Gulf Kanawut Traipipattanapong, sosok pria manis, lugu dan imut, yang membenci pria kaya sejak ayahnya membuang ibunya, untuk menikahi wanita lain demi uang.
Ia hidup dengan ibu tiri, saudara tiri dan ayahnya yang kejam, menurut Gulf hidupnya lebih...
"Tanda tangani surat-surat ini dan pergi dari sini" teriak pria tampan yang sudah berumur, ia melemparkan surat cerai ke dekat perempuan yang terlihat mengenaskan.
"Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Kamu tidak bisa meninggalkanku begitu saja demi pelacur itu! Demi uang!!!" Perempuan itu berteriak dengan lantang.
"Jangan berani-berani memanggilnya begitu. Keluar!" Dengan marah ayahku menghampiri ibuku dan menamparnya, membuat ibu jatuh ke tanah.
"Oke" ibuku menghela nafas dalam kekalahan. "Aku akan menandatanganinya tapi, tolong biarkan aku membawa Gulf bersamaku. Tolong. Aku tidak akan bisa hidup tanpa putraku", pintanya.
"Kalau begitu mending kau mati!", Ayah menyalak, menyeret ibu keluar dari rumah, dengan semua kebencian yang Ayah rasakan. "Kamu pantas mendapatkannya, jalang. Sekarang jangan pernah tunjukkan wajah kotormu ini lagi atau aku akan membuat hidup putramu seperti neraka!"
"Tidak tolong! Tolong jangan ganggu dia. Jo-", lalu Ayah membanting pintu hingga tertutup, dan mulai berjalan menuju kamarku.
"Ayah. A.. ayah aku.. aku m...maaf" kataku terbata-bata karena takut.
Perkelahian antara ibu dan ayahku bukanlah sesuatu yang baru. Perkelahian terjadi setiap harinya. Ayah pulang dalam keadaan mabuk dan mulai memukuli ibu. Ibu akan mengunciku di dalam kamar setiap hari, sebelum ayah pulang, untuk menyelamatkan diriku dari amarahnya.
Hari ini, ibu mengetahui bahwa ayah berselingkuh dan memutuskan untuk menghadapinya, tetapi ayah malah menyerahkan surat cerainya. Aku mendengar semuanya saat terkunci di kamarku.
Ibu adalah orang yang selalu menyelamatkanku dari pukulan ayah, tapi sekarang bagaimana? Ibu telah pergi. Aku terus berpikir, seberapa jauh ayahku akan menyiksaku sekarang.
Rasa takut itu membuatku membeku di tempat, "T..tolong M..maafkan aku. J...jangan sakiti aku", pintaku.
PLAK!
"Pergi dan ambilkan aku anggur!", dia menggeram, dan mendorongku keluar dari ruangan.
Aku menyeret kakiku ke dapur, dengan air mata mengalir di pipiku. Mengambil anggur dari lemari es, dan menuangkannya ke dalam gelas.
"Apa yang membuatmu begitu lama? Cepat!" terdengar suaranya yang marah.
Aku buru-buru mengambil gelas dan pergi ke perapian, tempat ayahku duduk. Ia tersenyum puas seolah menunjukkan betapa bangganya dia atas apa yang terjadi hari ini.
Ia mengambil gelas dari tanganku, dia meneguk minuman pertamanya. "Bukan yang ini, kau anak tak berguna!" dia berteriak dan melemparkan gelas ke arahku.
Aku menghindarinya dengan hati-hati, tapi sialnya kakiku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai, dengan semua pecahan kaca menembus kulit kakiku. Darah mulai mengalir dari luka baru, mengotori karpet.
"Hebat! Sekarang kamu merusak karpetku. Bersihkan semua ini sebelum aku kembali atau bersiaplah untuk menghadapi konsekuensinya" ancamnya, berjalan menuju pintu.
Air mata pun jatuh dari mataku, tetapi itu bukan karena lukaku, tetapi karena fakta bahwa ayahku sendiri bisa memperlakukanku seperti ini.
Ibu, di mana kamu? aku bertanya dalam diam.
*************
Keesokan paginya, aku terbangun dan mendapati diriku berada di posisi yang sama dari tadi malam, di atas karpet yang dikelilingi pecahan kaca.
Oh tidak! Dia memintaku untuk membersihkan kekacauan ini!
Aku segera bangkit, meski kakiku protes karena kesakitan. Aku memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu, menghilangkan pecahan kaca dari kulitku.
Butuh waktu satu jam untuk membersihkan kekacauan itu. Aku mulai menuju kamarku ketika aku mendengar pintu depan terbuka. Aku berharap tidak melihat ayahku, tapi dugaanku salah, ia datang dengan wanita di sampingnya.
"Gulf! Gulf! Di mana kamu?!" Teriak ayah.
Aku berjalan menuju pintu masuk agar dia bisa melihatku. Dia berbalik ke arah wanita itu, yang mengenakan gaun putih.
"Mild, ini Gulf, aib yang kuceritakan padamu" Wanita seksi menatapku jijik dan berbalik ke arahnya lagi, "dan Gulf, ini Mild, istriku".
Mendengar kata-katanya, membuatku kaget, tapi aku tetap memasang wajah kosong. Setelah semalam mengusir ibuku, sekarang dia sudah memiliki istri, sungguh gila.
Mild datang ke arahku, dengan senyum jahat di bibirnya, "Halo Gulf, aku ibumu sekarang"
"Tidak, bukan!" Aku berteriak, tanpa berpikir.
"Bicaralah dengan sopan pada ibumu, Gulf!" ayahku, atau haruskah aku tidak menyebutnya ayah.
"Dia bukan ibuku" kataku dengan kemarahan yang mendorongku, "kau mengusirnya. Dia n..."
PLAK!
"Dia adalah ibumu mulai sekarang!" Joss lagi-lagi menampar Gulf, sementara wanita yang berdiri di sampingnya menyeringai.
Hidupku seperti neraka!
Ibu, di mana kamu?
kumohon datang kembali.
Tolong.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.