OW - 6

1K 92 2
                                    

Menahan


3 Bulan kemudian.

Hubungan Bina dan Sangga mulai membaik walau Bina tidak bisa melupakan sepenuhnya kejadian tiga bulan lalu.

"Pagi, Bina." Sangga menyapa Bina yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.

"Pagi, aku harap semoga kamu suka ya. Aku meminta resep pada Ibu, tapi rasanya tentu tidak akan sama." Ujar Bina.

Mata Sangga berbinar, "Terima kasih, Bina." Sangga selalu menghargai apapun yang dimasak Bina.

_____

"Hai Bina, maaf ya merepotkan kamu." Zenia sengaja datang meminta bantuan Bina untuk membantunya memilih gaun pengantin.

"Tidak kok, aku punya beberapa rekomendasi butik yang menjual gaun pernikahan yang oke. Tapi pasti tidak akan sulit untuk menemukan gaun yang tepat untuk kamu." Ujar Bina, walau kejadian itu tetap teringat tapi Bina tidak bisa membenci Zenia. Hati Bina berkata jika Zenia adalah perempuan yang baik, lagipula Ia ingin berkontribusi untuk pernikahan Agasthya.

Mereka berdua lalu menuju butik pertama yang ada di dalam list Bina, benar saja tidak sulit untuk menemukan gaun yang cocok untuk Zenia.

Zenia mematut dirinya di cermin, gaun ini merupakan gaun kedua yang dicobanya. "Bina.. bagaimana? Apakah pantas untukku?"

Bina tersenyum antusias, "Gaun ini seperti diciptakan khusus untuk kamu." Bina menaikkan kedua jempolnya.

Zenia juga tersenyum antusias "Benarkah?"

Bina mengangguk pasti.

_____

"Aku yang traktir, terima kasih sekali lagi." Ucap Zenia. Mereka berdua berada di sebuah restoran.

"Zenia.. ini sudah yang ke seribu kali kamu mengatakan terima kasih. Jangan sungkan. Oke!" Jawab Bina.

Mereka berdua pun tersenyum.

_____

Mereka lalu memakan santapan makan siang dalam diam, hingga Zenia bertanya.

"Kamu sepertinya sangat dekat dengan Agasthya." Ujar Zenia tiba-tiba.

Bina terdiam sejenak. "Untuk dibilang dekat kami memang dekat." Jawab Bina diplomatis.

"Agasthya sering menyelipkan cerita tentangmu, aku jadi merasa sudah kenal lama denganmu dari cerita-cerita Agasthya."

Bina tersenyum, cerita antara Ia dan Agasthya memang sebanyak itu.

#

Sangga dan Bina mengantarkan Zenia pulang ke rumah. Memang cukup jauh dari rumah mereka, tapi hari sudah terlalu malam untuk membiarkan Zenia pulang sendiri, hal itu dikarenakan Bina dan Zenia yang asyik berbincang. Sedangkan Agasthya sementara ini kembali ke Singapura mengurus kepindahannya ke Indonesia.

"Maaf, jadi merepotkan kalian. Harusnya tadi aku menginap di hotel saja." Ucap Zenia menyesal.

"Tidak apa-apa, aku juga sedang libur kok. Sangga juga pulang cepat." Jawab Bina.

"Iya Zenia, tidak apa-apa. Kami juga sekalian mau menjenguk Ibu." Jawab Sangga juga, dengan nada yang berbeda dari biasanya Bina dengar. Selalu terselip nada yang mengandung cinta jika Sangga berbicara dengan Zenia.

Hati Bina pilu, walaupun Ia sudah berusaha menerima kenyataan Sangga mencintai Zenia, jika melihat dan mendengar perhatian Sangga untuk Zenia tetap saja hatinya sakit. "Calm Bina, ini biasa. Sangga memang ramah pada siapapun." Bina merapalkan kalimat itu berulang-ulang, namun hatinya sendiri membantah itu semua, "Tapi dia tidak pernah selembut itu padaku, dia baik padaku, tapi tidak sama dengan perlakuannya pada Zenia."

Bina seketika terdiam, terdengar percakapan diantara Sangga dan Zenia tentang banyak hal salah satunya saat mereka masih tinggal di kampung halaman Sangga, Bina merasa tersisih.

#

Sangga dan Bina diminta oleh Ibu untuk menginap, walaupun Bina bersikeras untuk pulang saja. Namun akhirnya Bina menyerah, mengikuti kemauan Ibu Sangga.

____

"Pukul 04:30 pagi." Bina melihat jam yang terpasang di dinding kamar. Sangga tidak berada bersamanya.

Dengan perlahan seraya meregangkan tubuhnya Bina bergerak mencari Sangga.

Sayup-sayup terdengar suara dari arah belakang, benar saja Sangga berada di sana, sedang bersama Zenia. Kaki Bina terasa lemas, jangan lagi... Batinnya berteriak.

Ingin Bina pergi menjauh dari sana, membiarkan Sangga dan Zenia, Ia tidak ingin mendengar. Tapi tubuhnya berkhianat, kakinya tetap melangkah menuju Sangga dan Zenia.

Sayup-sayup terdengar suara Sangga, "Cinta sejati hanya terjadi sekali saja, dan itu kamu."

Air mata Bina tidak tahan untuk keluar, segera dihapusnya sebelum ada yang menyadari.

Zenia tiba-tiba saja menoleh ke arah Bina, Ia terkejut dan segera berdiri dari duduknya.

Sangga juga menoleh ke arah Bina.

Bina tersenyum, "Aku ingin pulang."

#

Keheningan menyelimuti Sangga dan Bina, mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah.

Sangga sesekali melirik Bina terlihat ragu untuk mengatakan. "Bina.." Panggilnya.

"Ya.." Jawab Bina.

"Apakah kamu mendengar yang tadi? Saat aku duduk bersama Zenia?" Tanya Sangga penasaran.

Bina membasahi bibirnya sebelum menjawab, "Tidak, aku tidak mendengar." Tapi air mata Bina menggenang di sekeliling matanya. Bina memalingkan wajahnya ke arah sebaliknya dari Sangga.

Semua pergerakan Bina dilihat Sangga yang membagi fokusnya seraya menyetir.

Sementara Bina berusaha menelan tangisnya, tidak ingin memperlihatkannya, sebentar lagi, beri aku waktu sebentar lagi. Batin Bina.

#

07 September 2021 - 17:00

Our Wedding (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang