Ada satu kata yang bisa menggambarkan situasi di dalam mobil sekarang,
Awkward
.
.
Dan hening.
Baiklah, mungkin dua kata.
Disaat-saat seperti inilah aku mengutuk rumahku yang terletak terlalu jauh dari sekolah.
Aku menghela nafas lalu menyandarkan tubuhku di kursi mencoba membuat diriku nyaman. Lagipula aku juga sudah tak bisa melangkah mundur, jadi kenapa tidak? Aku menatap Ivan dari ujung mataku, sejak tadi tidak ada satupun dari kami yang memulai percakapan. Aku memang tidak ingin mengobrol dengan Ivan, tapi aku bisa mati bosan dalam 10 menit kedepan jika tetap diam seperti ini!
“Van”
Tidak ada jawaban.
Aku menatap keluar jendela. Cih, kalau dia tidak dengar, yasudah.
“Apa?”
Hah?
Aku menoleh untuk melihat Ivan. Tidak mungkin kan aku langsung menjawab saja? Siapa tahu dia sedang menelepon. Aku tidak mau membuatku diriku terlihat memalukan.
“Apanya yang apa?” tanyaku saat kulihat dia sedang tidak memegang handphone, yang artinya dia memang berbicara padaku.
“Lo tadi manggil gue”
Oh.
“Gak jadi,” kataku lalu kembali menatap keluar jendela.
.
.
.
Awkward much?
Mungkin, ide mengobrol dengan Ivan tidak terlalu bagus. Dilihat dari bahasa tubuhnya pasti dia bukan tipe orang yang berbicara banyak, dia juga jelas bukan tipe pendengar yang baik. Dia terlihat terlalu kaku, tidak banyak ekspresi yang muncul di wajahnya. Bahkan dia seperti memancarkan aura negatif dari dalam tubuhnya! Oh poor Ivan apa dia bahkan punya teman di sekolah? aku menggelengkan kepalaku dengan dramatis.
“Kiara.”
Holy Sweet. Aku lupa kalau aku berada di sebelah Ivan.
“Ya?”
Hening. Aku tidak tahu apa ini pertanda baik atau buruk.
“Gak jadi.”
Good.
Jadi dia mau balas dendam tentang yang tadi huh? Hilang sudah mood ku untuk mengobrol dengan Ivan, kenapa juga aku mengasihaninya tadi? Terserah kalau aku akan mati bosan, aku sudah tidak peduli lagi. Aku mendengus kesal lalu membuang muka.
»»»»»»»»»»
Aku membuka mataku dengan cepat.
Sial, gue dimana?
Aku menoleh ke samping dan melihat Ivan menggaruk kepalanya—kupastikan, tidak gatal sama sekali. Saat itulah aku tersadar kalau aku masih berada di mobil Ivan.
Gue ketiduran.
Aku mulai membayangkan hal-hal aneh yang mungkin saja kulakukan saat aku tidur. Sampai kapan kamu akan membiarkan dirimu terlihat bodoh, Kei? Dari semua tempat, kenapa harus ketiduran di mobil Ivan??
“Gue gak tahu, kalau kursi gue segitu nyamannya,” sindir Ivan.
No need to be rude, you prick. Aku mendengus kesal dan membenarkan posisi diriku yang berantakan.
“Jadi,”
Apalagi sekarang? Aku melihat ke arah Ivan, dan mendapati dia sedang menatapku Tanpa sadar aku ikut menatap Ivan, membiarkan diriku tenggelam dalam mata coklat yang tajam itu. Entah berapa lama kami saling menatap satu sama lain, hingga Ivan memutuskan kontak kami sambil berkata, “kapan lo mau keluar?”
Sebagian dari diriku kecewa karena mata itu tidak lagi menatapku, tapi otakku bekerja dengan cepat memproses apa yang baru saja dikatakannya. Aku melihat ke arah depan dan menyadari bahwa sejak tadi kami berada di depan gerbang rumahku.
