°•START•°
Tanpa tertidur, Jaehyun terus bersiaga di samping Jungwoo. Takut kalau kekasihnya itu akan kembali ke dunianya lagi. Maka di tengah kekalutannya, dia menyusul Johnny untuk mengurus pria bajingan itu.
Saat ini pukul 3 pagi, ketika Sungchan di teror melalui panggilan telepon oleh Jaehyun dan ditugaskan untuk menjaga Jungwoo, dia masih sangat mengantuk ketika tiba di penthouse. Namun begitu melihat kondisi wajah Jungwoo, Sungchan akhirnya paham.
Sementara itu di sebuah gedung kosong tak terpakai, diterangi nyala api dari tong pembakaran, tampak seorang pria dengan wajah babak belur, terikat dan berlutut di tanah sementara beberapa orang mengawasinya.
Tidak ada yang berbicara, sampai suara ketukan sepatu yang tergesa-gesa terdengar menggema dan berhasil mengalihkan atensi semua orang.
"Kau di sini." Johnny berbalik dan menyapa seiring dengan terlihatnya sosok yang berjalan mendekat tersebut dalam cahaya kemerahan dari api.
Jaehyun berjalan dengan gagah, sekilas pandangan dia arahkan pada Johnny sebelum kembali fokus pada pria yang berlutut di tanah itu.
"Apa katanya?"
Johnny menghela nafas, "dia mengaku di suruh oleh seseorang tanpa identitas yang diketahui, dan dia menolak menceritakan lebih jauh."
Jaehyun mendengus, dia mengangkat rahangnya dan memberikan pandangan merendahkan pada pria itu. Siapapun bisa melihat niat membunuh yang timbul dari aura milik Jaehyun, namun pria berwajah jelek di seberang lain sama sekali tidak ketakutan dan malah menyeringai bodoh.
Pria itu terkekeh geli kemudian berkata, "jatuh cinta pada pria dari novel heh? Ahahaha betapa konyolnya."
Itu... Bagaimana dia bisa tahu?
Jaehyun terkejut dan merasa emosi di saat bersamaan. Mengambil langkah lebar, Jaehyun maju dan menendang dada pria tersebut hingga terlempar ke belakang dengan tidak elitnya.
Berlutut di atas tubuh pria itu, Jaehyun dengan geram bertanya, "apa maksud mu?"
Pria tersebut terbatuk sesaat sebelum menjawab dengan senyum lebar, "apa yang ku maksud, kau tentu yang paling tahu itu" dari nada bicaranya, pria itu jelas dengan sengaja menggoda Jaehyun.
Sial!
Satu tamparan keras yang berhasil membuat pria itu memuntahkan seteguk darah lagi, melayang di rahangnya.
"Katakan siapa orang itu?!" Jaehyun dengan kesal menggeretukkan gigi. Johnny sampai heran melihatnya, dia tidak mengerti bagian mana dari ucapan pria itu yang membuat Jaehyun begitu marah.
Seolah tak menyadari bahwa dia tengah menantang kematiannya, pria itu tetap tertawa di tengah rasa sakitnya, sepertinya dia seorang masokis. "Sudah kubilang aku tidak mengingatnya dengan baik. Cobalah untuk menebak, mungkin saja aku akan mendapatkan ingatanku."
Geram, Jaehyun mengumpat. "Bedebah gila!". Jaehyun meraih sapu tangan dari sakunya dan membersihkan tangannya dengan jijik, dia berbalik menatap Johnny dan memberi instruksi, "awasi dia dan jika dalam tiga hari dia masih belum mengatakan siapa yang menyuruhnya, maka bunuh saja."
Johnny mengangguk, "percayakan dia padaku. Aku akan menyuruh orang-orang ku untuk mengawasinya."
Jaehyun ikut mengangguk puas, dia menepuk lengan Johnny sebagai bentuk rasa terima kasih sebelum pergi dari sana.
Jaehyun kembali ke penthouse dengan wajah yang suram.
Sungchan merasa bingung, ini bahkan belum dua jam sejak kakaknya itu pergi tapi dia sudah kembali begitu cepat. Kalau begitu apa gunanya menelponnya untuk buru-buru datang menjaga Jungwoo kalau dia sendiri tidak akan pergi lama? Sungchan benar-benar tidak bisa mengerti pemikiran orang yang telah menjadi budak cinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANONIM - Jaewoo
FanfictionPair : Jaehyun Jungwoo Genres: Fantasy, Romance, Drama, boyslove Jaehyun adalah sosok tanpa nama bagi Jungwoo, layaknya anonim. Jungwoo adalah sosok yang menghilang tanpa alasan bagi Jaehyun, layaknya anonim. Layaknya anonim yang tidak diketahui bag...
