"RA, TUNGGU," teriak seorang gadis yang tengah berlari mengejar temannya yang telah berjalan cukup jauh darinya.
Gadis yang diteriaki sontak berhenti berjalan dan menengok ke sumber suara tersebut.
"Gak setia kawan banget sih," decak gadis yang tadi berlari setelah sampai di samping teman yang ia kejar, "masa aku ditinggal gini," sambungnya dengan nafas tersengal-sengal.
Teman satunya-Aira, memutar bola matanya. "kan aku udah ke rumah kamu, tapi katanya kamu udah nggak ada," jawab Aira menatap temannya, "wuuush, hilang entah kemana, tau-taunya ngejar-ngejar," ucapnya kembali dengan tangan yang menggapai udara, dramatis.
"Ya kan aku tadi berak," sergahnya beralasan.
"Oh, sambil bawa tas ke toilet?, sampe Bunda kamu ngira udah berangkat," sindir Aira.
"Iya dih, gak usah omongin juga," desis Dena.
Mereka berjalan bersama menuju sekolah setelah percakapan yang tidak penting barusan. Jarak sekolah dengan perumahan mereka cukup dekat, hanya memerlukan waktu kurang lebih 10 menit dengan berjalan kaki. Terkadang mereka berangkat menggunakan sepeda, tapi itu kalau sedang malas berjalan, katanya 'selama niat, mending jalan kaki aja, itung-itung olahraga pagi'. Untuk sampai di sekolah mereka harus berjalan menuju keluar komplek perumahan dan bertemu jalan raya, tidak mengapa, mereka berjalan di trotoar.
"Ra, kacamata baru yah?," celetuk Dena yang baru tersadar bahwa Aira mengenakan kacamata yang berbeda dari biasanya, dari berwarna hitam, kini berwarna biru muda.
"Iya, kemarin habis periksa mata, katanya min-nya naik, jadi tiga," jawab Aira sambil mengangkat ketiga jarinya.
"Pantes sih," gumam Dena.
"Heh, pantes?," kelakar Aira tak terima temannya mensyukuri penyakit minusnya.
"Dih, bukan gitu, maksudnya.. pantesan kamu pake kacamata terus, min-nya naik toh, kan biasanya dipake kalo belajar doang," ralat Dena mencegah kesalahan pahaman.
"Oh iya, ini juga terpaksa," ungkap Aira.
Hari ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah setelah libur akhir tahun yang lumayan panjang, sekarang mereka duduk di bangku kelas X SMA semester dua. Setengah tahun lagi mereka akan naik menjadi kelas XI, jadi kakak kelas 😎.
🌼🌼🌼
"Assalamu'alaikum, Ra, Den, jadinya Raden," sapa Ifah--teman satu circle dengan Aira dan Dena, ia duduk persis di belakang kursi Aira. Gadis itu selalu dan pasti mengucap salam jika berjumpa dengan orang-orang. Ifah atau nama lengkapnya Ifah Nuwaira Raida, memiliki paras yang relatif biasa saja, tapi aura ketaatan dan ketaqwaan terpancar di wajahnya, tubuhnya lumayan tinggi, badannya tidak kurus, tidak pula gendut, kulitnya putih, wajahnya bersih, sorot matanya memancarkan kedamaian, bibirnya tipis, alisnya tebal, bulu matanya lentik, hidungnya mancung, sekilas mirip orang Arab.
"Wa'alaikumsalam," jawab Aira dan Dena bersamaan.
Ifah terkenal alim di sekolah ini, orangnya ramah, lumayan pemalu, lembut, sopan, santun, penyabar, pengertian, pantas diberi gelar 'the real of friend', dari penampilannya saja sudah terlihat jika ia adalah gadis sholehah, di kelas Aira hanya Ifah saja yang mengenakan hijab, ditambah hijabnya menjulur panjang dan tidak transparan, kontras dengan penampilan teman-teman sekelasnya yang berseragam rok pendek di bawah lutut. Jika diumpamakan, Ifah seperti satu titik putih di atas kertas hitam, paling terang dan pastinya paling disorot. Entah kenapa ia bisa menjadi teman satu circle dengan Aira dan Dena, karena sifatnya dengan sifat Dena bagaikan sudut positif dan negatif, sedangkan Aira sudut netral-nya.
Dena Mauza Alana, gadis yang notabenenya pacar siswa yang disebut-sebut paling tampan se sekolah ini, namanya Reinald. Dena banyak bicara, doyan caper di depan Reinald--dan lucunya Reinald ikutan balas men-caper-i Dena. Dena wajahnya biasa-biasa saja, tidak cantik, tidak pula jelek, ia sangat mudah akrab dengan orang lain, apalagi kalau sama laki-laki, terlebih-lebih kalau laki-lakinya tampan. Dari Aira, Dena dan Ifah, Dena yang bisa dibilang paling banyak followers dari kalangan kaum adam, tentu saja karena sikap Dena yang terlalu friendly membuat laki-laki yang gampang baper jadi kepincut.