Sial. Aku tidak yakin aku bisa menahan rasa malu yang sudah mau meledak ini. Pertama ketiduran dan sekarang? Astaga Kei!
Aku membuka pintu mobil, menarik tasku, lalu menutupnya kembali dengan cepat. Sudah cukup. Aku melangkah menuju rumah tanpa sekalipun menoleh kebelakang.
»»»»»»»»»»
Aku mendapati mama duduk menungguku sambil tersenyum lebar. Oh tadi pasti salah satu rencananya.
"Gimana tadi perjalanan pulangnya Kei?"
"Selamat sore juga ya ma," balasku sarkastik. Aku baru saja pulang, dan itu hal pertama yang diucapkannya? Ivan pasti sudah meracuni otaknya.
Mama seperti tidak terpengaruh dengan sikapku karena Ia mulai membolak-balik majalah dipangkuannya. Masih dengan senyum yang sama.
Apa-apaan ini? Apa dia lupa kalau aku bahkan belum memaafkannya dari kejadian dua hari yang lalu?!
Aku berjalan dengan marah ke kamar. Sampai disana, Aku menutup pintu lalu menyandarkan tubuhku di sana dengan perlahan. Aku kembali teringat apa yang terjadi di rumah Ivan setelah itu. Kami—tepatnya mama dan tante Dian, aku dan Ivan hanya melakukan protes jika ada yang tidak kami setujui—melakukan diskusi yang panjang mengenai masalah pindah dan setelah beberapa lama, muncul dengan akhir yang pasti. Ivanlah yang akan pindah ke sekolahku. Tentu saja dia marah! Mereka beragumen panjang hingga tante Dian harus menyeret Ivan keluar dari ruangan untuk bicara private dengannya. Aku tidak tahu bagaimana tante Dian mengatasinya tapi saat mereka kembali, aku tidak bisa membaca pikiran laki-laki itu. Wajahnya tidak menampakkan ekspresi apapun.
Ivan akan pindah dua bulan lagi tepat saat pergantian semester.
Dan itu final.
»»»»»»»»»»
“Disini rupanya,” aku berjongkok untuk mengambil handphone ku. Aku menghabiskan hampir satu jam hanya untuk mencari benda kecil ini, dan tebak dimana aku menemukannya? Di bawah lemari! Aku saja tidak tahu bagaimana handphoneku bisa berakhir disitu.
Aku menyeka keringat di dahiku setelah memastikan handphoneku di charge. Hari ini mungkin bukan hari yang menyenangkan, tapi aku tidak bisa bilang bahwa ini hari yang buruk juga, mungkin sedikit memalukan. Yang aku tahu adalah aku benci Ivan, aku benci perjodohan ini, dan hari ini sudah cukup membuat aku lelah, dan disaat kepalaku menyentuh bantal, aku langsung tertidur.
***
Iya, iya saya tahu saya sudah ga update sebulanan, dan saya minta maaf bangeeet!! gue liburan sekitar 3 mingguan dan lupa bawa laptop, jadi gak bisa update :(
Dan saya juga tahu ini bukan part yang kalian harapkan, part ini pendek banget. iya gue juga sadar. awalnya gue mau nulis lebih panjang, tapi mungkin lebih baik kalau di potong disini dulu. doain aja gue cepet nulis part yang selanjutnya, sekali lagi maaf banget!
jangan lupa vote dan comment! kritik dan sarannya aku tunggu:)
xx dai
KAMU SEDANG MEMBACA
Highschool Marriage
Novela JuvenilAku menyayangi mama dan tidak pernah membantah,tapi menikah? yang benar saja! Mama pasti sedang bercanda, kan? Walaupun aku pernah berkata ingin nikah muda, bukan berarti Ia harus menikahkanku di umur 16 tahun! terlebih lagi dengan kakak kelasku sen...
