Harusnya Ibu dan Anak memiliki perasaan saling menyayangi dan saling menjaga satu sama lain namun berbeda dengan Lalisa Eliora dan Ibunya Jisu Castella yang selalu bertengkar setiap saat terutama saat Lisa menanyakan siapa Ayahnya.
Semua yang di lak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
This Story's mine so don't plagiarism
Happy Reading
Keesokan hari nya Lisa sudah bersiap untuk menemui Ibu nya,ransel sudah ia kenakan dan juga baju dingin mengingat ini bulan desember pasti banyak salju dan dingin. Semalam Paman Al memberinya baju,katanya sih bekas pakaian keponakannya yang pernah tinggal di rumah ini dan juga membelikannya jaket tebal agar dia tidak kedinginan.
Paman Al baik sekali,tidak seperti Putranya yang amat sangat menyebalkan.
Tok! Tok!
"Lalisa,kau masih hidupkan? Ayo keluar dan sarapan bersama,Ayah sudah menunggu."teriak Vee dari luar sana sembari mengetuk pintu kamar Lisa berulang kali.
Lisa berdecak kesal lalu membuka pintu. "Bisakah kau lebih sopan? Sudah berapa kali aku bilang tidak perlu berteriak karena pendengaran ku masih sangat baik,lain kali aku akan memplester mulutmu yang suka berteriak itu."katanya garang lalu mendorong tubuh Vee yang menghalangi jalannya dan langsung menemui Paman Al.
Vee mencibir sebal. "Sudah baik aku mau mengantar mu menemui Jisu,dasar tidak tau terima kasih."decaknya lalu menghampiri Lisa dan sang Ayah yang sudah memulai sarapan.
Paman Al menatap Lisa. "Kata Vee kau itu sepupu jauh Jisu ya?"ucap nya.
Jadi, Pria itu mengatakannya pada Ayahnya.
Dasar tukang ngadu!
Lisa menganggukkan kepalanya. "Iya,aku minta maaf karena sudah membohongi Paman. Aku tidak bermaksud melakukannya."ujar gadis itu dengan suara pelan.
"Tidak apa-apa,nanti Vee akan membawamu menemui Jisu."kata Paman Al sembari menepuk pelan bahu Lisa.
Gadis itu tersenyum lebar. "Terima kasih,Paman."
Melihat keakraban Lisa dan Ayahnya membuat Vee memutar bola mata nya jengah,kalau di hadapan Ayahnya saja Lisa tak pernah menunjukkan taring nya tapi kalau di hadapannya,gadis itu selalu memperlakukannya seperti musuh bebuyutan.
Perasaan mereka baru pertama kali bertemu,ada dendam pribadi apa sih Lisa padanya?
"Kenapa diam saja,Vee? Tidak ingin makan?"tanya Al menatap Putranya ini.
Vee tersentak lalu menggeleng. "Bukan Ayah,hanya sedang memikirkan sesuatu saja."jawabnya lalu menyuapkan nasi ke mulut nya sembari sesekali melirik kearah Lisa yang sibuk makan,tidak disangka kalau gadis itu lumayan menggemaskan saat sedang makan.
Al tersenyum melirik Vee dan Lisa bergantian lalu berdehem. "Makan,Vee. Kalau kau tidak mau makan biar makananmu berikan saja pada Lisa, sepertinya dia masih bisa menghabiskan sarapan mu."kata pria paruh baya itu.
"Enak saja,aku mau makan."
Lisa mengerutkan keningnya. "Tenang saja,aku tidak akan memakan nasi atau makanan lainnya yang sudah kau sentuh. Aku bisa muntah."ucapnya seraya menyeringai kearah Pria itu.