Dan mari kita berkenalan dengan tokoh utama di cerita ini, Mayra Zahira, bisa dipanggil Aira tapi lebih mudah dipanggil Ara, aku akan menjelaskan ciri-cirinya : bertubuh tidak tinggi tapi tidak pendek juga, kulitnya putih bersih, wajahnya cantik, rambutnya hitam panjang yang tergerai indah. Dia gadis yang sangat pintar. Ia cukup dikenal oleh teman-teman seangkatannya, tapi sebaliknya, ia jarang mengenal orang, 'dikenal namun tidak mengenal', begitulah kalimat yang dapat menggambarkan sosok Aira, bukan karena sombong, tapi lebih kepada keterbatasan ia dalam melihat, sudah 2 tahun lebih ia mengalami mata minus karena kesalahan dalam membaca, orang tuanya berkali-kali menyuruhnya untuk selalu menggunakan kacamata, tapi nihil, tidak pernah didengarkan, hanya dua adegan di mana ia menggunakan aksesoris yang bernama kacamata, yaitu : adegan belajar dan membaca, selain itu?, jangan harap, jelas sudah alasan ia tidak mudah mengenal orang, sifat kurang gaulnya melengkapi faktor tersebut, ia jarang bercengkrama di luar teman sekelasnya, jika teman luar kelas pernah ngobrol dengannya hanya saat itu Aira mengetahui nama lawan bicaranya, setelah itu, lupakan, jelas ia memang tidak peduli nama seseorang, eits bukan sombong, Aira ramah kok, hanya saja ia tidak pedulian, itu saja.
Aira, Dena dan Ifah bukan geng yang terkenal di sekolah seperti di film-film. Jika manusia adalah warna, maka : Aira sebagai abu-abu, Dena sebagai hitam, dan Ifah sebagai putih. Aira berada di tengah-tengah Dena dan Ifah. Ifah selalu menasihati dan memperingatkan temannya jika melenceng dari jalan yang lurus, ia sering mengajak kepada kebaikan, sedangkan Dena lain lagi, kadang-kadang anak itu mengajak Aira hingga melazimkan sesuatu yang tidak lazim.
🌼🌼🌼
Priiiiit
Suara peluit terdengar sangat lantang dan panjang dari arah lapangan utama, yang tadinya murid-murid bergerombol membentuk majelis gosip mendadak membubarkan diri, semua orang berlari terbirit-birit menuju lapangan utama, saat itu, tak ada siswa yang dapat berjalan santai sekalipun siswa paling bandel, semua orang tahu, pengatur upacara sangatlah tegas dan tak tanggung-tanggung kalau menghukum, pernah suatu kali ada satu murid yang berbuat ulah, malah satu kelas yang kena hukuman. Pengatur jalannya upacara adalah para struktur pramuka, mereka diberi wewenang untuk memberi hukuman bagi siapa saja yang melanggar aturan ketika upacara bendera berlangsung. Jika dilihat mereka seperti sekelompok semut yang di ganggu lantas menyebar ke berbagai arah, tapi mereka menyebar kemudian menuju ke satu tempat. Di tengah lapangan terlihat seorang tengah berdiri tegak dengan posisi peluit bertengger di mulutnya, matanya tajam, setajam tatapan elang, tubuhnya tinggi tegap bagai binaragawan, wajahnya menampilkan ekspresi datar namun hatinya berkata, ''lama banget sih kumpulnya''. Yah begitulah, siapa yang mau menunggu?, menunggu itu pekerjaan yang melelahkan, sekalipun menunggu seluruh penghuni sekolah berkumpul di lapangan, menunggu tetaplah menunggu.
"Araaa, cepetan ih, lama banget nyarinya," decak Dena sebal lantaran menunggu si manusia lambat Aira mencari kacamatanya.
"Bentar napa." Aira mengaduk-aduk isi tasnya dengan brutal.
"Udah, Ra, nanti kita cari habis upacara, yah," usul Ifah dengan nada lembut yang berbalik dengan cara berbicara Dena.
Merasa sebal karena Dena takut terlambat ke lapangan, mau tak mau ia menggeret paksa lengan Aira, "makannya kacamata tuh jangan dilepas, ilang kan," hardik Dena.
"Tenang, Ra, in syaa Allah nanti aku bantu cari," ucap Ifah yang tak tega melihat Aira yang sepertinya nelangsa tanpa kacamata.
Aira sebenarnya ingin meronta dari cengkeraman tangan Dena, tapi apalah daya, daripada ia terkena hukuman gara-gara terlambat kumpul, mending nurut Dena saja.
Ifah dan Dena bagaikan siang dan malam kan?.
🔰🔰🔰
Gimana?
Ini masih ta'aruf alias perkenalan sama tokoh ya guys, belum masuk konflik.
Lanjuuuut ya guys
Salam,
Hanum Salsabila | @hans_sabila25
---------------------------- Jazakumullah 🥰
Jangan lupa Vote ⭐ dan coment 💬🥰.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Far
Fiksi RemajaAira, gadis yang tengah duduk di bangku SMA Kelas X Semester 2, 'dikenal namun tidak mengenal' begitulah kiranya kalimat yang dapat menggambarkan sosoknya. Kehidupan sekolahnya sangat tenang dan damai, hingga suatu saat ia terseret oleh gosip yang d...
