"Lepas sepatu kamu itu, Kei." Mama menatapku dengan sengit.
"Ugh, No way mam! Apa salahnya kalau Kei pakai converse sih? Ini bahkan bukan acara resmi atau apapun," balasku tak kalah sengit. "Mama sudah paksa Kei buat pakai baju jelek ini jadi jangan berharap Kei akan melepaskan yang satu ini."
"Dress, Kei! Dress bukan baju jelek. Harusnya kamu itu lebih sering pakai dress kayak gini, bukannya malah pakai jeans setiap hari."
"Dan membuat Kei jadi seperti perempuan jadi-jadian?"
"Perempuan jadi-jadian apanya Kei? Kamu justru terlihat lebih cantik, tau gak?" sebelum aku sempat membantah, mama menambahkan "Intinya adalah, sepatu kamu itu membuat tampilan kamu jadi gak matching."
Aku meneliti penampilanku di depan cermin. Dress selutut berwarna putih dengan tidak terlalu banyak motif membuat dress ini terlihat simple dan casual tapi tidak terlihat murah, rambutku—mama membuatku pergi ke salon. Ia bahkan duduk di kursi tunggu sambil tetap mengawasiku, memastikan aku tidak melakukan hal-hal bodoh. Rasanya itu adalah 2 jam terlama sepanjang hidupku dan akan aku pastikan aku tidak akan menginjakkan kakiku di salon lagi. Seriously, Aku tidak mengerti kenapa justru perempuan masa kini sangat senang menghabiskan waktunya di salon? ah! dan jangan lupa dengan make up yang mereka pakai setiap harinya, membuat umur mereka terlihat lebih tua—dibiarkan terurai.
Entah apa yang diberikan oleh mba-mba di salon tadi membuat rambutku menjadi lebih lembut dan berkilau atau apalah itu. Sepintas aku merasa seperti perempuan di iklan shampoo. Kemudian wajahku, mama memoleskan make up tipis yang menurutku membuat wajahku terlihat aneh. Aku hampir menghapusnya dengan air ketika mama memergokiku, Ia marah dan justru menambahkan make up lagi sebagai hukuman. Membuat wajahku bertambah berat.
Terakhir adalah sepatuku, converse polos berwarna putih. Aku rasa tidak terlalu buruk memadukan converse ini dengan dress putih yang kupakai, malah itu membuatku terlihat seperti 'aku'. Tapi mama tetap memaksaku memakai wedges putih—yang tidak terlalu tinggi tapi cukup membuatku tidak bisa berjalan dengan baik—dan sangat tidak 'aku'. Apapun yang terjadi aku tidak akan mengganti sepatuku ini.
"Mama mau Kei jadi gak bisa jalan karena sepatu yang mama pilih itu?"
"Kei-"
"Please ma. Kei sudah nurutin semua kemauan mama, jadi tolong biarkan Kei pakai converse.
Setidaknya ini membuat Kei tidak kehilangan diri Kei yang sebenarnya."
Mama terdiam sesaat kemudian berbalik pergi tanpa mengucapkan apapun lagi.
Akhirnya ia menyerah juga.
drrtt drrtt. Handphoneku bergetar tanda sebuah pesan masuk. aku mendekati tempat tidur dan membaca pesan yang tertera di layar handphoneku itu.
10 menit lagi kita berangkat.
Aku menghela nafas. Kebiasaan mama ketika marah adalah ia tidak akan berbicara dan malah mengirim sebuah sms sebagai alternative. Benar-benar buang-buang pulsa.
Aku berdiri dan melihat pantulan diriku di cermin sekali lagi. Aku tahu aku tidak jelek, tetapi tidak pernah kubayangkan orang yang ada di cermin itu adalah aku. Teman-temanku juga pasti tidak akan ada yang percaya. Aku menggelengkan kepala dan beranjak dari cermin. Aku memutar kenop pintu kamarku seraya turun untuk menemui mama di bawah.
»»»»»»»»»»
Mobil kami mulai memasuki halaman rumah yang aku pastikan adalah rumah tante Dian. Mama mematikan mesin mobil kemudian menoleh ke arahku, "Ingat apa kata mama, Kei. Jaga sikap kamu dan jangan berpikir untuk bertindak aneh-aneh."
aku tersenyum manis, "Ah kapan sih Kei pernah aneh-aneh, ma?"
"Mama serius Kei."
aku menghela nafas lagi—yang belakangan ini telah menjadi kebiasaanku. "Iya Kei tahu mam, tapi ingat juga janji mama. Pertemuan ini bukan acara perjodohan atau semacamnya karena Kei merasa tidak pernah mengatakan setuju," aku menekan kata-kataku menegaskan janji yang kami buat kemarin. "Jadi asalkan mama menepati janji mama, Kei tetap jadi anak manis."
Tanpa menunggu balasan, aku keluar dari mobil menunggu mama melakukan hal yang sama. Bisa kubilang rumah tante Dian cukup besar. Tidak biar aku koreksi, rumah ini sangat besar. Halamannya saja lebih besar dari rumahku!
Mama melangkah mendekati pintu depan yang sudah terbuka. Ada dua orang pelayan wanita berseragam berdiri di samping pintu. Aku berjalan di belakang mama, membiarkan ia memimpin jalan.
Aku kembali menghela nafas untuk yang kesekian kali. Sekarang, aku benar-benar tidak bisa kabur lagi.
***
Hai! Part ini belum ada Ivan, tapi selanjutnya dia akan muncul kok. Kalau dibayangan kalian Ivan tuh gimana orangnya?
Jangan lupa di vote dan comment jadi gue tau pendapat kalian tentang cerita ini, 'cause I have no idea kalian suka atau gak. oke bye!
xx dai
KAMU SEDANG MEMBACA
Highschool Marriage
Teen FictionAku menyayangi mama dan tidak pernah membantah,tapi menikah? yang benar saja! Mama pasti sedang bercanda, kan? Walaupun aku pernah berkata ingin nikah muda, bukan berarti Ia harus menikahkanku di umur 16 tahun! terlebih lagi dengan kakak kelasku sen...
