Harusnya Ibu dan Anak memiliki perasaan saling menyayangi dan saling menjaga satu sama lain namun berbeda dengan Lalisa Eliora dan Ibunya Jisu Castella yang selalu bertengkar setiap saat terutama saat Lisa menanyakan siapa Ayahnya.
Semua yang di lak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hello!
This Story's mine so don't plagiarism.
Happy Reading.
Bel pulang sekolah telah berbunyi,rencananya sih mereka ingin melanjutkan pencarian tapi mendadak tidak bisa karena ada latihan basket dan tidak mungkin hanya Jisu dan Becca saja yang mencari Lisa,akhirnya mereka memutuskan untuk menunda pencarian mereka dan pulang kerumah masing-masing.
"Jisu."
Suara panggilan dari Jin,entah sejak kapan pemuda itu sudah berdiri di depan kelas Jisu,menunggunya. Sejak pembicaraannya dengan Vee tadi,gadis itu merasa sedikit canggung bila harus berhadapan langsung dengan Jin tapi Jisu juga tidak mungkin menghindari Jin tanpa alasan,yang ada pemuda itu akan tersakiti.
Jisu tersenyum tipis. "Kau mencariku? Ada apa?"
Jin membalas senyuman itu. "Aku ingin mengajakmu pulang bersama,kau mau kan?"tanyanya.
Gadis itu nampak berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah,tapi apa tidak masalah? Maksudku arah rumah jalan kita kan berbeda."katanya.
"Tidak masalah,ada sesuatu yang ingin aku beli di mini market jadi sekalian saja ajak kau pulang bersama."ujar Jin berbohong,padahal dia ingin berduaan dengan Jisu.
Pemuda itu sudah berpikir semalaman dan memutuskan untuk mendekati Jisu,kalau Jin tidak melakukannya maka hubungan mereka tidak akan pernah naik ke tahap selanjutnya. Jujur saat pertama kali bertemu Jisu,Jin merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Ia terus menepis perasaannya terhadap Jisu tapi tidak bisa dia lakukan,yang ada malah perasaannya semakin menjadi-jadi maka dari itu Jin memutuskan untuk mendekati Jisu secara perlahan.
Apapun keputusan Jisu,Jin akan menerimanya.
"Kalau begitu ayo."ajak Jisu melangkah keluar kelas bersama Jin di sampingnya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi tidak melepaskan pandangan dari Jisu,dia adalah Ramon yang merasa cemburu karena Jisu pulang bersama Jin padahal tadinya dia ingin mengajak gadis itu pulang bersama tapi dia kalah cepat.
Seandainya saja saingannya bukan Jin,mungkin Ramon akan maju. Tapi saingannya sangat berat,belum lagi Jisu yang masih mencintai Vee. Haruskah dia menyerah dan melupakan perasaannya?
"Ramon,kau tidak pulang?"tanya Jeykey yang kebetulan masih di kelas.
Pemuda itu tersentak kaget. "Pulang kok,kalau begitu aku pulang dulu. Latihan yang rajin ya."ucapnya lalu melangkah keluar dari kelas.
Jeykey menatap kepergian Ramon lalu menggelengkan kepalanya. "Ah,aku tidak menyangka kalau wakil ketua kelas ku ternyata menyukai ketua kelas ku. Kalau begini sepertinya saingan Jin bertambah lagi." Pemuda itu melipat kedua tangannya di dada. "Kira-kira siapa yang akan di pilih Jisu ya? Mereka berdua sama-sama pintar dan kaya,Jisu tidak akan rugi sih kalau begini."tambahnya lagi kemudian memilih melangkah keluar kelas.