Harusnya Ibu dan Anak memiliki perasaan saling menyayangi dan saling menjaga satu sama lain namun berbeda dengan Lalisa Eliora dan Ibunya Jisu Castella yang selalu bertengkar setiap saat terutama saat Lisa menanyakan siapa Ayahnya.
Semua yang di lak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
This story is mine so don't plagiarism
Happy Reading.
Lisa menghela nafas panjang. "Kau bahkan tau perasaan Jisu terhadap Vee tapi pria itu malah tidak peka sama sekali,aku bingung sebenarnya Vee itu bodoh atau apa sih."ucapnya.
"Dia tidak bodoh,Lisa. Mereka sahabatan sejak dulu dan mungkin sedari awal dimata Vee, Jisu tak pernah lebih dari seorang sahabat."ujar Ramon.
Sungguh mendengar perkataan membuat Lisa merasa takjub,pemuda yang ada di hadapannya terlalu dewasa menurutnya. Walaupun Ramon terlihat senyum tapi Lisa tau kalau sebenarnya hati pemuda itu tengah sakit saat ini,dari pandangan dan perhatian yang selama ini Ramon berikan pada Jisu membuatnya berasumsi kalau memang wakil ketua kelas nya ini menyimpan perasaan lebih.
"Ramon,apa kau baik-baik saja?"
Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti."katanya bingung.
Lisa tersenyum tipis. "Perasaanmu pada Jisu, aku tau selama ini kau menyukai Jisu. Kau memang tidak mengatakannya tapi semua perhatianmu sangat kentara."ucapnya.
Ramon terdiam beberapa saat kemudian menggaruk tengkuknya. "Ah,kupikir tidak akan ada yang menyadarinya. Ternyata aku salah ya, padahal aku sudah berusaha mengontrol diriku tapi tetap ketahuan juga."paparnya diakhiri dengan kekehan kecil.
"Kenapa kau bisa setenang ini,Ramon? Harusnya kau berjuang seperti yang Kak Jin lakukan."ujar Lisa.
Pemuda itu kembali tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan melakukannya,Lisa. Sejak awal aku sudah tau kalau sebenarnya aku tidak akan bisa memiliki hatinya,Jisu terlalu sempurna bagiku dan aku merasa tidak setara apabila bersanding dengannya."paparnya.
Apa ini yang di sebut Insecure?
Lisa mendengus kesal. "Kenapa tidak setara? Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?"tanyanya.
Ramon menghela nafas panjang. "Lihat aku Lisa,aku bukan pria tampan seperti Kak Jin atau Vee. Aku tidak sepadan dengan sepupumu itu."katanya.
"Berhenti merendahkan dirimu,Ramon. Tidak perlu tampan yang terpenting bisa mencintai Jisu itu sudah lebih dari cukup."ucap Lisa yang merasa kalau perkataan Ramon itu salah.
Pemuda itu terkekeh pelan. "Kalian berdua sangat berbeda, Lisa. Pertama kali bertemu denganmu kupikir kau tidak bersahabat dan terlihat sangat menyeramkan tapi ternyata aku salah,kau sangat bersahabat dan bisa menjadi temanmu adalah keberuntunganku."tuturnya.
"Aku lapar,Ramon."
Ramon terdiam beberapa saat menatap Lisa kemudian mendirikan tubuhnya.
"Ibu,putrimu lapar!"teriak nya cukup keras.
"Ibu sudah menyiapkan makan siangnya."
Pemuda itu beralih menatap Lisa. "Kau sudah dengarkan? Ibu sudah menyiapkan makan siang untuk kita berdua,kau benar-benar sudah menjadi Putri Ibuku."katanya membuat Lisa mau tidak mau tertawa.