Dua Puluh - Surprise(s)

61.3K 3.5K 1K
                                        

Hi, its been too long that I miss you badly..

--------------------

"Nungguin apa sih, Kei? Daritadi lo ngecek hape mulu."

Aku menggelengkan kepala, "Nggak kok, Ne."

"Cih, mau bohong lagi lo. Udahlah Kei, sama gue aja masih pakai rahasia-rahasiaan."

"Nngg..." aku bergumam sambil mencoba mencari jawaban yang pas untuk Anne.

"Yang gue perhatiin daritadi, Kei, lo tuh disini tapi gak kayak disini. Pikiran lo itu ada di handphone lo." jelas Anne panjang lebar. "Gue tebak, pasti lo lagi nge-chat sama cowo, ya?"

"Cowok apa lagi, Ne? Gak jelas lo." Bantahku cepat. Aku menggenggam tanganku yang mulai berkeringat.

"Loh? Ini serius gue, Kei. Kalau ada kak Adit disini, pasti dia bakal ngomong kayak gitu juga."

Ah, benar. Adit.

Hari ini adalah salah satu hari dimana aku dan Anne tidak berkumpul di kantin dengannya. Mulai dari kemarin lusa, seluruh murid kelas tiga sedang melaksanakan tryout persiapan ujian nasional dan mereka diperbolehkan langsung pulang jika telah selesai mengerjakan ujian. Itu sebabnya, Adit tidak bersama kami hari ini.

Dan karena itu juga, sudah dua hari aku tidak pulang bersama Ivan. Tidak hanya pada saat pulang, tapi berangkat sekolahpun kembali menjadi tugas mama. Pada awalnya, Ivan masih menjemputku di hari pertama. Sayangnya, hari itu aku bangun kesiangan hingga hampir membuat Ivan terlambat ujian. Aku yang tau diri akhirnya meminta Ivan untuk tidak perlu menjemputku lagi. Setidaknya selama ujian.

Yah, bagaimana ya? Aku tidak bisa berbohong mengatakan aku tidak ingin diantar-jemput olehnya. Maksudku, dalam beberapa hari terakhir ini kami menjadi lebih dekat dan terbuka satu sama lain. Kami juga mulai teratur berkomunikasi lewat handphone. Ivan bisa menjadi benar-benar random, tahu. Kami sedang membicarakan bagian-jalan-mana-yang-sering-di-razia-polisi dan menit selanjutnya bisa berganti menjadi kenapa-tahu-isi-di-kantin-isinya-sayur.

Jangan tanya dimana nyambungnya.

Tadi pagi dia mengirim pesan meminta maaf karena semalam ketiduran. Aku sudah membalasnya, tapi sampai sekarang balasan Ivan tidak juga muncul. Kalaupun tadi dia tidak bisa membalasnya karena ujian, saat ini hampir seluruh murid kelas tiga sudah meninggalkan sekolah. Jadi, kenapa?

Mungkin, dia masih di jalan. Aku mencoba berpikir positif dan menghela nafas.

Sabar.

Aku merindukan orang itu, tapi ia juga harus fokus dengan ujiannya, kan?

"Tuh kan, sekarang lo malah melamun." Suara Anne lagi. Aku meringis menatapnya.

"Kalau gue gak kenal lo orangnya kayak mana, gue pasti udah mikir lo lagi jatuh cinta."

Aku sedikit terbatuk mendengar ucapan Anne. "A-apa??"

"Jatuh cinta, Kei." Anne kemudian tertawa kecil, "aneh banget ya. Kok gue mikirnya sampai kesitu."

Gue...jatuh cinta sama Ivan?

"Gak mungkin kan." Katanya lagi sambil menggelengkan kepalanya.

»»»»»»»»»»

Aku menutup pintu mobil dan menaruh tasku di kursi belakang.

"Hai," sapa mama dari belakang kemudi.

"Hai ma," balasku sambil tersenyum tipis lalu menyenderkan tubuhku di kursi. Aku memutar handphone ditanganku dengan malas. Masih tidak ada balasan dari Ivan.

Highschool MarriageCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang