Harusnya Ibu dan Anak memiliki perasaan saling menyayangi dan saling menjaga satu sama lain namun berbeda dengan Lalisa Eliora dan Ibunya Jisu Castella yang selalu bertengkar setiap saat terutama saat Lisa menanyakan siapa Ayahnya.
Semua yang di lak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hello!
This Story's mine so don't plagiarism.
Happy Reading.
Jisu melangkah masuk kedalam rumah nya,tadi dia sudah menelpon bos nya dan mengatakan kalau dia tidak masuk ke kantor lagi karena ada urusan yang harus dia selesaikan. Perempuan itu pikir Lisa berada di rumah namun sepertinya tidak ada karena rumah terasa sangat sepi seperti tak berpenghuni.
"Ah,lelahnya."gumam Jisu setelah menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk miliknya.
Perempuan itu memejamkan kedua matanya sejenak melepaskan penat dan juga denyut di kepalanya, pertengkarannya dengan Lisa ternyata sangat berdampak bagi nya,ia merasa kepalanya tiba-tiba saja sakit apalagi ketika Lisa mengungkit perihal Ayahnya.
Sebenarnya Jisu ingin mengatakan pada Lisa mengenai Ayah kandungnya namun perempuan itu belum siap menerima kemarahan dan kebencian dari Putrinya itu, Ia bertahan sampai hari ini karena Lisa dan kalau sampai Lisa benar-benar membencinya, Jisu tidak tau apakah dia masih bisa bertahan hidup atau tidak.
Lisa permata nya,hidupnya.
Walaupun mereka sering bertengkar dan Lisa sering kali membuatnya naik darah tapi tidak pernah sekalipun terbesit di pikirannya kalau ia menyesal karena sudah melahirkan Lisa ke dunia.
Jisu masih ingat tangisan pertama Lisa saat baru lahir,ia menangis haru dan bahagia walaupun harus melahirkan sendiri tanpa di dampingi suami,untung saja ada Rebecca yang setia menemaninya dari awal hamil hingga melahirkan.
Perlahan kedua mata perempuan itu terbuka,ia bangkit dari duduknya lalu berjalan masuk kedalam kamarnya. Jisu menatap kotak yang dia sembunyikan di kolong kasur, menariknya keluar lalu membuka kotak itu.
Ada sebuah foto dirinya,Lisa saat bayi dan juga seorang pria yang berdiri di sebelahnya. Nampak seperti keluarga yang sangat bahagia,namun sayangnya wajah pria di foto itu sudah tak terlihat lagi karena Jisu sendiri lah yang menyayat nya dengan cutter.
"Putri mu sudah berusia 17 tahun,aku harus bagaimana?"tanya Jisu sembari mengelus foto itu.
Foto yang tidak pernah dan mungkin tidak akan pernah dia tunjukkan pada Lisa.
Jisu mengusap air mata yang membasahi pipi nya lalu kembali mengambil sebuah gelang tali, tersenyum karena gelang itu masih terlihat cantik dan juga terdapat inisial namanya dan inisial nama Ayah Lisa namun sayangnya inisial nama Ayah Lisa sudah tak lagi terlihat karena ya Jisu menyayat nya dengan cutter karena bertengkar hebat dengan Ayahnya kala itu.
Sampai sekarang Jisu tidak bisa melupakan pria itu,dia telah menjatuhkan hatinya pada Ayah Lisa dan sampai sekarang perasaan itu tetap ada.
"Kapan kau akan kembali?"
Lisa meneguk habis susu pemberian Rebecca lalu mendirikan tubuhnya. "Minumannya sudah aku habiskan, aku pergi dulu. Aku juga tidak mendapatkan informasi apapun tentang Ayahku disini,jadi lebih baik aku pergi saja."katanya.