Bagian 4

16 10 0
                                        

Rizal memasuki kamar nomor 5 dengan kewaspadaan cukup tinggi. Praktek Umum belum lagi dimulai dan cowok itu sudah merasa kelelahan. Dari awal pembekalan PU beberapa waktu yang lalu terasa ada sesuatu yang membuatnya mesti bersikap waspada terus-menerus.

Diturunkannya tas carriernya dari bahunya dan diletakkannya di samping tempat tidur tingkat yang dipilihnya. Sesosok gadis berwajah dan berkulit sepucat mayat duduk di bagian atas tempat tidur sambil memperhatikannya. Kedua kakinya yang telanjang tanpa alas diayun-ayunkan dengan santai.

Rizal mendelik, memelototinya. Gadis itu mencoba tersenyum menggodanya. Rumor tentang sosok gadis Indo berbaju merah di kamar nomor 5 sudah sering didengar Rizal. Saat melihatnya menggodanya, Rizal bertekad tidak akan memberinya kesempatan sedikitpun.

'Pergi! Jangan ganggu aku!' hardik Rizal tanpa suara. Gadis itu melompat mundur dan menghilang.

Arif heran memperhatikan kakak kelasnya itu berdiri mematung dengan mata melotot ke arah pojokan kamar. Tidak ada yang aneh di pojokan kamar itu, mengapa Rizal harus terlihat tegang, pikirnya.

Ditepuknya cowok gondrong itu, "Wooii, bro!" serunya, "Kenapa?"

Rizal menoleh, "Gakpapa," jawabnya pada Arif yang memperhatikannya sambil nyengir kuda.

Rizal memperhatikan adik kelasnya itu sekilas. Tampaknya, Arif anak yang cukup serius. Mungkin nanti anak itu akan bisa diandalkannya jika terjadi sesuatu di PU Getas ini. Semoga saja tidak terjadi apa-apa, batin Rizal tidak yakin.

Beberapa anak lain yang menghuni kamar nomor 5 itu tampaknya adalah segerombolan anak iseng. Rizal sudah mendengar percakapan mereka di bus sepanjang perjalanan dari Jogja ke Getas tadi pagi. Serombongan anak itu; Yuda, Anto, Romi dan Yunan, mengobrol tentang mitos gadis berbaju merah di kamar nomor 5 dan keinginan mereka untuk membuktikan mitos itu. Bahkan salah seorang dari mereka sudah bersiap-siap 'memanggil' gadis berbaju merah itu dengan jaelangkung. Benar-benar serombongan anak-anak tolol dan iseng, pikir Rizal. Karena itulah Rizal merasa harus mengikuti mereka memilih kamar nomor 5.

Sungguh aneh jika ada orang yang ingin melihat penampakan, bahkan terobsesi pada hal itu. Rizal sudah sering melihat penampakan seumur hidupnya. Dia seorang indigo sejak lahir dan dia ingin sekali bisa menutup mata batinnya agar tidak perlu lagi melihat penampakan-penampakan aneh yang seringkali tidak hanya mengerikan, tapi juga menjijikan dan membuatnya ingin muntah.

Pemuda itu merebahkan tubuhnya di kasur. Anak-anak lain sudah memilih tempat tidurnya masing-masing. Mereka berenam di kamar itu. Keadaan sementara ini tampak cukup tenang. Anak-anak itu tidak tampak berulah, mungkin saja mereka masih capek sehabis menempuh perjalanan dari Jogja tadi pagi. Gadis berbaju merah itu tampaknya cukup takut pada Rizal, meski Rizal tidak yakin kalau makhluk itu tidak akan datang lagi untuk mengganggu yang lain.

Sepanjang yang Rizal ingat, pertama kali dia melihat 'penampakan' adalah saat berumur tiga tahun. Bisa jadi sebenarnya dia sudah melihatnya jauh sebelum itu, hanya saja keterbatasan memorinya sebagai anak kecil belum mampu merekamnya dengan baik. Penampakan yang pertama kali dilihatnya itu itu muncul sebagai sosok tinggi besar dengan wajah gelap dan telinga runcing keatas seperti kucing yang sering melambai-lambaikan tangan padanya dari balik jendela kamarnya. Kemudian Rizal mulai melihat orang-orang dengan bentuk-bentuk aneh yang bermacam-macam di pohon besar dekat rumahnya, di jalan-jalan atau di manapun dia berada.

Rizal juga kadang dapat melihat sosok-sosok yang mengikuti orang-orang lain di sekitarnya meski orang-orang yang diikuti itu sendiri kebanyakan tidak dapat melihat apa yang mengikutinya. Kakeknya dulu selalu diikuti sosok yang sama persis wajah dan penampilannya dengan beliau. Ibu kosnya, tante Rika yang masih muda dan cantik, selalu diikuti penampakan yang mirip dua ekor serigala putih yang selalu menyeringai memperlihatkan deretan giginya yang runcing-runcing. Pak Professor Marsudi, dekan di kampusnya selalu diikuti dua sosok berwajah mirip tokoh Prahasta yang mengiringinya di depan dan di belakangnya.

Meski sudah sering melihat penampakan, terkadang Rizal terkejut juga kalau pas ada yang mendadak muncul di dekatnya, apalagi kalau memiliki bentuk yang aneh atau mengerikan. Namun, pada umumnya penampakan-penampakan itu tidak mengganggunya, paling tidak secara langsung. Seperti dosen mata kuliah Anatomi Kayu di kampusnya yang selalu diikuti makhluk yang besar sekali, yang saking besarnya sampai menutupi layar proyektor di kelas. Akhirnya, Rizal tidak pernah bisa mencatat atau menyimak di mata kuliah Anatomi Kayu itu.

Ingatannya kemudian melayang pada gadis yang duduk di sebelahnya saat pembekalan PU dan saat di bus perjalanan dari Jogja ke Getas tadi pagi. Intuisinya mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi di PU Getas ini. Rizal menarik napas dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. 

Indigo Dua WajahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang