanku ini. “ngapain lo disini?!” samar-samar, aku mendengar suara mobil yang semakin menjauh.

“Lama banget sih lo,” kata Ivan tanpa menjawab pertanyaanku tadi. Ia mulai beranjak dari sofa dan berjalan keluar. Tapi sebelum dia keluar dari pintu, tanpa menoleh ia mengatakan, “Oya, kata nyokap lo jangan lupa kunci pagar,” lalu menghilang dibalik pintu.

»»»»»»»»»»

Setelah memastikan pagar sudah terkunci, aku masuk ke dalam mobil Ivan yang sudah diisi pemiliknya dan terparkir di depan rumahku. Aku seharusnya sudah bisa menebak ini akan terjadi! Apalagi sih yang sedang direncanakan mama kali ini? Mengingat sifat mama yang terlalu kekanak-kanakan membuat ku kesal dan menendang mobil Ivan.

“Eh, lo barusan nendang mobil gue?!” kata Ivan sambil tetap fokus ke arah jalanan.

“Ga sengaja.”

“Lo beneran nendang Mika?!” kata ivan lagi.

“Mika?”

“Mobil gue.”

Boys and his car, batinku heran. Ada apa dengan para laki-laki yang suka memberi nama mobil mereka?!

“Lo ngapain di rumah gue?” tanyaku sambil menoleh ke arah Ivan.

“Perintah nyokap.” Good. Sekarang tante Dian juga ikut dalam rencana mama. Baru saja aku akan membalas perkataannya, Ivan ganti bertanya, “lo ngapain nendang mobil gue?”

Aku mengabaikan Ivan dan mulai mencari kaos kaki yang tadi kumasukkan dalam tas. Setelah mendapatkan keduanya, aku melepas sepatu dan mengangkat kakiku ke dashboard untuk memasang kaos kaki.

“Gila, gue baru tahu ada cewek kayak lo.”

“Sorry, gue ga mainstream.” Balasku ketus. Ivan hanya diam, balas mengabaikanku. Paling tidak, dia tidak lagi membahas aku yang menendang mobilnya.

Diam-diam aku menghebuskan nafas lega melihat bangunan sekolahku yang mulai tampak. Berada satu mobil dengan Ivan benar-benar awkward dan membuatku tidak nyaman. Bagaimana nanti jika aku jadi menikah dengan orang ini?

“Ki,” panggil Ivan sebelum aku membuka pintu mobil.

“Apa?”

“Nanti gue jemput jam 4,” jawabnya dengan nada datar.

“Kok lo lagi yang jemput gue?” tanyaku heran dengan nada ketus. Tidak lagi aku satu mobil dengan orang ini!

“Fitting baju.”

“Oh.”

.

Hening

“Err,, gue keluar deh,” kataku setelah beberapa menit kemudian tak ada satupun dari kami yang berbicara.

Well, Another awkward moment.

»»»»»»»»»»

Satu hari ini, aku tidak bisa fokus pada satupun pelajaran yang diterangkan. Apa yang dikatakan Ivan sebelumnya masih terngiang di kepalaku.

Fitting baju...

Mama dan tante Dian merancanakan pernikahan kami berdua satu bulan lagi.

Tepat satu bulan lagi aku akan berstatus sebagai istri orang. Mendengarnya saja aku geli. Padahal sedang sering-seringnya iklan pernikahan dini diputar di tv, tetapi itu tidak memberi pengaruh apapun kepada mereka berdua. Untuk membuat situasi ini lebih buruk,fakta bahwa aku bahkan belum punya KTP!

Satu-satunya hal baik yang mereka putuskan adalah aku tidak akan tinggal bersama Ivan meskipun kami telah menikah. Setidaknya, tidak sampai aku lulus SMA.

Memikirkan menjadi seorang ibu rumah tangga membuat perutku tergelitik. Mencuci piring, memasak, mencuci baju, menyetrika, mengepel, dan semua pekerjaan rumah lainnya. Bagaimana bisa aku mengerjakan semua itu sendirian? Mungkin aku bisa mempekerjakan seorang pembantu, tapi apa kami punya uang untuk itu?

