CHAPTER 18 - LITTLE GIFT

5.5K 443 30
                                        

Aku berdiri terpaku saat Mew menggerakkan bibirnya ke bibirku, jantungku berdetak kencang saat dia mengencangkan cengkeramannya di pinggangku dan menarikku lebih dekat padanya.

Awalnya ciuman itu sederhana dan manis, tetapi kemudian menjadi menuntut dan penuh gairah saat Mew menjelajahi mulutku.

Setelah entah berapa lama, dia berhenti dan menatapku, aku langsung memalingkan pandanganku ke arah lain, sangat amat malu.

"Kamu terlihat sangat menggemaskan, saat malu-malu kucing seperti ini" kata Mew dan terkekeh, memegang daguku dengan jari telunjuk dan ibu jarinya membuatku menatap matanya.

"Aku berjanji kamu tidak akan menyesali keputusan menikah denganku" katanya, wajahnya berubah serius.

"Aku tahu" bisikku, wajahku memerah.

Kami duduk di sofa, lalu kembali mendiskusikan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan kami. Aku tidak mengatakan apa-apa dan hanya mendengarkan atau lebih tepatnya seperti meneteskan air liur padanya.

Dia benar-benar sangat tampan.

Aku pernah mendengar Krist dan Win berbicara tentang penampilannya, tetapi sekarang aku menyadari bahwa dia lebih dari apa yang mereka katakan. Segala sesuatu di sekitarnya meneriakkan kesempurnaan. Bagaimana bisa seseorang yang begitu tampan memilihku?

"Menyukai pemandangan indah ini ya?" Dia berkata menggoda, membawaku keluar dari lamunan.

Aku segera mengalihkan pandanganku, dia tertawa. Oh, betapa aku senang mendengar tawanya!

"Kita akan menikah sebulan lagi!" Dia menyatakan dan aku menatapnya kaget, mulutku terbuka lebar.

"Tapi, tidakkah menurutmu itu terlalu cepat?" Aku bertanya padanya dan dia hanya tersenyum.

"Aku ingin kamu menjadi milikku secepatnya, sayang" katanya sambil mengecup hidungku.

Kami berbicara lebih lama, sebelum akhirnya Mew mengantarku pulang. Aku tidak menyadarinya tapi ini sudah lewat tengah malam.

Sampai di rumahku, kami turun dari mobil. Aku tersenyum pada Mew dan berbalik untuk pergi ketika dia menangkap lenganku dan mengecup bibirku.

"Rindukan aku ya sayang" dia tersenyum dan aku masuk kedalam rumah.

*****

Keesokan paginya aku bangun dengan senyum cerah terpampang di bibirku. Baru kemarin aku menenangkan diri agar tidak menangis lagi dan hari ini aku menyeringai seperti orang idiot.

Aku bersiap-siap ke kantor dan turun untuk sarapan. Jane (ART) memberitahuku bahwa semua orang sudah pergi bersama ayah. Aku segera mengambil sepotong roti dan berlari keluar untuk mengejar taksi.

Saat aku hendak memasuki gedung kantor, aku melihat lamborghini merah terparkir tepat di sebelah pintu masuk.

Diatasnya ada pita merah dan tanganku gatal untuk menyentuhnya, tetapi aku menahan diri untuk tidak melakukannya. Jika aku membuat goresan di atasnya, pemilik pasti akan menuntut.

Aku terkekeh pada pikiranku sendiri dan masuk ke dalam. Menenggelamkan diri dalam pekerjaan, aku benar-benar lupa tentang segalanya. Saat itulah teleponku berdering, aku menyadari bahwa sudah melewatkan makan siang.

"Halo?" Kataku tanpa memeriksa id penelepon.

"Maaf aku tidak bisa menerima teleponmu kemarin, aku sedang sibuk" Win meminta maaf.

"Jangan pikirkan aku. Aku bisa mengerti kamu tidak punya waktu untukku sekarang, aku tahu kamu tidak mencintaiku" kataku dramatis, menahan tawaku.

"Kamu menyebalkan! Aku melewatkan pekerjaanku selama empat hari. Itu hanya untukmu sialan dan sekarang kamu melakukan ini! Jika aku tidak bekerja seperti orang gila dan menyelesaikan semuanya kemarin, bosku akan memecatku!" Dia mulai berteriak di akhir dan aku tertawa terbahak-bahak.

Rich Man - MewGulf ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang