Aku mengusap mataku dan mencoba untuk tidak menguap (lagi).
Aku tidak bisa tidur nyenyak semalam dan Ivan sudah membangunkanku pagi-pagi sekali. Aku bahkan sama sekali tidak ingat bagaimana aku bisa berakhir di mobil ini bersamanya. Kesadaranku belum terkumpul sepenuhnya jadi aku hanya mengikuti apa yang dikatakan Ivan. Dari sudut mataku terlihat jam di mobil menunjukkan angka 6. Apa hanya aku yang merasa bahwa ini masih TERLALU pagi untuk terjaga di hari minggu?!
Orang disebelahku ini jelas tidak sependapat denganku. Dibandingkan aku yang daritadi terus menguap, Ivan terlihat begitu segar. Aku sama sekali tidak melihat ia menguap sejak tadi. Yah, sebenarnya itu ada baiknya. Mengemudi dalam keadaan mengantuk benar-benar berbahaya tahu.
Aku menyenderkan kepalaku di kaca mobil dan memandangi Ivan. Entah apa yang sedang kulakukan. Aku masih belum sadar sepenuhnya, oke?
Click.
"Lain kali kalau mau senderan kayak gitu, pastiin lagi pintunya udah tertutup rapat sama udah kekunci," kata Ivan setelah menggunakan central lock untuk mengunci semua pintu mobil. Aku tersenyum mendengarnya, ia langsung tahu tanpa menoleh sama sekali.
"Tadi perasaan udah aku kunci kok," balasku.
Kali ini, Ivan menoleh melihatku. Ia menaikkan kedua alisnya.
"Apa?"
Ia menggeleng pelan lalu mengalihkan pandangannya ke jalan. Aku mungkin masih kehilangan kesadaranku, tapi aku yakin aku melihat Ivan tersenyum.
Dasar aneh. Memangnya apa yang lucu?
"Kalau ngantuk tidur aja dulu, Ki." Kata Ivan tak lama kemudian saat aku menguap untuk yang kesekian kalinya.
"Hmm," aku bargumam tidak jelas sambil menggelengkan kepala.
"Gue kepagian ya?"
Aku menganggukkan kepala.
"Yaudah tidur aja. Jalanan ga terlalu macet kok, jadi kita mungkin sampainya lebih cepet." Tanpa menunggu balasan, Ivan menarik tanganku dan mencoba membenarkan posisi dudukku. Sementara aku, hanya diam dan menjadi gadis penurut. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk terlelap setelah itu.
.
Aku membuka mata dan rasa panik langsung mengalir di tubuhku saat menyadari bahwa aku masih di mobil Ivan. Dan mobilnya tidak bergerak. Dan kami berada tepat di depan rumahku. Tsk, aku memukul kepalaku menyesal. Aku pasti ketiduran lagi.
Aku menoleh dan mendapati Ivan sedang sibuk dengan handphonenya. Sekarang, aku baru menyadari bahwa sandaran kursiku sudah diturunkan. Mengapa aku tidak terbangun sama sekali saat itu?! Aku memukul kepalaku lagi.
"Lo punya kebiasaan ngelakuin itu." Ivan yang pertama bersuara di antara kami.
"Ngelakuin apa?" aku menatapnya bingung.
"ini," jawab Ivan sambil memukul kepalanya, menirukan diriku.
"Sudah daritadi ya sampainya?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Ivan menaikkan alisnya. Iya.
"Tsk," aku menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal, mencoba menutupi rasa malu. "Kenapa lo gak ngebangunin gue aja?"
Ivan mengendikkan bahu, "lo kelihatannya nyenyak banget."
Aku merasa seperti déjà vu. Beberapa bulan yang lalu, di tempat yang sama dan posisi yang sama. Aku melakukan hal yang juga sama.Satu-satunya perbedaan hanyalah sikap Ivan. Beberapa bulan lalu ia akan menungguku terbangun dan menyindirku dengan kata-katanya yang tajam, tapi sekarang aku bahkan sama sekali tidak mendengarnya. Aku tak tahu berapa banyak hal yang sudah kami lalui di beberapa bulan terakhir ini. Namun pasti, jumlahnya sangat banyak karena kami bisa sampai hingga titik ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Highschool Marriage
Teen FictionAku menyayangi mama dan tidak pernah membantah,tapi menikah? yang benar saja! Mama pasti sedang bercanda, kan? Walaupun aku pernah berkata ingin nikah muda, bukan berarti Ia harus menikahkanku di umur 16 tahun! terlebih lagi dengan kakak kelasku sen...