Kami.

Aku,

Istri Ivan.

Astaga, Kei Pikiranku mulai mengarah ke hal-hal tidak jelas lainnya. Aku pasti terlalu banyak pikiran, dan satu-satunya hal yang bisa membuatku melupakan ini hanyalah tempat tidur nyamanku saja.

Sayangnya, masih ada fitting baju yang harus kulakukan sepulang sekolah.

»»»»»»»»»»

Hembusan angin segera mengenai tubuhku sesaat setelah aku membuka toko baju ini, atau mungkin namanya butik, atau apa lah itu—aku tak peduli. Beberapa pekerja melihat kami dengan tatapan aneh. Tentu saja! Pasti mereka berfikir bagaimana bisa siswa SMA datang ke toko baju pengantin, masih memakai seragam sekolah pula!

Kulihat ivan sedang berbicara dengan salah satu resepsionis, mungkin menanyakan baju yang telah dipesan mama sebelumnya. Harus kuakui, rencana mama benar-benar tersusun rapi. Ia memikirkan semua detailnya­. Disisi lain aku memuji kerja mama, tapi tetap saja aku kesal. Karena kali ini, akulah objek rencananya. Resepsionis itu tersenyum manis sambil menatap Ivan dengan pandangan kagum—Hal itu jelas sekali terpampang di wajahnya!—Mba resepsionis itu sedang flirting dengan Ivan, sementara Ivan tetap dengan wajah flat-nya. Rasanya aku ingin tertawa di depan wajah resepsionis itu. Lagipula apa sih yang diharapkan si mba resepsionis? Memangnya dia tidak melihat seragam yang dipakai Ivan menunjukkan perbedaan umur mereka yang terlalu jauh?

Terkadang aku tidak mengerti jalan pikiran orang-orang kebanyakan.

Ivan berbalik dan berjalan menuju kearahku. Sekilas kulihat si mba resepsionis mengedipkan sebelah matanya ke arah Ivan. Yang benar saja?! Si mba resepsionis itu pasti benar-benar depresi sampai mengharapkan perhatian seorang anak SMA.

“Lo liatin apaan sih?” suara Ivan membuyarkan lamunanku tentang si mba resepsionis. Aku menoleh dan menyadari betapa dekatnya dia berdiri di sebelahku. Refleks, aku mundur ke belakang.

“Bukan apa-apa, udah selesai kan?” jawabku sambil meringis pelan.

“Lo tunggu aja, nanti teman tante itu bakal ngantar lo ke ruang ganti,” katanya sambil menunjuk si mba resepsionis. Tanpa bisa ku tahan, aku langsung tertawa kencang. Jadi, dari tadi Ivan memanggil si mba resepsionis dengan sebutan tante dan si ‘tante’ malah mencoba untuk mendapatkan nomornya? Oh astaga!

Setelah berhasil menguasai diriku, barulah aku bisa berbicara lagi, “terus dimana temannya si ‘tante’ itu?” tanyaku sambil tertawa pelan. Ivan memandangku aneh, mungkin dia bingung dengan aku yang tiba-tiba tertawa seperti itu. Aku sempatkan melirik si ‘tante’ dan kulihat ia sedang menatap kami berdua dengan tatapan ingin tahu.

Ivan hanya mengendikkan bahu, lalu pergi menuju ruang ganti laki-laki.

Belakangan, kuketahui bahwa nama si ‘tante’ adalah Gina.

***

Hai! ini dikerjain buru-buru banget soalnya kalau gak sekarang, kapan lagi(?) gadeng wkwk. karena minggu-minggu selanjutnya gue bakal lebih sibuk lagi, jadi gue sempetin update sekarang.

Kalau ada kekurangan, bisa langsung kasitau ya;) jangan lupa vote dan commentnya!

xx dai

Highschool MarriageCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang