Harusnya Ibu dan Anak memiliki perasaan saling menyayangi dan saling menjaga satu sama lain namun berbeda dengan Lalisa Eliora dan Ibunya Jisu Castella yang selalu bertengkar setiap saat terutama saat Lisa menanyakan siapa Ayahnya.
Semua yang di lak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hello!
This Story's mine so don't plagiarism.
Happy Reading.
Ramon menghentikan langkahnya tiba-tiba lalu menatap kearah Vee yang baru saja membuka pengaman sepeda nya.
"Vee,apa kau sudah menemui Pak Ken?"tanya Pemuda itu.
Vee menghentikan aktivitasnya kemudian menatap Ramon. "Belum,aku lupa. Aku akan menemuinya sekarang."katanya lalu melangkah pergi namun ia kembali memutar tubuhnya dan langsung menghampiri Lisa yang berdiri di samping Jisu.
Gadis itu menatap bingung kearah Vee yang berdiri di hadapannya. "Ada apa?"tanyanya.
"Temani aku ya,kau bisa ku jadikan alasan kalau Pak Ken menahanku terlalu lama. Kalian pergi duluan saja ke tempat Jisu,kami akan menyusul."ucap Vee menarik tangan Lisa agar ikut bersamanya sebelum gadis itu protes.
Jisu menatap diam kepergian Vee dan Lisa,ia tersenyum kecut melihat sahabatnya itu menggenggam tangan Lisa. Merasa sedikit iri dan takut bercampur menjadi satu,padahal pegangan tangan itu hal yang biasa karena dia pun sering melakukannya dengan Vee tapi melihat Pemuda itu bergandengan tangan dengan Lisa membuat dada nya terasa sedikit sesak.
Terlalu menyakitkan.
Menyadari raut wajah Jisu yang kecewa,Jimmy segera menghampiri Gadis itu.
"Apa kau baik-baik saja?"tanya Jimmy menepuk pelan bahu Jisu.
Jisu tersentak lalu mengangguk. "Oh,aku baik-baik saja kok. Kita tunggu mereka atau pergi sekarang?"tanyanya.
"Kita pergi sekarang saja,mereka berdua akan menyusul nanti."ucap Jimmy menaiki sepedanya begitupun dengan ketiga temannya.
Lisa sedari tadi berusaha melepaskan genggaman tangan Vee pada pergelangan tangannya namun sayangnya ia tidak cukup kuat untuk melakukannya dan pada akhirnya memilih pasrah,mengikuti langkah kaki Vee yang membawanya ke ruang guru.
Vee menghentikan langkahnya begitupun dengan Lisa lalu menoleh menatap gadis itu,menyentuh kedua bahu nya.
"Tunggu disini,jangan pergi. Aku sebentar saja kok."kata Vee mencolek pangkal hidung Lisa kemudian masuk kedalam.
Seandainya saja Lisa naik sepeda sendiri,sudah sedari tadi ia pergi meninggalkan Vee dan menyusul teman-temannya.
Lagian kenapa juga Vee harus menyeret nya?
Kenapa bukan Jisu atau Jimmy atau siapalah asal jangan dirinya.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit,akhirnya Vee memunculkan batang hidungnya. Pemuda itu menggenggam tangan Lisa dan kembali menarik nya pergi.
"Berhenti menarikku,aku bisa jalan sendiri."bentak Lisa kesal.
Vee menoleh menatap gadis itu. "Kalau aku tidak menarikmu kau pasti sudah tertinggal jauh di belakang,kaki pendekmu itu susah mengikuti langkah kakiku."katanya sedikit mengejek.