"Gak."
"Kei, ayolah. Memangnya Kei gak sayang mama?"
"Ma, Kei sayang mama, tapi bukan kayak gini caranya!" aku mulai merasa kesal dengan pertengkaran ini
"Dia ganteng loh Kei, kamu pasti langsung jatuh cinta kalau liat Ivan."
"Ini bukan masalah itu ma! Kei masih 15 tahun. Baru aja masuk SMA dan sekarang mama mau Kei nikah sama cowok yang Kei bahkan gak kenal siapa orangnya!"
"Kamu sih setiap mama ajak kerumah Bu Dian gak mau. Kalau kamu mau kenalan kan tinggal bilang mama Kei,nanti mama kenalin."
"Ish mam," aku mendecak "Kei gak mau dan GAK AKAN mau kenal sama siapalah-nama-cowok-itu karena Kei ma-"
"Ivan."
"Hah?"
"Namanya Ivan. Ivan Fidallah."
"Whatever."
"Kamu ini sudah seminggu mama cerita tentang Ivan masa' namanya aja kamu gak ingat?"
"Memangnya Kei peduli?! dan ma, sekali lagi KEI GAK KENAL SAMA IVAN."
"Tapi kamu tau tuh, nama dia Ivan."
"Ma!" aku benar-benar lelah dengan semua omong kosong ini
"Kei, sekali ini aja dengarin mama. Kay?"
"No. Serius ma, Kei capek," aku sudah tidak tahan lagi "Sudah satu minggu tiap mama sama kei ketemu yang dibahas cuma pernikahan Kei sama Ivan. Satu minggu kita selalu bertengkar. Satu minggu Kei harus denger semua cerita mama tentang Ivan. Ivan begini, Ivan begitu. Ivan punya ini, Ivan bisa ini. Ivan. Ivan. Ivan aja yang ada dipikiran mama! Kenapa sih mama gak nyerah aja? Kenapa sih mama terus maksa Kei buat nikah sama cowok itu? Kenapa sih mama tetap tanya pendapat kei tentang pernikahan ini kalau mama sudah tau Kei bakal ngomong gak. Memangnya mama segitu pengennya Kei pergi dari rumah ini? Mama gak sayang Kei lagi?"
Muka mama seketika berubah. Ia berjalan mendekatiku, "Kei.." mama memegang pundakku. matanya terlihat berkaca-kaca.
Gue salah ngomong lagi?
"Mama bukannya sudah gak sayang Kei lagi. Mama sayaang banget banget banget sama Kei"
"Lalu kenapa ma?"
"Mama cuma mau Kei bahagia. Mama yakin Ivan bisa. Ivan anak baik. Mama sudah lama kenal dia. Dia sopan, pintar, rajin, sayang orang tua, tinggi, cakep..." "Here we go again. all about mr. perfect "..dan yang paling penting Kei, dia bisa buat kamu bahagia."
"Kei bahagia kok ma. Kei punya mama, punya papa, punya temen-temen yang bisa Kei andalin. Kei dikelilingin sama orang-orang yang sayang Kei. Jadi kenapa mama butuh Ivan untuk buat Kei bahagia? I don't need him. We are not. Kei sudah bahagia banget sekarang, jadi mama gak perlu khawatir lagi."
"Gak, Kei. Kebahagiaan tertinggi seorang wanita itu ketika dia punya seseorang yang bisa dipercaya untuk membagi beban yang ada. Seseorang yang akan selalu ada disamping kita dalam keadaan apapun. Seseorang yang akan menjadi alasan kita tersenyum dan menghapus setiap air mata kita. Seseorang yang kita cintai dan mencintai kita."
"Iya Kei ngerti, tapi Kei gak cinta dia dan dia juga gak cinta Kei. Kei masih 15 tahun, ini bukan jaman dulu dimana umur segini perempuan diluar sana sudah menikah. Kei punya sekolah yang lebih penting, ma. Kalau Kei punya waktu buat mikirin hal-hal kayak gini itu nanti, setelah sekolah Kei selesai."
"Kamu gak ngerti Kei", mama menggelengkan kepalanya dan menatapku sambil tersenyum sedih. "Gimana kamu mau ngerti kalau kamu pacaran saja gak pernah?"
"memangnya pacaran bisa bikin Kei pinter? GAK kan ma?"
"Kei! anak mama itu cuma kamu, mama gak mau mati sebelum liat kamu nikah!"
"MAMA KOK NGOMONGNYA GITU SIH?"
"Kei.." mama mulai mengeluarkan jurus andalannya, melihatku dengan tatapan memohon seakan-akan akulah alasan ia hidup.
"Gak mempan sama Kei ma."
"Kei ka-" ucapan mama terhenti ketika mendengar ringtone handphonenya berbunyi. Wajahnya berubah senang saat melihat nama orang yang meneleponnya. Ia beranjak dari kursi dan menjauh kemudian mengangkat telepon itu, mengangguk beberapa kali sambil tersenyum.
Siapa?
Mama menutup telepon itu sambil tersenyum puas. Lalu ia menatapku dengan wajah yang serius, "Kiara Savira-"
feeling gue gak enak. Setiap kali mama memanggil dengan nama panjangku, itu artinya dia serius. benar-benar serius.
"-besok kamu ikut mama ke rumah Bu Dian." Hell. ini bahkan tidak terdengar seperti pertanyaan melainkan pernyataan
"Ta-"
"Tidak ada 'tapi'. Besok pulang sekolah kamu harus langsung pulang," mama memberiku tatapan mematikannya "ini perintah, dan jangan coba-coba kabur dengan berbagai alasan ataupun sengaja tidak pulang ke rumah."
Aku menatapnya dengan kesal, "Apa lagi sih, ma?"
"Kita akan ketemu Ivan."
***
Hai! Jadi menurut kalian gimana? jangan lupa vote dan comment yaa;)
xx dai
KAMU SEDANG MEMBACA
Highschool Marriage
Novela JuvenilAku menyayangi mama dan tidak pernah membantah,tapi menikah? yang benar saja! Mama pasti sedang bercanda, kan? Walaupun aku pernah berkata ingin nikah muda, bukan berarti Ia harus menikahkanku di umur 16 tahun! terlebih lagi dengan kakak kelasku sen...
