Lima Belas - Selai Kacang

82K 3.9K 142
                                        

Sinar matahari masuk melewati celah gorden kamarku. Cahaya terang yang muncul tiba-tiba membuat mataku sakit karena belum terbiasa. Sambil menggerutu pelan, aku menutupi wajahku dari sinar.

Jam berapa ini?

Tanganku mulai mencari ke meja di sebelah tempat tidur tempatku biasa menaruh handphone. Sesaat kemudian, aku menemukannya.

09.21

Sepertinya sudah saatnya aku bangun.

...Atau tidak?

Aku menguap.

Baiklah, mungkin 5 menit lagi. Janjiku pada diri sendiri sebelum menutup mata.

Aku membuka selimut yang menutupi tubuhku. Tubuhku sedikit berkeringat karena kepanasan. Sejak kapan ac di kamar tidak menyala?

Aku bangun dan duduk di atas kasur. Sadar bahwa aku telah ketiduran, aku kembali mengecek jam di layar handphoneku.

10.48 huh?

Dan tadi dia bilang hanya lima menit, batinku dengan nada sarkasme.

Aku meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi

»»»»»»»»»»

Suasana rumah begitu hening. Mungkin mama sedang di halaman, atau jangan-jangan ia masih tidur? Aku menuruni tangga sambil mengecek notifikasi di handphoneku. Tak seperti biasanya, tidak ada LINE dari Anne. Mungkin dia punya firasat aku tidak bisa diganggu hari ini.

Memasuki hari keempat liburan semester, aku memutuskan untuk bersantai di rumah. Beberapa hari sebelumnya aku terus keluar bersama Anne. Entah nonton film, atau mencari baju dan sepatu baru—sebenarnya Anne yang ingin membeli dan aku hanya menemaninya, tetapi entah kenapa berakhir dengan aku ikut membeli beberapa barang—, atau hanya sekedar berkeliling mencari tempat makan yang belum pernah kami datangi.

Untuk mengatakan dompetku semakin menipis adalah hal yang bisa dimengerti.

Masih dengan mata yang tertuju pada layar handphone, tanpa sadar aku menguap. Aku menggelengkan kepala. Maksudku, aku bahkan sudah tidur hingga jam 11 siang dan masih tetap mengantuk? Ini bisa menjadi masalah pada saat masuk sekolah nanti.

Aku pergi mengecek kamar mama hanya untuk menemukannya kosong dan sudah tertata rapi. Tak menyerah, aku mulai mencari di ruang tengah, lalu di halaman, dan dapur. Hasilnya tetap tidak ada. Aku duduk di salah satu kursi di ruang makan sambil berusaha mengingat apakah mama ada mengatakan ia akan keluar pagi ini.

Aku sama sekali tidak mengingatnya.

Hey, setidaknya mama bisa memasak sarapan untukku terlebih dahulu. Aku menatap meja makan yang kosong dihadapanku sambil menghela nafas.

Aku meraih telur dari dalam kulkas dan mulai memasaknya.

Tuhan sepertinya punya rencana yang berbeda untuk diriku. Sampai sekarang pun aku masih belum bisa memastikan apakah itu adalah hal yang baik atau tidak. Yang aku tahu hanyalah akhir-akhir ini takdir senang memberiku kejutan yang terlihat sulit untuk kupercaya.

Mulai dari ide mama yang ingin menikahkanku secara tiba-tiba dan begitu saja saat aku baru masuk sma, berlanjut dengan pertemuan pertamaku dengan Ivan yang menjengkelkan, disusul dengan aku menjadi istrinya dan membuat suasana awkward diantara kami sering terjadi, kemudian nilai 40 untuk ulangan sejarah—ini sudah lumayan jika dibandingkan dengan salah satu teman sekelasku yang hanya mendapat 10—, nilai A untuk kimia di rapot semester satuku kemarin (Aku tidak bisa berhenti tersenyum saat melihatnya, guru kimia kami adalah yang terbaik!), dan satu lagi.

Highschool MarriageCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang