10. Tips Diet By Kang Danil

13 13 9
                                        

Jam 15

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jam 15.00 sore Aira terbangun dari tidurnya, ia teringat kejadian yang dialaminya saat pagi, Ibunya datang ke sekolah untuk menjemputnya pulang, kondisinya masih belum pulih, ia rugi satu hari tidak mengikuti pelajaran, setelah ia siuman dari pingsannya, ia langsung dibawa pulang oleh Ibunya, setelah shalat Dzuhur ia kembali terbaring di kamar untuk memulihkan kondisinya, tapi nyatanya sampai ia bangun sekarang pun ia tak kunjung pulih, kepalanya masih pusing, badannya lemas, penglihatannya kabur, entahlah bagaimana nasib kacamatanya itu.

Tok tok
Suara kaleng di ketuk terdengar dari arah luar jendela kamarnya, ia tahu siapa yang melakukannya, pastilah Danil hendak berbicara di sebuah telepon kaleng yang terhubung antara kamar Danil dan Aira, lelaki itu memang tidak mengenal umur, masih saja hobi bercakap-cakap lewat telepon kaleng yang sudah terpasang sejak mereka duduk di sekolah dasar, dengan jalan tergopoh-gopoh Aira berusaha mendekati jendela tempat kaleng itu terpasang, segera ia mendekatkan telinganya di mulut kaleng.

"Ra, udah mendingan?," tanya Danil yang suaranya merambat hingga dapat didengar oleh Aira.

"Kang Danil tau dari mana?," tanya Aira penasaran.

"Pulang sekolah aku ke rumah kamu, kata Ibu kamu lagi tidur, habis pingsan pas di sekolah," jelasnya.

"Masih pusing, Kang," jawab Aira sambil meringis.

"Boleh turun sebentar nggak?," pinta Danil dari dalam kamarnya yang suaranya merambat hingga dapat terdengar oleh Aira.

"Ada apa?."

"Turun aja, janji cuma sebentar."

"Oke."

Aira segera turun dari ranjang dengan keadaan rambutnya yang berantakan, Aira tidak pernah malu sama sekali dengan penampilannya yang berantakan di depan Danil, dengan kondisi kepalanya yang pusing ia berusaha turun tangga menuju samping rumah, rumah Aira dan Danil tidak dibatasi oleh pagar, hanya ada halaman yang tidak terlalu luas, Danil tinggal hanya dengan ibunya, orang tuanya telah bercerai sejak ia berumur tiga tahun.

Aira telah sampai di samping rumah, jalannya lambat lantaran ia tidak bisa melihat dengan jelas, seseorang telah duduk di kursi panjang yang menempel di dinding rumah, pastilah itu Danil, Aira segera mendekat, kemudian duduk di samping Danil persis.

Danil mengamati wajah lesuh Aira, "Listrik di rumah kamumu mati?," tanya Danil serius.

"Mati?, ya enggak lah," jawab Aira bingung, kenapa Danil bertanya seperti itu.

"Lah terus kenapa muka kamu nggak di setrika?," Danil menahan tawa.

"Hih garing, nggak lucu," hardik Aira sebal.

"Nggak masalah, yang penting aku udah usaha."

"To the point, kepalaku pusing nih."

"Aira mana kacamatamu?," tanya Danil cemas.

After FarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang