Harusnya Ibu dan Anak memiliki perasaan saling menyayangi dan saling menjaga satu sama lain namun berbeda dengan Lalisa Eliora dan Ibunya Jisu Castella yang selalu bertengkar setiap saat terutama saat Lisa menanyakan siapa Ayahnya.
Semua yang di lak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ello!
This Story's mine so don't plagiarism.
Happy Reading.
Pagi-pagi sekali kedua anak gadis itu sudah berada di sekolah, Lisa tidak menyangka kalau Jisu itu sudah terbiasa bangun pagi-pagi dan datang ke sekolah tepat waktu sebelum bel berbunyi,sangat berbeda sekali dengan dirinya yang hampir setiap hari terlambat karena telat bangun dan bersantai lagi di perjalanan.
Benar-benar sangat berbeda.
Hm, sepertinya sifat malas Lisa ini menurun dari Ayahnya.
"Wah,aku tidak pernah datang sepagi ini kesekolah."gumam Lisa pelan sembari memandangi gerbang sekolah.
"Pantas saja Ibu selalu marah kalau aku bangun terlambat ternyata dia sendiri anak yang sangat rajin,pasti tidak ada namanya di daftar buku hitam."batin Lisa.
Jisu segera merangkul lengan Lisa. "Hari ini kau tidak perlu belajar,aku akan mengantarmu menemui guru dan setelah mendapat persetujuan dari mereka besok kau sudah boleh masuk."ucapnya dan Lisa hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
Guru bernama Robert menatap berkas-berkas milik Lisa,formulir pendaftaran yang sudah di isi dan juga ada tanda tangan orang tua Jisu.
"Kalian ini bersaudara kandung?"tanya Robert menatap Lisa dan Jisu bergantian.
Jisu menganggukkan kepalanya. "Iya,ehm-- sebenarnya tidak sih. Dia adalah sepupuku tapi karena dia sendirian Ibu dan Ayah mengangkatnya jadi anak kedua,dia adikku."jelasnya.
Robert mengangguk mengerti. "Jadi namamu Lalisa Eliora,mulai besok kau sudah bisa sekolah disini seperti biasanya."ucapnya.
"Terima kasih,Pak Guru."
Lelaki itu melirik jam tangannya. "Sudah waktunya masuk kelas Jisu,pelajaran pertama adalah aku. Kita ke kelas bersama-sama."ajaknya.
Jisu menoleh menatap Lisa. "Tidak apa-apa kan kalau ku tinggal sendiri?"tanyanya dengan raut wajah sedikit khawatir.
Lisa membalasnya dengan senyuman. "Tidak apa-apa,Jisu. Aku sudah hafal jalan pulang ke rumah kok jadi kau tidak perlu khawatir."jawabnya.
"Ya sudah kalau begitu,aku masuk kelas dulu ya."ujar Jisu melambaikan tangannya pada Lisa kemudian berjalan mengikuti Robert dari belakang.
Setelah kepergian Jisu dan Robert,Lisa melangkah keluar dari kantor guru berjalan-jalan sembari melihat kesana-kemari,mulai besok dia akan resmi menjadi siswi di sekolah ini dan mungkin dia harus jauh lebih rajin dari sebelumnya.
Sampai sekarang Lisa masih tidak percaya kalau ia kembali ke masa lalu,bertemu dengan Ibu nya yang masih berusia 17 tahun. Kalau Lisa menceritakannya pada orang-orang pasti mereka bakalan mengira dia itu gila.