Akhirnya setelah aktifitas sekolah yang sedikit membuat Rain kelelahan selesai. Bel pulang telah berbunyi sejak dua menit yang lalu, tetapi Rain masih terlihat santai dia terbiasa keluar kelas setelah ruang kelasnya kosong, dia malas jika harus berdesakan di depan pintu.
"Rai pulang bareng gue, kan searah"
Rain lupa, sekarang dia sudah punya teman baru, Raihan.
"Iya han" Rain mengangguk
"Ayo siap-siap kelas udah mau kosong" Ucap Raihan
"Iya, tinggal masukin earphone doang kok"
Setelah selesai memasukan earphone miliknya, Rain dan Raihan segera menuju pintu. Baru selangkah saja Rain menginjakan kaki ke luar kelas Jendra sudah siap menghalangi jalan Rain untuk pulang.
"Tunggu dulu Rain, gue masih marah sama lo karena lo gak kasih gue contekan! gara-gara lo gue gak dapet nilai"
"Jen, jangan ke kanak-kanakan itu tugas lo yang berarti lo yang harus ngerjain bukan gue!" Teriak Rain marah.
"Gue gak mau tau, sebagai gantinya lo harus pulang sama gue, kerjain tugas gue di apartemen gue!"
"Apaan sih?! gue mau pulang sama Raihan" Rain menolak mentah-mentah atas pernyataan Jendra.
Raihan yang sejak tadi diam merasa kaget, dia kira dia akan terabaikan karena dia merasa Jendra dan Rain begitu dekat.
"Ayo han gue mau pulang, besok kata lo kita kan mau jalan" Lanjut Rain.
Apa ini, sejak kapan dia mengajak Rain untuk jalan-jalan.
"Iya Rai ayo"
Rain menggandeng tangan Raihan, meninggalkan Jendra sendirian.
"Raihan, gue tandain lo" Teriak Jendra setelah melihat keduanya menjauh.
Perasaan macam apa ini, kenapa dada Jendra tiba-tiba sesak, apakah dia baru saja salah makan.
Setelah pergi agak jauh dari Jendra, Rain segera melepaskan gandengan tangannya dengan Raihan.
"Maaf ya, gue tadi asal ngomong" Ucap Rain tiba-tiba
"Iya gapapa kali Rai, jalan beneran juga gapapa serius"
"Gak bisa gue harus les"
"Oh yaudah hari Minggu aja gimana?" tanya Raihan
"Gak bisa juga gue harus belajar"
"Terus kosong nya kapan?"
"Gak ada, gue sibuk setiap hari" Jawab Rain
"Oh yaudah deh, ayo pulang nih helm nya"
Raihan menyodorkan helm kepada Rain
"Mau gue pakein gak" Tawar Raihan
"Gak usah"
"Yaudah yuk"
Rain segera menaiki motor Raihan, keduanya kini telah berada jauh dari sekolah. Sunyi tidak ada obrolan.
Setelah hampir sampai di dekat rumah Rain, tiba-tiba Rain menepuk punggung Raihan.
"Han sampe sini aja, makasih ya"
Raihan menghentikan motornya.
"Loh kenapa?"
"Gapapa ini helmnya, bye han"
Rain meninggalkan Raihan dengan motornya. Alasan dia tidak ingin di antar sampai depan rumah adalah dia yakin pasti sang mama mengira dia bermalas-malasan dan malah berpacaran.

KAMU SEDANG MEMBACA
KLANDESTIN
Teen FictionONGOING *Dilakukan Revisi Berjalan* *Sorry sempet lupa pass wp ™ 17 August 2021