Bagian 3

16 10 0
                                        

Bus ke Getas itu berangkat dari Jogja tepat pukul 08.15 pagi dan sekarang pukul 11.20 sudah sampai di Banjarharjo, Ngawi. Untuk sampai ke asrama kampus di Getas, mereka akan menempuh 14 km jalan masuk hutan. Perjalanan bisa lama karena jalan yang ada belum beraspal, ditambah lagi dengan cuaca di bulan Januari yang banyak hujan yang tentunya akan membuat jalan tanah yang ada kadang berubah menjadi jalanan lumpur.

Hilda melihat Ayu sedikit tegang ketika bus itu mulai meluncur masuk hutan. Di musim hujan, hamparan hutan jati di kanan kiri mereka tampak menghijau, rimbun dan gelap.

Hilda memegangi tangan Ayu lembut, "Kenapa?" bisiknya pelan.

Ayu menggeleng, tapi Hilda merasa sahabatnya itu sedang menutupi sesuatu. Ayu agak sensitif jika mereka memasuki 'tempat-tempat tertentu', seperti bisa mendeteksi keberadaan hal yang aneh-aneh dan dia akan memberitahu Hilda. Tapi kali ini Ayu diam saja. Hilda tersenyum menenangkan sahabatnya. Nanti pasti Ayu akan cerita, Hilda tinggal menunggu waktunya saja. Hilda selalu merasa tenang jika ada Ayu di sampingnya.

Perjalanan ke kampus Getas akhirnya selesai juga. Mereka sampai di kampus itu sebelum jam satu siang. Hilda dan Ayu baru kali ini melihat kampus Getas.

Kampus itu berada di tengah hutan, tapi ada kampung sederhana di sekitarnya. Bangunannya sederhana, namun tidak jelek, membentuk kompleks yang terdiri dari bangunan-bangunan rumah yang terpisah-pisah. Di bagian ujung depan, dekat tempat parkir yang sepertinya juga berfungsi sebagai lapangan untuk berkumpul, ada ruang pertemuan yang digunakan untuk kelas. Di sebelah baratnya ada bangunan joglo yang sepertinya digunakan untuk mushola, terlihat dari keran air yang berderet di sebelahnya. Kamar-kamar untuk mahasiswa cowok berderet di sebelah joglo, kamar nomor satu sampai nomor enam. Di sebelahnya lagi ada bangunan dapur dan ruang makan. Di sebelah utara, menghadap ke selatan, ada bangunan dua kamar, untuk mahasiswa cewek, kamar nomor tujuh dan delapan. Di sebelah timurnya ada bangunan yang menghadap ke barat, kamar nomor sembilan dan sepuluh. Terakhir ada bangunan untuk kantor, kamar-kamar co ass dan dosen, yang juga menghadap ke barat. Di tengah-tengah kompleks bangunan itu ada lapangan rumput dengan beberapa pohon besar di tengahnya.

Suasananya terasa eksotis dan mistis, mungkin bukan untuk Hilda saja, tapi juga untuk mahasiswa-mahasiswa yang sebagian besar berasal dari kota.

Sisy menarik Hilda yang terbengong-bengong ketika turun dari bus, "Ayo...," serunya.

Sisy merasa mereka harus buru-buru memilih kamar agar tidak kebagian kamar yang angker.

Mereka kebagian kamar nomor 8. Sebenarnya Sisy ingin di kamar nomor 9 atau 10, tapi mereka sudah keduluan yang lainnya. Kamar itu besar, di dalamnya berisi 3 buah tempat tidur tingkat dan satu kamar mandi dalam. Sebenarnya tempat tidurnya untuk ukuran single, tapi beberapa anak yang kurus bisa tidur berdua kalau mau. Ayu langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang dipilih Hilda. Sisy naik ke tempat tidur di atasnya.

Selain Ayu, Sisy dan Hilda, ada beberapa anak-anak lain di kamar itu; Vanya, Rahma, Adel dan Linda. Mereka sudah memilih tempat tidur masing-masing.

"Kita masih punya waktu sampai Magrib buat santai-santai. Mulai pembukaan nanti kita pasti bakal sibuk banget," ujar Sisy, nadanya menggerutu.

"Ntar malem baru pembukaan doang, khan?" sahut Linda.

"Jalani ajalah," jawab Hilda santai sambil membongkar beberapa isi tas carriernya.

Sisy mungkin terlalu banyak bertanya-tanya pada kakak kelas, dan kakak kelas cenderung menakut-nakuti. Jadi dia sudah stress duluan bahkan sebelum PU-nya dimulai.

"Hilda," Adel memanggilnya, "Mau ikut gak? Kita mau keliling-keliling kompleks sekitar kampus, sekalian cari makan siang. Katanya ada café lho deket-deket sini," ujar Vanya.

Rupanya, Vanya dan Adel sudah selesai menata barangnya dan sudah siap hendak keluar kamar lagi. Jatah makan mereka memang baru akan mulai disediakan Ibu kantin saat makan malam nanti.

"Cuman kalian berdua? Yang lain?" tanya Hilda.

Linda dan Rahma melambaikan tangannya dari atas tempat tidur mereka. Kedua gadis itu bilang bahwa mereka akan makan bekal roti yang mereka bawa dari Jogja saja. Sisy dan Ayu sudah tidak bersuara, mungkin sudah terbang ke alam mimpi.

"Oke deh, aku ikut!" seru Hilda.

Hilda sudah tahu untuk tidak berekspektasi terlalu banyak tentang segala hal di PU Getas itu. Bangunan dengan plang dari kayu bertuliskan Cafe itu hanya rumah sederhana seperti rumah-rumah kampung yang mereka lewati. Dan Café itu menjual...mie ayam!

Ketiga gadis itu bengong di depan bangunan warung mie ayam itu tapi kemudian makan dengan lahap juga akhirnya, masing-masing semangkuk mie ayam pangsit dan segelas besar es teh manis.

Mereka berjalan kembali ke kampus setelah kenyang. Vanya usul agar mereka jalan-jalan dulu memutari kampung untuk melihat-lihat.

Cukup jauh juga mereka berjalan. Kampung di sekitar kampus Getas itu tidak padat seperti kampung di kota, rumah-rumahnya masih jarang-jarang.

"Yuk, balik ke kampus," ujar Adel kecapekan.

Dia berhenti dan memegangi kedua lututnya yang terasa lemas.

"Capek?" tanya Hilda.

Hilda melihat sebuah rumah dengan halaman yang luas di dekat jalan. Ada sebuah bangku panjang dari kayu di bawah pohon di halaman rumah itu, "Yuk, kita duduk-duduk dulu disitu."

Adel mengangguk, mereka bertiga mampir ke rumah yang ditunjuk Hilda. Adel segera duduk di bangku itu, Vanya menemaninya. Hilda lebih tertarik melihat pohon agak besar di halaman itu. Pohon itu sedang berbunga, bunganya berwarna putih seukuran kelingking.

"Pohon kantil," ujar Hilda senang.

Segera saja gadis itu memetiki bunga-bunga yang masih kuncup di cabang yang rendah.

Vanya memperhatikan Hilda yang sedang asyik memenuhi kantong jaketnya dengan kuncup-kuncup bunga kantil. Keisengannya muncul.

Dijawilnya Adel, "Kita kerjain, yukk," bisiknya pelan.

"Hah?"

Sebelum gadis itu sempat menjawab, Vanya sudah menarik tangannya menjauh dari tempat itu, mereka mengendap-endap, meninggalkan Hilda yang masih asyik dengan kembang-kembang kantilnya.

Indigo Dua WajahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang